SUARA BANDUNG BARAT - Umumnya masyarakat menganggap bahwa laki-laki tidak mungkin menjadi korban pelecehan seksual.
Keyakinan tersebut lahir dari pemikiran patriarki yang selalu menempatkan perempuan pada kondisi yang dilemahkan.
dr. Haekal Anshari kemudian mengomentari hal ini sebagaimana yang terpampang dalam postingan instagramnya.
"Sistem sosial patriarki juga merugikan laki-laki karena privilese tsb lengkap dengan paradoksnya," ungkap dr. Haekal sebagaimana kami kutip pada Kamis (15/6/2023).
Paradoks tersebut misalnya standar untuk memenuhi standar ideal maskulinitas toksik seperti mengharuskan seorang pria menjadi sosok pribadi yang kuat dan mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri.
"Apabila keluar dari standar maskulinitas ini akan akan membuat laki-laki dipandang hina dan tidak sesuai dengan nilai yang dibuat oleh kebanyakan orang," papar dokter estetik tersebut.
Akibatnya muncul anggapan yang acapkali kita dengar bahwa laki-laki tidak boleh cengeng, tidak boleh menangis, jangan mau kalah dan sebagainya.
"Dalam konteks kekerasan seksual hal ini menjadi bumerang tersendiri bagi laki-laki yang menjadi korban," tambahnya.
Hal ini kemudian berdampak pada perlakuan korban terhadap laki-laki tidak sebagaimana respon kepada korban pelecehan seksual yang dialami perempuan.
dr. Haekal lantas membagikan beberapa dampak dari korban kekerasan seksual yang bukan hanya dapat dialami perempuan tetapi juga laki-laki, yakni:
1. Trauma seksual;
2. Perubahan perilaku; penyendiri; cemas;
3. penyakit psikomatik;
4. Luka fisik;
5. Depresi;
6. Keinginan melukai diri sendiri.
"Bisa saja jumlah laki-laki sebagai korban lebih banyak dibandingkan data yang ada," ungkap dr. Haekal.
Dapat disimpulkan, menurutnya sebab seorang laki-laki dilecehkan dan memutuskan untuk tidak bersuara lebih karena budaya patriarki yang ada.
Di mana budaya tersebut mengharuskan laki-laki untuk kuat dan menerima segala perlakuan yang bahkan telah mencedrai harga dirinya. (*)