SUARA BANDUNG BARAT - Setiap manusia yang diciptakan Tuhan memiliki perbedaan yang unik. Baik anak perempuan atau anak laki-laki, ada cara tersendiri dalam menghadapinya.
Pakar neuroparenting skills dr. Aisah Dahlan membeberkan cara menghadapi anak yang cenderung susah diatur. bandungbarat.suara.com melansir dari kanal YouTube Pecinta dr. Aisah Dahlan. CHt, Jumat (8/9/2023).
“Supaya tenang, kita harus mengenali bagaimana karakteristik anak laki-laki. Semakin remaja anak laki-laki akan semakin meningkat hormon testosteronnya,” papar wanita yang akrab dipanggil Bu Isah.
Hormon testosteron adalah hormon yang agresif, dominan dan egois. Sehingga, anak remaja laki-laki cenderung lebih galak dan sulit diatur.
Bahasa fisiknya pun bisa jadi bukan lagi sentuhan fisik tapi pelayanan.
Kunci menghadapi anak laki-laki adalah pantang memberi masukan, nasehat atau arahan pada anak yang lapar, haus dan ngantuk. Pada anak yang sudah akil baligh, harus izin meminta waktu dulu jika ingin berbicara serius.
“Kalau anak bilang lapar tapi lagi ngerjain tugas, mending kasih makan dulu. Ibu-ibu kan tahan lapar, anak laki-laki kalau dia bilang lapar itu artinya sudah menahan minimal setengah jam rasa laparnya,” jelasnya.
Itu yang membuat anak laki-laki suka kesal dan denial terhadap ibunya.
Sementara, untuk anak perempuan dengarkan dia bicara sambil menatap wajahnya.
Baca Juga: Jelang MotoGP San Marino 2023: Francesco Bagnaia Lolos Tes Medis
“Untuk anak perempuan yang sudah remaja, pantang menegur, menasehati atau memberi masukan pada saat mau menstruasi, hari pertama hingga hari kelima,” katanya.
Jika ditegur pada masa menstruasi remaja perempuan akan denial mulai dari batang otaknya. Nasihat, masukan dan teguran dapat diberikan pada masa subur.
“Banyak anak perempuan yang kesel dan jengkel pasa ibunya. Saya ngerti khawatirnya ibu terhadap anak perempuan yang sudah baligh, tapi jika dinasehati saat siklus menstruasinya itu kurang pas bunda,” tambahnya.
Orang tua khusunya ibu, diharapkan banyak tersenyum dan tenang kepada anak. Serta sampaikan apa yang diinginkan, bukan menyampaikan apa yang tidak diinginkan.
“Tanyakan pada diri sendiri apa yang mau disampaikan, baik kepada anak laki-laki ataupun perempuan,” pungkasnya.(*)