SUARABANDUNGBARAT - Dokter Saddam Ismail, dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube-nya, membahas soal apakah merokok dapat memengaruhi ukuran "Mr P".
Menurut Dokter Saddam Ismail, merokok adalah kebiasaan yang dapat membawa banyak risiko kesehatan, termasuk potensi gangguan ereksi.
Nikotin dalam rokok dapat mempengaruhi pembuluh darah dalam tubuh, termasuk pembuluh darah yang memasok darah ke penis. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan ereksi atau disfungsi ereksi pada pria yang merokok.
Dalam penjelasannya, Dokter Saddam Ismail mengatakan bahwa merokok tidak akan secara langsung membuat penis menjadi lebih pendek.
Panjang penis biasanya sudah ditentukan oleh faktor genetik dan berkembang selama masa puber, umumnya pada usia sekitar 16 tahun.
Namun, hubungan merokok dengan panjang penis muncul saat penis sedang ereksi.
Ketika seorang pria merokok, zat-zat kimia dalam rokok, terutama nikotin, dapat merusak pembuluh darah dan mengurangi elastisitas.
Pembuluh darah yang sehat dan elastis adalah kunci untuk ereksi yang kuat dan tahan lama.
Ketika pembuluh darah menuju penis menjadi kurang sehat, aliran darah ke penis dapat terganggu, mengakibatkan ereksi yang kurang optimal.
Meskipun penis mungkin tetap memiliki ukuran yang sama saat tidak sedang ereksi, ereksi mungkin menjadi kurang kuat, kurang besar, atau bahkan lebih pendek akibat gangguan aliran darah akibat merokok.
Namun, hal ini dapat membaik jika seseorang berhenti merokok.
Dokter Saddam Ismail juga mengingatkan bahwa merokok dapat memengaruhi kualitas dan jumlah sperma.
Sperma yang sehat dan berkualitas adalah faktor penting dalam kesuburan pria. Merokok dapat mengurangi kualitas sperma dan jumlahnya, sehingga dapat memengaruhi kemampuan untuk membuahi sel telur.(*)