Rumah adat Lamin menjadi salah satu rumah adat yang paling populer di Kaltim.
Tidak hanya fungsi dan perannya sebagai rumah tinggal bersama secara berkelompok, rumah Lamin ini juga menyimpan makna arsitekturnya sendiri.
Rumah adat Lamin biasanya digunakan sebagai tempat untuk melakukan upacara adat atau ritual tertentu.
Untuk itu, arsitektur dari rumah ini juga mengandung makna yang cukup dalam dari suku Dayak.
Dikutip dari beberapa sumber, arsitektur rumah adat Lamin dipengaruhi oleh kebudayaan suku Dayak dan juga kondisi geografis Kalimantan Timur, yakni tropis lembab.
Rumah ini dibangun dengan baik untuk mengantisipasi gangguan dari kondisi iklim dan lingkungan di Kalimantan Timur.
Untuk itu, penggunaan bahan-bahan rumah ini cukup ramah lingkungan karena berasal dari hasil hutan.
Rumah adat Lamin merupakan rumah panggung yang terdapat tiang-tiang penyangga di bawahnya yang keseluruhan bangunannya dibuat dari kayu.
Keunikannya, kayu yang dipakai adalah kayu ulin karena terkenal sebagai bahan kayu yang tidak mudah lapuk dan tahan lama.
Baca Juga: 5 Objek Wisata Alam Populer di Kaltim, Ada Pantai hingga Hutan Mangrove
Sebab, kayu ulin ini jika terkena air justru akan menjadi lebih kuat lagi.
Sementara, kayu peyangga di rumah ini memiliki ketinggian sekira tiga meter sehingga ada ruang berupa kolong bawah rumah yang cukup besar.
Jumlah tiang-tiang penyangga berbentuk silinder di bawah rumah dan sangat banyak ini menjadikan rumah Lamin unik.
Sebab, ada ukiran etnik pada kayu penyangga di setiap bangunannya.
Sehingga beragam ukiran itu membuat rumah Lamin menjadi mewah dengan banyaknya motif ukiran berupa manusia, hewan, tumbuhan dan objek lainnya.
Ukiran etnik pada setiap rumah dipercaya oleh masyarakat setempat memiliki makna tersendiri untuk menjaga seluruh penghuni rumah dari ancaman ilmu hitam yang bisa menyerang mereka kapan saja.