Kerajaan Sadurengas yang kemudian dinamakan Kerajaan Paser atau Kasultanan Pasir berdiri pada abad ke XVI atau 1516 Masehi.
Kerajaan tersebut dipimpin pertama kali oleh seorang wanita (Ratu I) yang dinamakan
Putri didalam Petung.
Wilayah Kerajaan Sadurengas meliputi Kabupaten Pasir yang ada sekarang ditambah Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Provinsi Kalimatan Selatan.
Pada tahun 1523 Masehi, Putri didalam Petung menikah dengan Abu Mansyur Indra Jaya seorang pimpinan ekspedisi agama Islam dari Kesultanan Demak.
Kemudian Putri Petung dan Abu Mansyur Indra Jaya memiliki 4 orang anak yaitu, Aji Mas Pati Indra, Aji Putri Mitir, Aji Mas Anom
Indra dan Aji Putri Ratna.
Setelah itu, Kerajaan Pasir dipimpin sebanyak 18 kali kepemimpinan dari pertama yakni Pemerintahan Aji Mas Anom Indra bin Aji Mas Pati Indra pada 1607-1644 M.
Dan sultan terakhir dalam Pemerintahan Pangeran Mangku Jaya Kesuma pada 1900-1906 M yang diberi gelar Sultan Ibrahim Khaliluddin.
Masa perjuangan rakyat Pasir melawan Colonial Belanda terjadi di pemerintahan Sultan Ibrahim Khaliluddin yakni pada 1906-1918 Masehi.
Sampai dengan 1959 Masehi, wilayah Pasir berstatus kewedanaan didalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan.
Baca Juga: Siap Hadapi Tim Malaysia Terengganu FC, Bali United Tekankan Pentingnya Suporter Patuhi Aturan AFC
Karena orientasi wilayahnya bersifat Kesultanan, alhasil pemerintahan yang dipimpin Sultan Ibrahim Khaliluddin ini berakhir jatuh ke tangan Penjajah Belanda.
Setelah rentetan kejadian sejarah ini, tentu Kasultanan Pasir meninggalkan sebuah bukti peninggalan yang empiris.
Beragam bukti ini tersimpan dalam Museum Sadurangas yang berada di Kecamatan Paser Belengkong dan menjadi ikon dari Kabupaten Paser.