Sempitnya Peluang Ekonomi RI, Saat Gelar Sarjana 'Keok' oleh Lulusan SD

Mohammad Fadil Djailani

Kamis, 05 Februari 2026 | 19:24 WIB
Sempitnya Peluang Ekonomi RI, Saat Gelar Sarjana 'Keok' oleh Lulusan SD
Di tengah ambisi menjadi negara maju, struktur ketenagakerjaan nasional justru menunjukkan potret yang buram. Desain Rochmat Haryadi-Suara.com
baca 10 detik
  • Sarjana sulit kerja, 34,63% pasar kerja RI masih didominasi lulusan SD ke bawah.
  • Sektor informal kuasai 57,70% lapangan kerja, kualitas ekonomi RI jadi sorotan.
  • WEF peringatkan minimnya peluang ekonomi jadi risiko terbesar Indonesia di 2026.

Suara.com - Indonesia tengah berada di persimpangan jalan yang mengkhawatirkan. Di tengah ambisi menjadi negara maju, struktur ketenagakerjaan nasional justru menunjukkan potret yang buram.

Fenomena lack of economic opportunity atau sempitnya kesempatan ekonomi mulai dirasakan nyata, dimana lulusan perguruan tinggi kian sulit terserap, sementara pasar kerja justru didominasi oleh mereka yang berpendidikan rendah.

Masalahnya bukan sekadar minimnya lowongan kerja, melainkan kegagalan sistem dalam menyerap tenaga kerja secara berkualitas.

Pendidikan Tinggi Tak Jamin Kerja

Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) soal keadaan ketenagakerjaan Indonesia per November 2025, potret buram terlihat pada kualitas pendidikan penduduk bekerja. Mayoritas pekerja di tanah air ternyata masih didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah.

"Pada November 2025, sebagian besar penduduk bekerja berpendidikan SD ke bawah yaitu sebesar 34,63 persen. Sementara itu, penduduk bekerja berpendidikan Diploma IV hingga S3 justru hanya mencapai 10,81 persen," tulis laporan tersebut, dikutip Kamis (5/2/2026).

Padahal, tingkat pendidikan seharusnya menjadi indikator utama kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Namun, data menunjukkan tren penurunan serapan pada hampir semua jenjang pendidikan tinggi jika dibandingkan dengan Agustus 2025.

Penurunan serapan kerja terjadi pada lulusan SMA (0,19% poin), SD ke bawah (0,12% poin), hingga lulusan sarjana dan diploma (0,03% dan 0,02% poin). Sebaliknya, kenaikan tipis justru terlihat pada lulusan SMP (0,19% poin) dan SMK (0,17% poin).

Mengapa Sektor Informal Begitu Dominan?

baca juga

Kondisi ini diperparah dengan komposisi pasar kerja yang masih didominasi sektor informal. Dari total penduduk bekerja, sebanyak 85,35 juta orang (57,70%) mengadu nasib di sektor informal. Sementara mereka yang beruntung masuk ke sektor formal hanya sebanyak 62,57 juta orang (42,30%).

Dominasi sektor informal ini menandakan bahwa mayoritas warga Indonesia bekerja tanpa jaminan sosial, pendapatan yang tidak tetap, dan perlindungan hukum yang minim. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi kantong penyerap tenaga kerja terbesar (27,99%), disusul Perdagangan (18,67%) dan Industri Pengolahan (13,86%) berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025.

Kondisi ini menjelaskan mengapa lulusan SD lebih mudah "terserap". Sektor-sektor tersebut umumnya tidak memerlukan kualifikasi akademik tinggi, melainkan mengandalkan tenaga fisik atau keterampilan praktis sederhana. Sebaliknya, sektor industri bernilai tambah tinggi yang seharusnya diisi para sarjana justru tumbuh melambat.

Laporan BPS ini pun selaras dengan World Economic Forum (WEF) yang memperingatkan pengangguran atau ketiadaan peluang ekonomi sebagai risiko terbesar bagi perekonomian Indonesia pada 2026-2028.

Berdasarkan Executive Opinion Survey 2025, para pemimpin bisnis menilai kurangnya peluang ekonomi atau pengangguran (lack of economic opportunity or unemployment) menjadi ancaman utama ekonomi nasional pada periode 2026-2028.

Dalam laporan itu, Indonesia tercatat sebagai satu dari 27 negara yang menempatkan risiko ini di posisi teratas. WEF menilai melemahnya prospek kerja tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga berpotensi memicu masalah sosial dan politik.

"Kurangnya peluang ekonomi atau pengangguran dapat mendorong ekstrimisme, menurunkan kepercayaan terhadap institusi, serta memperparah dampak misinformasi dan disinformasi," tulis WEF dalam laporannya.

Menagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja

Sempitnya kesempatan ekonomi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah untuk memastikan transisi menuju ekonomi bernilai tambah tinggi tidak sekadar jargon, melainkan mampu menyerap angkatan kerja terdidik secara maksimal.

Janji pemerintah membuka 19 juta lapangan kerja yang selalu digaungkan hingga kini masih dinanti. Pasalnya, data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat penyerapan tenaga kerja dari realisasi investasi sepanjang 2025 hanya mampu menyerap tenaga kerja 2,71 juta dari investasi sebesar Rp1.931 triliun.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan target tersebut masih dalam proses bertahap, serta menunjukkan tren positif dari berbagai inisiatif ekonomi yang telah dijalankan.

"Kalau 19 juta itu dibagi lima tahun, nanti kita lihat dan saya optimis, Insyaallah," kata dia.

BPS sendiri mencatat angka pengangguran di Indonesia kini sebanyak 7,35 juta orang per November 2025. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan data BPS pada Agustus 2025 lalu.

Di tengah ambisi menjadi negara maju, struktur ketenagakerjaan nasional justru menunjukkan potret yang buram. Desain Rochmat Haryadi-Suara.com
Di tengah ambisi menjadi negara maju, struktur ketenagakerjaan nasional justru menunjukkan potret yang buram. Desain Rochmat Haryadi-Suara.com

Angin Segar di Tengah Lesu

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, penurunan ini seiring bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja.

"Selama periode Agustus 2025 sampai dengan November 2025, terdapat 7,35 juta orang menganggur, di mana angka ini setara dengan Tingkat Pengangguran Terbuka yang turun menjadi sebesar 4,74 persen," kata Amalia.

Ia menambahkan, penurunan TPT terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan. Tren penurunan juga terjadi di wilayah perkotaan dan perdesaan.

"Penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka dibandingkan dengan Agustus 2025 terjadi baik pada penduduk laki-laki maupun perempuan dan juga di wilayah perkotaan maupun di pedesaan," ucapnya.

Bersamaan dengan itu, jumlah angkatan kerja Indonesia juga mengalami peningkatan. Hingga November 2025, jumlah angkatan kerja tercatat mencapai 155,27 juta orang. Dari jumlah tersebut, penduduk yang bekerja tercatat sebanyak 147,91 juta orang. Jumlah ini bertambah signifikan dibandingkan Agustus 2025.

Peningkatan jumlah penduduk bekerja turut mendorong naiknya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). BPS mencatat TPAK pada November 2025 mencapai 70,95 persen. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja laki-laki mencapai 84,83 persen, sementara Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan mencapai 56,91 persen.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Cuma 5,11 Persen, Purbaya Akui Tak Sesuai Janji

Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Cuma 5,11 Persen, Purbaya Akui Tak Sesuai Janji

Bisnis | Kamis, 05 Februari 2026 | 18:19 WIB

Dear Pak Prabowo! 23 Juta Rakyat RI Hidup Miskin, Mayoritas di Pulau Jawa

Dear Pak Prabowo! 23 Juta Rakyat RI Hidup Miskin, Mayoritas di Pulau Jawa

Bisnis | Kamis, 05 Februari 2026 | 17:06 WIB

BPS Ungkap Dampak Bencana Sumatera pada Perekonomian Indonesia, Begini Penjelasannya

BPS Ungkap Dampak Bencana Sumatera pada Perekonomian Indonesia, Begini Penjelasannya

Bisnis | Kamis, 05 Februari 2026 | 16:21 WIB

Terkini

Jelajah IDW 2026 Sambil Bikin Konten, Pengunjung Berpeluang Bawa Pulang Hadiah

Jelajah IDW 2026 Sambil Bikin Konten, Pengunjung Berpeluang Bawa Pulang Hadiah

Jakarta | Rabu, 23 September 2026 | 23:52 WIB

Tak Berhenti di Pelatihan, Dosen IKADO Dampingi Warga Simo Gunung Kembangkan Bisnis Digital

Tak Berhenti di Pelatihan, Dosen IKADO Dampingi Warga Simo Gunung Kembangkan Bisnis Digital

Jatim | Rabu, 23 September 2026 | 23:46 WIB

Harris Arthur Hedar Lantik 120 Pengurus Peradi Profesional di Sultra, Titip Pesan Ini

Harris Arthur Hedar Lantik 120 Pengurus Peradi Profesional di Sultra, Titip Pesan Ini

Sulsel | Rabu, 23 September 2026 | 23:41 WIB

Revisi UU Keuangan Negara Momentum Memecah Ambiguitas Pengertian Kerugian Negara

Revisi UU Keuangan Negara Momentum Memecah Ambiguitas Pengertian Kerugian Negara

Jabar | Rabu, 23 September 2026 | 23:35 WIB

Ombudsman Temukan Miras di 'Kamar Khusus' Lapas Cibinong, Diduga Dihuni Narapidana Kelas Kakap

Ombudsman Temukan Miras di 'Kamar Khusus' Lapas Cibinong, Diduga Dihuni Narapidana Kelas Kakap

Jabar | Rabu, 23 September 2026 | 23:21 WIB

Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban

Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban

Jawa Tengah | Rabu, 23 September 2026 | 23:05 WIB

Cari Hotel untuk Liburan? Ini Empat Pilihan dengan Pengalaman yang Berbeda

Cari Hotel untuk Liburan? Ini Empat Pilihan dengan Pengalaman yang Berbeda

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 22:47 WIB

Toyota Indonesia Akan Luncurkan Mobil Baru Tahun Ini

Toyota Indonesia Akan Luncurkan Mobil Baru Tahun Ini

Otomotif | Rabu, 23 September 2026 | 22:44 WIB

Bawaslu Akui Tak Pernah Dapat Laporan Soal Pendidikan Gibran pada Pilpres 2024

Bawaslu Akui Tak Pernah Dapat Laporan Soal Pendidikan Gibran pada Pilpres 2024

News | Rabu, 23 September 2026 | 22:27 WIB

Dari Goma hingga Menchi Katsu, Cita Rasa Jepang Makin Akrab dengan Selera Indonesia

Dari Goma hingga Menchi Katsu, Cita Rasa Jepang Makin Akrab dengan Selera Indonesia

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 22:26 WIB

×