Memadukan Kearifan Lokal dan Go Green dalam Bisnis Nasi Liboet

Doddy Rosadi

Senin, 08 September 2014 | 12:00 WIB
Memadukan Kearifan Lokal dan Go Green dalam Bisnis Nasi Liboet
Nasi liboet. (dok pribadi)

Suara.com - Tiga belas tahun menjadi wartawan di salah satu media online di Jakarta, Eko Hendrawan (38 tahun) akhirnya memutuskan untuk membuka usaha sendiri.

Eko meninggalkan pekerjaannya sebagai wartawan pada April 2014. Dia memutuskan untuk membantu bisnis sang istri yang tinggal di Bandung yaitu menjual nasi liwet.

“Saya baru sadar ternyata saya itu punya bakat dagang. Sejak SD, saya sudah membantu ibu saya jualan kacang, makanya saya sering dipanggil Eko kacang. Jadi saya mutusin untuk berhenti bekerja dan membuka usaha sendiri,” katanya.

Usaha nasi liwet yang dijalankan Eko bersama sang istri, Tuti diberi nama nasi liboet. Dia memilih nama itu karena unik dan membuat orang ingin bertanya. Liboet sendiri sebenarnya singkatan dari liwet bunda Tuti.

Resep nasi liwetnya ini didapat dari tante istrinya yang jago membuat nasi liwet. Ketika itu, Eko dan sang istri mengajak tantenya itu untuk membuka usaha nasi liwet. Namun, tantenya itu tidak mau dengan alasan umurnya sudah tua.

“Akhirnya istri saya minta diajarin untuk bikin nasi liwet dan hanya dalam waktu satu hari istri saya bisa membuat nasi liwet sendiri,” jelasnya.

Eko mengaku tidak mengeluarkan modal saat pertama kali memulai bisnis nasi liwetnya ini. Semua bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan nasi liwet diambil dari warung di depan rumah dengan cara “ngutang.” Ketika pemesan nasi liwet sudah mengambil pesanannya, baru utang itu dibayar.

“Jadi, kalau ada yang tanya berapa modal awal usaha ini, saya sih bilangnya gak ada. Modal awalnya hanya keberanian,” kata Eko sambil tertawa.

Perbedaan nasi liboet dengan nasi liwet lainnya adalah dari bahan dan juga cara penyajian. Nasi liboet menggunakan mentega dan tidak memakai santan sehingga lebih gurih. Bumbu yang dipakai juga bumbu tradisional.

Selain itu, nasi liboet disajikan dengan menggunakan citel atau tempat makan yang dilapisi kain batik. Citel terbuat dari alumunium dengan alasan agar ramah lingkungan. Di atas nasi liboet ditabur petai dan ikan jambal.

“Kenapa citelnya dilapisi kain batik, karena batik itu kan budaya Indonesia jadi saya ingin menggabungkan kearifan lokal yaitu bumbu tradisional dengan budaya lokal yaitu batik dalam menyajikan nasi liboet. Selain itu, saya juga memasukkan unsur ramah lingkungan yaitu menggunakan alas daun sebagai pelapis wadah nasi liboet. Sehingga tidak perlu lagi piring itu dicuci dengan air,” jelasnya.

Melalui promosi dari mulut ke mulut, nasi liboet buatan Eko dan sang istri menjadi buah bibir. Semakin banyak konsumen yang ingin menikmati nasi liboet buatan mereka. Berbeda dengan nasi liwet lainnya, pemesanan nasi liboet ini minimal untuk 10 porsi.

“Kenapa 10 porsi, karena kami memakai konsep ngabotram yaitu budaya makan bersama yang sering dilakukan di sawah di mana setiap orang bawa lauk masing-masing lalu makan bersama-sama,” katanya.

Eko hanya menerima pesanan antar alias tidak bisa makan di tempat. Karena, mereka memang belum mempunyai tempat sendiri. Pemesanan harus dilakukan satu hari sebelumnya. Makin banyaknya pesanan membuat Eko dan sang istri sudah mulai merekrut empat karyawan.

Eko menggunakan media sosial seperti Facebook dan Twitter untuk mempromosikan nasi liboetnya. Namun, diakuinya, yang paling efektif adalah promosi dari mulut ke mulut. Seiring dengan perjalanan waktu, omset nasi liboetnya terus meningkat dari hari ke hari.

Juli lalu, omsetnya mencapain15 jutaan per bulan dan pada Agustus naik pesat menjadi 25 jutaan per bulan.

“Alhamdulillah, sejak saya meluncurkan program nasi liboet berbagai sedekah, omset terus naik. Jadi dengan program nasi liboet berbagi sedekah itu, setiap keuntungan yang saya terima 2,5 persennya akan saya sedekahkan. Program itu baru diluncurkan bulan puasa yang lalu dan Alhamdulillah pesanan makin banyak,” ujarnya.

Ketika usaha nasi liboetnya mulai dikenal banyak orang, Eko sempat bertekad untuk membuka rumah makan sebagai etalase untuk bisnisnya itu. Namun, setelah berkonsultasi dengan sejumlah orang, Eko disarankan untuk tidak terburu-buru untuk membuka rumah makan.

“Mereka bilang, bisnis yang saya lakukan ini unik dan sayang kalau buru-buru buka rumah makan, karena perlu modal yang gede. Jadi, saya disarankan untuk meneruskan usaha ini melalui delivery order dan kalau sudah mempunyai modal yang cukup baru membuka rumah makan sendiri,” ungkapnya.

Harga nasi liboet relatif terjangkau yaitu Rp12.500-Rp32.500.  Porsi termahal dilengkapi empal dan tembe bacam plus lalapan. Eko juga melayani pesanan dari luar Jakarta dengan pemesanan minimal 100 porsi. Selain ingin membuka rumah makan sendiri, Eko juga masih punya keinginan lainnya.

“Saya ingin membuat franchise untuk nasi liboet ini. Tetapi sekarang ilmu saya belum cukup makanya saya harus banyak belajar dulu. Saya juga rencananya akan mempatenkan nama nasi liboet ini ke Kemenhukham,” pungkasnya.

Bagi anda yang tertarik untuk merasakan nasi liboet, bisa memesan lewat nomor telepon 085222272075 atau di akun twitter @nasiliboet76 dan bisa juga lewat surat elektronik ke alamat [email protected].

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Cerita Inspiratif: Desa Sungai Rasau Bangun Kemandirian dari Potensi Alam

Cerita Inspiratif: Desa Sungai Rasau Bangun Kemandirian dari Potensi Alam

Video | Selasa, 29 September 2026 | 19:00 WIB

Rajin Tarawih Selama Ramadan, Cerita 10 Warga Akhirnya Berkesempatan Umrah ke Tanah Suci

Rajin Tarawih Selama Ramadan, Cerita 10 Warga Akhirnya Berkesempatan Umrah ke Tanah Suci

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 22:34 WIB

Akun Instagram Densu Dipenuhi Curhat Penonton "Baby Udon": Abang Bikin Kami Mau Berjuang Lagi

Akun Instagram Densu Dipenuhi Curhat Penonton "Baby Udon": Abang Bikin Kami Mau Berjuang Lagi

Entertainment | Jum'at, 18 September 2026 | 10:49 WIB

Berhenti Mengejar Jadi Ibu Sempurna! Buku Ini Mengajarkan Hal Lebih Penting

Berhenti Mengejar Jadi Ibu Sempurna! Buku Ini Mengajarkan Hal Lebih Penting

Your Say | Rabu, 02 September 2026 | 18:15 WIB

Dari Titik Terendah hingga Dipercaya Kelola Uang Rp 3 Miliar, Inspirasi dari Jafar Tri Maulana

Dari Titik Terendah hingga Dipercaya Kelola Uang Rp 3 Miliar, Inspirasi dari Jafar Tri Maulana

Lifestyle | Jum'at, 31 Juli 2026 | 17:05 WIB

Tak Sekadar BBM dan Listrik, Kisah Inspiratif di Balik Distribusi Energi

Tak Sekadar BBM dan Listrik, Kisah Inspiratif di Balik Distribusi Energi

Lifestyle | Kamis, 30 Juli 2026 | 14:21 WIB

Siswi Indonesia Raih Beasiswa Jadi Delegasi Simulasi Sidang PBB Internasional

Siswi Indonesia Raih Beasiswa Jadi Delegasi Simulasi Sidang PBB Internasional

Lifestyle | Kamis, 23 Juli 2026 | 21:40 WIB

Awalnya Jualan Burger, Kisah Insaf Putra Menjemput Mimpi di YouTube

Awalnya Jualan Burger, Kisah Insaf Putra Menjemput Mimpi di YouTube

Lifestyle | Sabtu, 18 Juli 2026 | 01:30 WIB

Perjalanan Irwansyah Damanik, dari Pedagang Pasar Malam ke Bintang Warintil

Perjalanan Irwansyah Damanik, dari Pedagang Pasar Malam ke Bintang Warintil

Lifestyle | Sabtu, 18 Juli 2026 | 23:01 WIB

Ulasan Sang Alkemis: Kisah Inspiratif yang Sarat Pesan Kehidupan

Ulasan Sang Alkemis: Kisah Inspiratif yang Sarat Pesan Kehidupan

Your Say | Jum'at, 17 Juli 2026 | 16:30 WIB

Terkini

Salep Pure Paw Paw untuk Apa? Intip 5 Varian dan Manfaatnya, Bukan Cuma untuk Bibir

Salep Pure Paw Paw untuk Apa? Intip 5 Varian dan Manfaatnya, Bukan Cuma untuk Bibir

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 07:19 WIB

Mengintip Redmi Note 17 Pro Max 5G: Bawa Baterai Jumbo, 100W HyperCharge, dan Bodi Tangguh

Mengintip Redmi Note 17 Pro Max 5G: Bawa Baterai Jumbo, 100W HyperCharge, dan Bodi Tangguh

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Proposal Cinta di Bawah Proyek Mangkrak dan Halusinasi Negara

Proposal Cinta di Bawah Proyek Mangkrak dan Halusinasi Negara

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 06:31 WIB

Ajak Relasi Gabung BRI Prioritas, Nikmati Reward Eksklusif dari BRI!

Ajak Relasi Gabung BRI Prioritas, Nikmati Reward Eksklusif dari BRI!

Bri | Minggu, 04 Oktober 2026 | 06:05 WIB

Dede Sunandar Tumbang Tak Sadarkan Diri Usai Dihantam Vicky Prasetyo

Dede Sunandar Tumbang Tak Sadarkan Diri Usai Dihantam Vicky Prasetyo

Entertainment | Minggu, 04 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Tebarkan Energi Positif, Grup Vokal Anak DayDrm Ajak Si Kecil Berani Bermimpi Lewat Lagu 'Shine!'

Tebarkan Energi Positif, Grup Vokal Anak DayDrm Ajak Si Kecil Berani Bermimpi Lewat Lagu 'Shine!'

Entertainment | Minggu, 04 Oktober 2026 | 05:55 WIB

Raih Gelar di Olimpiade Catur 2026, Laysa Latifah Dapat Bonus Rp50 Juta dari Percasi Jakarta

Raih Gelar di Olimpiade Catur 2026, Laysa Latifah Dapat Bonus Rp50 Juta dari Percasi Jakarta

Sport | Minggu, 04 Oktober 2026 | 03:43 WIB

Pajak Marketplace Mulai Berlaku, Harga Barang Bisa Naik? Ini Kata idEA

Pajak Marketplace Mulai Berlaku, Harga Barang Bisa Naik? Ini Kata idEA

Bisnis | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:25 WIB

Dari Gambut Kalimantan ke Pasar Modern: Mengubah Rumput Purun Jadi Napas Baru Perajin Lokal

Dari Gambut Kalimantan ke Pasar Modern: Mengubah Rumput Purun Jadi Napas Baru Perajin Lokal

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:09 WIB

F1 Sepang, Transportasi Jadi Masalah: Antrean Bus Bak Film Zombie, Penonton Jalan Kaki 9 Km

F1 Sepang, Transportasi Jadi Masalah: Antrean Bus Bak Film Zombie, Penonton Jalan Kaki 9 Km

News | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:05 WIB

×