Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.373,849
LQ45 633,840
Srikehati 307,576
JII 383,471
USD/IDR 17.871

Keterpurukan Ekonomi Cina Jadi Perhatian Indonesia

Ardi Mandiri

Jum'at, 17 Juli 2015 | 04:18 WIB
Keterpurukan Ekonomi Cina Jadi Perhatian Indonesia
Presiden Joko Widodo didampingi Wapres Jusuf Kalla (Antara)

Suara.com - Perekonomian Cina kini menjadi perhatian dunia, termasuk Indonesia, karena perekonomian nomor dua dunia itu tengah mengalami pelemahan pertumbuhan ekonomi.

Indonesia berkepentingan dengan kondisi di Cina tersebut karena negara itu merupakan mitra utama perdagangan nasional.

Bank Pembangunan Asia (ADB), Kamis (16/7/2015), memangkas perkiraan pertumbuhan untuk Cina dan negara berkembang di Asia tahun ini serta berikutnya, karena pelemahan ekonomi negara tersebut.

Sementara Bank Dunia pada awal Juli mendesak Cina untuk mempercepat reformasi sektor keuangannya yang didominasi negara. Bank itu memperingatkan bahwa kegagalan dalam mengatasi masalah ini bisa mengakhiri "tiga dekade kinerja bintang" bagi perekonomian terbesar kedua dunia itu.

Penurunan harga saham Cina pada awal Juli cukup mengejutkan. Harga-harga saham di Cina terus anjlok pada Rabu (8/7/2015).

Indeks Shanghai Composite turun hampir 7 persen dan indeks harga saham Shenzhen turun 4 persen. Hal itu merupakan lanjutan penurunan yang telah melenyapkan 30 persen nilai pasar sejak pertengahan Juni.

Untuk melindungi diri dari penjualan besar-besaran, ratusan perusahaan Cina mengajukan penghentian jual beli sahamnya. Secara keseluruhan, lebih dari 1.300 perusahaan di Cina daratan, atau sedikitnya 40 persen dari pasar, telah menghentikan jual beli saham.

Biro Statistik Nasional (NBS) mengungkapkan bahwa ekonomi Cina membukukan pertumbuhan tujuh persen tahun ke tahun pada kuartal kedua 2015, tidak berubah dari tujuh persen pada kuartal pertama.

Tingkat pertumbuhan terbukti lebih optimistis daripada perkiraan pasar rata-rata 6,9 persen untuk kuartal kedua, karena otoritas mengutip "tanda-tanda positif" terbaru dalam perekonomian.

Pada semester pertama tahun ini, produk domestik bruto (PDB) mencapai 29,7 triliun yuan (4,9 triliun dolar AS), naik tujuh persen tahun ke tahun, menurut data NBS.

Perekonomian nasional telah tinggal "di kisaran yang tepat" di paruh pertama karena indikator-indikator ekonomi utama berangsur-angsur pulih, menunjukkan stabilisasi dan perbaikan.

Selama paruh pertama, output industri tumbuh 6,3 persen tahun ke tahun dan investasi aset tetap naik 11,4 persen. Investasi properti tumbuh 4,6 persen tahun ke tahun, sementara penjualan ritel barang konsumsi naik 10,4 persen.

Perkuat ekonomi Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, jatuhnya saham Cina cukup berdampak terhadap ekonomi Indonesia namun perlu dijaga dengan memperkuat ekonomi nasional.

Agar ekonomi Indonesia tidak ikut jatuh, menurut Wapres, harus menjaga ekonomi dalam negeri, memperkuat ekonomi nasional agar perusahaan-perusahaan dalam negeri berjalan dengan baik.

"Ya menjaga saja, karena imbasnya tentu ada, pengaruhnya itu ialah perusahaan-perusahaan Cina itu ekspansinya pasti menurun," tambah Wapres.

Sementara Bank Indonesia (BI) menyatakan pihaknya mewaspadai dampak dari penurunan harga saham di bursa Cina terhadap Indonesia karena negara tersebut merupakan negara pendorong pertumbuhan ekonomi dunia dan merupakan salah satu mitra utama perdagangan Indonesia.

"Kita harus antisipasi karena Cina jadi pusat pertumbuhan ekonomi regional dan dunia. Kalau koreksinya tajam itu bisa ada dampak dan harus diantisipasi karena ada risiko interconnected antara negara," kata Gubernur BI Agus DW Martowardojo.

Agus mengatakan, pertumbuhan pasar modal di Cina sangat mengagumkan dan bisa dikatakan tumbuhnya sudah sangat tinggi sehingga apabila tergerus sampai 30 persen sejak 12 Juni 2015 lalu, jika dibandingkan pertumbuhan selama setahun terakhir, relatif akan masih tinggi.

Namun, lanjut Agus, yang perlu diperhatikan hal tersebut akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi Cina itu sendiri karena akan berpengaruh besar terhadap Indonesia dan dunia seperti yang ditunjukkan dengan melemahnya harga komoditas dunia karena menurunnya permintaan dari Cina.

Agus sendiri masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih baik pada semester dua mendatang, namun kondisi ekonomi yang terjadi di Tiongkok perlu diperhatikan agar lebih berhati-hati.

"Studi kita kalau pertumbuhan ekonomi Cina sampai tergerus 1 persen, dampak ke pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa 0,4-0,6 persen. Jadi kita betul-betul harus perhatikan," kata Agus.

Pangkas pertumbuhan Merupakan hal yang wajar jika perekonomian Cina kini menjadi perhatian Indonesia. Sejumlah lembaga internasional memangkas pertumbuhan ekonomi Cina. 

Menurut ADB, setelah melambat di paruh pertama, produk domestik bruto (PDB) di Tiongkok diperkirakan 7,0 persen pada tahun ini dan 6,8 persen tahun depan. Itu dibandingkan dengan perkiraan Maret sebesar 7,2 persen pada 2015 dan 7,0 persen pada tahun depan.

"Pertumbuhan lambat di Cina cenderung memiliki efek yang nyata pada negara lainnya di Asia karena ukuran dan hubungan dekat dengan negara-negara lain di kawasan itu," kata kepala ekonom ADB Wei Shang-Jin.

Permintaan eksternal yang lebih lemah dari perkiraan, penurunan populasi usia kerja dan meningkatnya upah adalah faktor-faktor dalam pelambatan pertumbuhan kekuatan utama ekonomi Asia (Cina), tambahnya.

Sementara Bank Dunia menjelaskan, Partai Komunis yang berkuasa telah menjanjikan berbagai reformasi ekonomi dan lembaga yang berbasis di Washington itu mengatakan pengurangan "peran negara yang unik dan terdistorsi" di sektor perbankan dan keuangan yang lebih luas sangat penting.

"Investasi boros, kelebihan utang, dan regulasi lemah sistem shadow-banking," harus diatasi agar agenda yang lebih luas berhasil," katanya. Komentar dalam "China Economic Update" luar biasa terus terang untuk Bank Dunia.

"Tidak seperti negara-negara lain, di Cina negara masih mempertahankan kepemilikan meluas dan kontrol pada bank-bank dan lembaga keuangan lainnya," katanya, termasuk dengan komite internal Partai Komunis yang kuat dan pemerintah mengangkat serta memberhentikan eksekutif puncak.

"Negara memiliki kepemilikan formal 65 persen dari aset bank komersial dan kontrol de facto dari 95 persen dari aset tersebut, menjadikannya jauh dari standar internasional." Dalam beberapa kasus, tambahnya, pemerintah secara bersamaan adalah pemilik, regulator dan nasabah bank.

Bank Dunia mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk Cina tahun ini sebesar 7,1 persen. Bank Dunia juga mempertahankan perkiraan pertumbuhan PDB untuk tahun depan di Cina pada 7,0 persen dan 6,9 persen pada 2017. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Jokowi Diharapkan Waspadai Gejolak Ekonomi di Yunani dan Cina

Jokowi Diharapkan Waspadai Gejolak Ekonomi di Yunani dan Cina

News | Senin, 13 Juli 2015 | 07:59 WIB

Kepala BKPM: Investasi Asing Meningkat Rp2.300 Triliun

Kepala BKPM: Investasi Asing Meningkat Rp2.300 Triliun

Bisnis | Jum'at, 10 Juli 2015 | 14:22 WIB

Ekonomi Lesu, Pemerintah Genjot Belanja Infrastruktur

Ekonomi Lesu, Pemerintah Genjot Belanja Infrastruktur

Bisnis | Jum'at, 10 Juli 2015 | 13:50 WIB

PM Cina Frustrasi dengan Pejabat Malas dan Korup

PM Cina Frustrasi dengan Pejabat Malas dan Korup

News | Kamis, 09 Juli 2015 | 10:30 WIB

Terkini

Mulai 2027, Perusahaan Tak Bisa Lagi Sembunyikan Jejak Emisi Karbon

Mulai 2027, Perusahaan Tak Bisa Lagi Sembunyikan Jejak Emisi Karbon

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:45 WIB

KPK Sita 1,3 Kg Emas dan Rp100 Juta dari Rumah Pegawai Pajak di Malang

KPK Sita 1,3 Kg Emas dan Rp100 Juta dari Rumah Pegawai Pajak di Malang

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:43 WIB

Pihak Febrie Adriansyah Buka Suara Terkait Kematian Sutrimo dan Eksumasi Kepolisian

Pihak Febrie Adriansyah Buka Suara Terkait Kematian Sutrimo dan Eksumasi Kepolisian

Video | Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:42 WIB

11 Kantor Pemerintah Dibakar di Puncak Papua, DPR Desak Pemerintah Bongkar Akar Kerusuhan

11 Kantor Pemerintah Dibakar di Puncak Papua, DPR Desak Pemerintah Bongkar Akar Kerusuhan

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:39 WIB

Rupiah Mandek di Rp17.877, Sentimen Pasar Makin Berat

Rupiah Mandek di Rp17.877, Sentimen Pasar Makin Berat

Bisnis | Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:38 WIB

Bikin Timnas Indonesia Berantakan, Patrick Kluivert Dilirik Jadi Asisten Xavi di Belanda

Bikin Timnas Indonesia Berantakan, Patrick Kluivert Dilirik Jadi Asisten Xavi di Belanda

Bola | Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:38 WIB

Jangan Keluar Saat Magrib! Kisah Mengerikan Urang Bunian Segera Hantui Bioskop

Jangan Keluar Saat Magrib! Kisah Mengerikan Urang Bunian Segera Hantui Bioskop

Entertainment | Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:36 WIB

Empat Jam Terombang-ambing di Laut, Tangis Aula Pecah Saat Menemukan Sahabatnya Tak Bernyawa

Empat Jam Terombang-ambing di Laut, Tangis Aula Pecah Saat Menemukan Sahabatnya Tak Bernyawa

Bali | Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:34 WIB

PSG Sabet Juara Super Eropa, Luis Enrique Sentil Balik Si Tukang Kritik

PSG Sabet Juara Super Eropa, Luis Enrique Sentil Balik Si Tukang Kritik

Bola | Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:32 WIB

181 Kursi Roda Adaptif Disalurkan, Jateng Perkuat Dukungan bagi Penyandang Disabilitas

181 Kursi Roda Adaptif Disalurkan, Jateng Perkuat Dukungan bagi Penyandang Disabilitas

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:29 WIB

×