Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.670.000
Beli Rp2.530.000
IHSG 6.177,139
LQ45 609,402
Srikehati 299,172
JII 368,427
USD/IDR 17.821

Optimalkan Lahan Rawa, Pemerintah Lakukan Program Serasi

Fabiola Febrinastri

Kamis, 04 April 2019 | 09:32 WIB
Optimalkan Lahan Rawa, Pemerintah Lakukan Program Serasi
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy. (Dok : Kementan)

Suara.com - Tahun ini, pemerintah menargetkan pengembangan lahan sub optimal seluas 500 ribu hektare. Hal ini dilakukan melalui Selamatkan Rawa, Petani Sejahtera (Program Serasi), menjadi salah satu ikon pemerintah untuk mengoptimalkan lahan rawa untuk usaha pertanian.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan), Sarwo Edhy menjelaskan, Serasi menjadi program utama pemerintah untuk mendorong pengembangan pertanian di lahan rawa. Sebagian besar pengembangan lahan rawaberada di Sumatera Selatan, yaitu 250 ribu hektare, Kalimantan Selatan 200 ribu hektare, dan Sulawesi Selatan 50 ribu hektare.

"Untuk memanfaatkan lahan rawa tersebut, Badan Litbang Pertanian telah melakukan SID (Survei Investigasi dan Desain). Adapun dari target 100 ribu hektare lahan rawa yang bisa dioptimalisasi untuk usaha pertanian, ternyata baru 42 ribu hektare yang bisa diselesaikan Badan Litbang Pertanian," jelas Sarwo Edhy, Jakarta, Selasa (2/4/2019).

Kementan sepakat, sisa lahan yang akan dioptimalisasi akan menggunakan SID sederhana yang dibuat kelompok tani bersama konsultan setempat, bekerja sama dengan dinas pertanian kabupaten dan provinsi.

"Ini kita lakukan untuk mempercepat proses, agar bisa kita lakukan pengelolaan lahan rawa. SID sederhana, kita bisa langsung lihat kondisi fisik di lapangan," paparnya.

Ini berbeda dengan yang digunakan Badan Litbang Pertanian yang menggunakan satelit. Dengan SID sederhana, satuan biaya per hektare juga lebih murah. Cara ini diharapkan akan mencapai 500 ribu hektare pada akhir Desember 2019.

Untuk daerah yang menjadi lokasi pengembangan lahan rawa untuk usaha pertanian, pemerintah telah memberikan bantuan ekskavator.

"Di Kalimantan Selatan ada 63 unit, Sumatera Selatan 69 unit, dan Sulawesi Selatan 63 unit, juga untuk lima kabupaten," sebutnya.

Jika melihat data Badan Litbang Pertanian, maka potensi lahan rawa di Indonesia ada sebanyak 32 juta hektare. Lahan rawa tersebut tersebar dari Sabang hingga Merauke, bahkan yang paling besar potensinya berada di Papua.

baca juga

Namun persoalannya di sana adalah terkendala SDM yang belum siap.

"Dari 32 juta ha lahan rawa tersebut, yang berpotensi untuk lahan pertanian sebesar 10 juta hektare. Untuk tahun ini, kita coba demplot untuk luasan 500 ribu hektare," katanya.

Dengan optimasi lahan rawa, pemerintah berharap, lahan yang sebelumnya mungkin hanya satu kali tanam, bisa naik menjadi dua kali, yang dua kali naik menjadi tiga kali. Artinya, paling tidak tiap tahun, petani bisa tanam dua kali.

"Contohnya di Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Indeks pertanaman padi di lahan rawa bisa 2,6. Bahkan masyarakatnya cukup antusias mengelola lahan rawa. Namun tetap tergantung kreasi petani dalam mengelola lahannya. Ada yang padi - padi, ada juga padi - jagung - padi dan padi - kedelai - padi," tambahnya.

Bukan hanya indeks pertanaman yang naik, produktivitas tanaman juga meningkat. Jika sebelumnya hanya 3 ton per hektare menjadi 6 - 7 ton per hektare. Bahkan di Tanah Laut, produktivitas tanaman padi bisa mencapai 6,7 ton per hektare.

"Dengan demikian, upaya kita membangunkan lahan rawa adalah untuk meningkatkan kesejahteraan petani," tambahnya.

Untuk mengelola lahan rawa, pemerintah memberikan bantuan benih padi, khusus untuk lahan rawa seperti Inpara dan Mekongga. Pupuk subsidi juga diberikan.

Sarana produk lainnya adalah alsintan handtractor roda dua, khusus untuk lahan rawa yang bisa mengambang.

"Kita juga berikan pembenah tanah seperti pupuk organik dan dolomit untuk netralisir tanah," imbuhnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kementan Prihatin Penggunaan Pestisida Ilegal Ditemukan di Brebes

Kementan Prihatin Penggunaan Pestisida Ilegal Ditemukan di Brebes

Bisnis | Selasa, 02 April 2019 | 08:37 WIB

Kementan Lepas Ekspor Perdana Jagung ke Korea Selatan

Kementan Lepas Ekspor Perdana Jagung ke Korea Selatan

Bisnis | Sabtu, 30 Maret 2019 | 11:37 WIB

Kementan Dorong Sarolangun Kembangkan Pertanian Berbasis Kawasan

Kementan Dorong Sarolangun Kembangkan Pertanian Berbasis Kawasan

Bisnis | Kamis, 28 Maret 2019 | 11:34 WIB

Lewat Santri Tani Milenial, Kementan Kembangkan Pertanian Sumenep

Lewat Santri Tani Milenial, Kementan Kembangkan Pertanian Sumenep

Bisnis | Kamis, 28 Maret 2019 | 11:39 WIB

Terkini

Investor Migas Makin Percaya Indonesia, Proyek Bukit Panjang Masuk Tahap Fabrikasi

Investor Migas Makin Percaya Indonesia, Proyek Bukit Panjang Masuk Tahap Fabrikasi

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:05 WIB

Bahlil Ungkap 5.700 Desa Masih Gelap, Pemerintah Gelontorkan Rp10,3 Triliun untuk Listrik Desa

Bahlil Ungkap 5.700 Desa Masih Gelap, Pemerintah Gelontorkan Rp10,3 Triliun untuk Listrik Desa

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:05 WIB

Kabar Baik Pencari Kerja! Kemnaker Buka Pelatihan Gratis untuk 20.000 Peserta, Daftar hingga 9 Juli

Kabar Baik Pencari Kerja! Kemnaker Buka Pelatihan Gratis untuk 20.000 Peserta, Daftar hingga 9 Juli

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 13:51 WIB

Masuk Fortune Southeast Asia 500 2026, Hutama Karya Perkuat Kiprah sebagai BUMN Konstruksi Terkemuka

Masuk Fortune Southeast Asia 500 2026, Hutama Karya Perkuat Kiprah sebagai BUMN Konstruksi Terkemuka

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 13:20 WIB

Beralih ke Jargas Hemat Biaya Energi hingga 33 Persen, Pemerintah Tambah 160 Ribu Sambungan Baru

Beralih ke Jargas Hemat Biaya Energi hingga 33 Persen, Pemerintah Tambah 160 Ribu Sambungan Baru

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 13:16 WIB

Tahun Emas ke-50, Darya-Varia Berkinerja Tangguh dan Komitmen pada Pertumbuhan Berkelanjutan

Tahun Emas ke-50, Darya-Varia Berkinerja Tangguh dan Komitmen pada Pertumbuhan Berkelanjutan

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 12:25 WIB

Pasokan Batubara PLTU Jawa Mulai Pulih, PLN Kini Kejar Perbaikan Dua Pembangkit

Pasokan Batubara PLTU Jawa Mulai Pulih, PLN Kini Kejar Perbaikan Dua Pembangkit

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 11:34 WIB

Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil

Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:39 WIB

Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik

Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:23 WIB

Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN

Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:27 WIB