Kopi Sarongge dan Petani di Masa Pandemi

Dany Garjito, Chyntia Sami Bhayangkara

Kamis, 14 Mei 2020 | 19:35 WIB
Kopi Sarongge dan Petani di Masa Pandemi
Petani kopi Sarongge (ist)

Suara.com - Merebaknya virus corona telah melumpuhkan seluruh aktivitas masyarakat dunia. Namun, hal itu tak pernah berlaku bagi para petani kopi Sarongge.

Bulan Mei dan Juni merupakan masa panen raya kopi Sarongge, kopi asal Cianjur, Jawa Barat yang terkenal dengan cita rasa uniknya. Tak kenal #dirumahaja, mereka tetap harus ke kebun demi mendapatkan kopi berkualitas baik yang telah ditanam selama tiga tahun lamanya.

Tosca Santoso, sang inisiator kopi Sarongge, meminta agar pemerintah kelak bisa lebih memperhatikan nasib para petani. Tak hanya tenaga medis yang telah berjasa, petani juga menjadi pahlawan di tengah pandemi corona.

Tanpa petani, pasokan bahan pokok akan tersendat. Karenanya juga bisa menimbulkan krisis multidimensi.

Jurnalis senior sekaligus salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) itu berharap pemerintah bisa terus menggalakan perhutanan sosial, asal lahirnya kopi Sarongge. Disanalah para petani bisa menyuplai pasokan bahan dengan maksimal.

Berikut kisah para petani Sarongge dan nasib petani lainnya di tengah pandemi yang ditulis langsung oleh Tosca Santoso.

Petani di Masa Pandemi

Pagebluk datang tanpa permisi. Virus itu, tiba-tiba melumpuhkan banyak segi kehidupan kita. Sejak Presiden Jokowi mengumumkan kasus Covid-19 pertama, awal Maret, berbagai aturan dibuat membatasi gerak. Orang-orang terkurung di rumah. Perkantoran tutup. Ekonomi melambat drastis.

Sedikit dari profesi yang diminta Presiden untuk tetap bekerja di masa pandemi ini adalah petani. Presiden mengingatkan agar petani memanfaatkan sisa hujan bulan April, untuk tetap menanam tanaman pangan. Ia khawatir akan ada kekeringan panjang di akhir tahun, yang dapat menyebabkan kurangnya pasok pangan.

baca juga

Ancaman kurang pangan jadi momok buat siapa sajayang sedang mengatur negeri.  Kalau terjadi, ia dapat timbulkan krisis multidimensi.

Tapi sesungguhnya, tanpa diminta siapa pun, petani tetap bekerja di masa pandemi ini. Terlebih pekerja tani, yang hidup dari upah harian. Libur adalah malapetaka buat mereka. Juga untuk petani gurem yang tanahnya kurang dari 0,2 ha. Mereka tetap bekerja di kebun. Anjuran untuk diam di rumah, atau bekerja dari rumah, terdengar ganjil di telinga petani.

Kopi Sarongge yang telah dikemas (dok. Tosca Santoso)
Kopi Sarongge yang telah dikemas (dok. Tosca Santoso)

Para petani kopi di Sarongge, memasuki masa panen raya Mei- Juni ini. Mereka antusias ke kebun, memetik kopi yang sudah lama ditunggu. Tak bisa ditunda. Karena telat memanen, berarti akan terlalu matang. Dan kurang bagus untuk diolah basah (fullwash) yang jadi pilihan utama dalam paska panen kopi di Sarongge. Mau tak mau, panen harus dilakukan, meski Cianjur masuk pada tahap PSBB, Pembatasan Sosial Berskala Besar 6-19 Mei. Petani terbiasa bekerja dengan ritme, yang disesuaikannya dengan alam.

Maka anjuran supaya gunakan sisa hujan untuk tanam tanaman pangan, bisa jadi bumerang. Kebanyakan petani akan pikir seribu kali untuk mulai tanam, ketika hujan tinggal sedikit. Pilihan tanaman harus yang tahan kering, sanggup hidup meski kurang air. Padi bukan pilihan. Bahkan di tempat dengan irigasi baik, mereka akan hitung, apakah air masih akan ada saat dibutuhkan? Apalagi di tempat huma tadah hujan. Tidak ada petani yang menanam padi di ujung penghujan. Titi mangsa mengajarkan mereka : tanam padi di awal musim hujan.

Singkong mungkin masih cocok untuk penghujung masa hujan. Ia hanya butuh air sedikit di awal tanam. Lalu akan bertahan, meski sisa waktunya kering. Tetapi menganjurkan tanam singkong di lahan petani yang begitu sempit, akan kurang didengar. Nilai ekonominya terlalu murah. Waktu panennya lama. Singkong cocok untuk, tanaman pagar, menambah ketahanan pangan keluarga tani sendiri.

Yang paling fatal dari antisipasi kurang pangan ini adalah rencana buka sawah baru. Menko perekonomian mengatakan sawah baru akan dicetak di Kalimantan Timur, daerah gambut. Ini sungguh tak belajar dari kesalahan masa lalu. Rezim Soeharto pernah mencoba proyek sawah sejuta hektar di Kalimantan Tengah dan gagal total. Gambut bukan lahan yang cocok untuk sawah. Apalagi, sekarang begitu banyak informasi tentang pentingnya merawat gambut untuk iklim global kita. Membuka lahan gambut untuk sawah, bukan rencana yang sejalan dengan moralitas zaman baru yang peduli lingkungan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kisah Lahirnya Kopi Sarongge, Produk Unggulan Asal Cianjur

Kisah Lahirnya Kopi Sarongge, Produk Unggulan Asal Cianjur

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2020 | 18:50 WIB

Kopi Sarongge dan Kisah Petani Kembalikan Hutan

Kopi Sarongge dan Kisah Petani Kembalikan Hutan

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2020 | 19:22 WIB

Kalahkan Harga Ayam, Harga Jengkol Meroket di Pasar Tradisional Cianjur

Kalahkan Harga Ayam, Harga Jengkol Meroket di Pasar Tradisional Cianjur

Jabar | Jum'at, 08 Mei 2020 | 02:30 WIB

Kecelakaan Laut di Perairan Cianjur, Galang Ditemukan Tak Bernyawa di Garut

Kecelakaan Laut di Perairan Cianjur, Galang Ditemukan Tak Bernyawa di Garut

Jabar | Kamis, 07 Mei 2020 | 01:05 WIB

Jenazah Diantar Cuma Sampai Gang, PDP Terpaksa Dimakamkan Warga Tanpa APD

Jenazah Diantar Cuma Sampai Gang, PDP Terpaksa Dimakamkan Warga Tanpa APD

Jabar | Rabu, 06 Mei 2020 | 20:27 WIB

Terkini

Main 10 Orang, Indonesia Tahan Malaysia 0-0 di SUGBK

Main 10 Orang, Indonesia Tahan Malaysia 0-0 di SUGBK

Foto | Selasa, 29 September 2026 | 06:00 WIB

HUT ke-81, KAI Layani 258,9 Juta Pelanggan pada Semester I 2026

HUT ke-81, KAI Layani 258,9 Juta Pelanggan pada Semester I 2026

Foto | Selasa, 29 September 2026 | 05:05 WIB

Suporter Malaysia Klaim Ditahan Lebih dari Sejam Usai Laga Lawan Timnas Indonesia

Suporter Malaysia Klaim Ditahan Lebih dari Sejam Usai Laga Lawan Timnas Indonesia

Bola | Senin, 28 September 2026 | 23:30 WIB

Tanggal Merah untuk Ibu: Bukan Sekadar Me Time tapi Waktu untuk Recovery

Tanggal Merah untuk Ibu: Bukan Sekadar Me Time tapi Waktu untuk Recovery

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 23:23 WIB

Hari Pertambangan dan Energi, PTBA Perkuat Pasokan dan Hilirisasi untuk Kemandirian Energi

Hari Pertambangan dan Energi, PTBA Perkuat Pasokan dan Hilirisasi untuk Kemandirian Energi

Sumsel | Senin, 28 September 2026 | 23:16 WIB

Kata-kata John Herdman Usai Timnas Indonesia Ditahan Malaysia Tanpa Gol di GBK

Kata-kata John Herdman Usai Timnas Indonesia Ditahan Malaysia Tanpa Gol di GBK

Bola | Senin, 28 September 2026 | 23:05 WIB

Timnas Indonesia Tak Mampu Kalahkan Malaysia, Nama Shin Tae-yong Menggema di GBK

Timnas Indonesia Tak Mampu Kalahkan Malaysia, Nama Shin Tae-yong Menggema di GBK

Bola | Senin, 28 September 2026 | 23:05 WIB

Halloween di Singapura, Ada Rumah Hantu hingga Dunia Bawah Laut Penuh Cahaya

Halloween di Singapura, Ada Rumah Hantu hingga Dunia Bawah Laut Penuh Cahaya

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 23:04 WIB

Tan Cheng Hoe Angkat Tangan: Pertahanan 10 Pemain Timnas Indonesia Sangat Sulit Ditembus

Tan Cheng Hoe Angkat Tangan: Pertahanan 10 Pemain Timnas Indonesia Sangat Sulit Ditembus

Bola | Senin, 28 September 2026 | 23:01 WIB

Guruh Soekarnoputra Berpulang, Mengapa Kepergiannya Begitu Berarti bagi Indonesia?

Guruh Soekarnoputra Berpulang, Mengapa Kepergiannya Begitu Berarti bagi Indonesia?

Sumsel | Senin, 28 September 2026 | 22:57 WIB

×