facebook

Perang Rusia-Ukraina, Target Pertumbuhan Ekonomi Tahun Ini Bisa Terancam

Chandra Iswinarno | Mohammad Fadil Djailani
Perang Rusia-Ukraina, Target Pertumbuhan Ekonomi Tahun Ini Bisa Terancam
Sebuah gedung tampak hancur usai dihantam roket yang dilepaskan tentara Rusia di wilayah timur Ukraina, Kamis (24/2/2022). (Foto: AFP)

Perang antara Rusia melawan Ukraina yang hingga saat ini terus berlangsung membuat ekonomi dunia menjadi penuh ketidakpastian.

Suara.com - Perang antara Rusia melawan Ukraina yang hingga saat ini terus berlangsung membuat ekonomi dunia menjadi penuh ketidakpastian. Apalagi pada saat yang bersamaan hampir seluruh negara sedang berjuang untuk memulihkan ekonominya imbas pandemi Covid-19.

Begitu juga dengan Indonesia, kondisi geopolitik yang memanas antara dua negara pecahan Uni Soviet tersebut bisa membuat proses pemulihan ekonomi nasional bisa terhambat.

Kepala Center of Macroeconomics and Finance Indef, M Rizal Taufikurahman memproyeksikan ekonomi Indonesia akan turun 0,014 persen imbas kondisi perang tersebut .

Kenapa bisa menurun? Rizal menjelaskan, perang yang terjadi saat ini mengerek naik sejumlah harga komoditas seperti minyak hingga gas, sehingga berdampak pada kenaikan laju inflasi.

Baca Juga: Perang Rusia-Ukraina Bikin Harga Minyak Mahal, APBN RI Bisa Ikut Jebol

"Inflasi harga bergejolak tersebut pun sudah mulai bergerak, terutama untuk komoditas minyak, gas, dan daging," kata Rizal dalam sebuah diskusi virtual, Rabu (2/3/2022).

Apalagi, kenaikan laju inflasi ini terjadi menjelang Ramadan yang biasanya kondisi harga sejumlah bahan pokok ikut naik, sehingga makin membebani kenaikan inflasi.

"Apalagi ini masih di tengah pandemi, sehingga akan ada penurunan ekonomi kita dalam jangka pendek," ujarnya.

Ia pun memperkirakan, harga minyak akan naik hingga 1,14 persen akibat ketidakpastian konflik Rusia dan Ukraina, adapun kenaikan harga komoditas lainnya yang akan mengikuti seperti daging yang diprediksikan naik hingga 0,07 persen, ekstraksi (gas dan listrik) 0,19 persen, pangan 0,05 persen, makanan olahan 0,08 persen, serta transportasi dan komunikasi 0,1 persen.

"Apalagi kita belum mengetahui perang ini akan terjadi sampai kapan dan berapa lama," katanya.  

Baca Juga: Imbas Perang Rusia dan Ukraina Harga Minyak Dunia Tembus US$ 105 Per Barrel, Pengamat: Momentum Menghapus BBM Premium

Komentar