Menkeu Sri Mulyani Sebut Pangan, Energi dan Utang Bakal Jadi Tantangan Krisis

Menkeu Sri Mulyani Indrawati menyampaikan akan menerapkan disiplin fiskal dengan maksimum defisit 3 persen dari PDB pada APBN 2023.

Chandra IswinarnoMohammad Fadil Djailani
Rabu, 07 September 2022 | 20:19 WIB
Menkeu Sri Mulyani Sebut Pangan, Energi dan Utang Bakal Jadi Tantangan Krisis
Menkeu Sri Mulyani menyebut jika pangan, energi dan utang bakal menjadi tantangan krisis. [Tangkapan layar]

Suara.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan akan menerapkan disiplin fiskal dengan maksimum defisit 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2023.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang diselenggarakan di Jakarta Rabu (7/9/2022).

"Ini adalah sesuai dengan tax force yang dibuat oleh PBB, dimana mereka mengidentifikasi suasana dan situasi tantangan Global ini akan berpotensi kepada tiga area krisis yaitu pangan, energi, dan utang," katanya.

"Selain itu, kalau kita defisit nya masih sangat besar sehingga kemudian kita harus melakukan financing apalagi financing-nya sampai desperated, maka kita pasti akan terkena hit dengan cost of fund yang sangat tinggi," tambahnya.

Baca Juga:Jangan Cuma Bisa Mengkritik, Sri Mulyani Tantang Ekonom Untuk Prediksi Harga Minyak Tahun Depan

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menambahkan, anggaran subsidi energi di tahun 2023 saat ini masih dalam pembahasan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dalam hal ini, pemerintah menyediakan anggaran subsidi minyak lebih dari Rp340 triliun dengan asumsi minyak di kisaran USD90 per barel.

"Tentu kita juga melihat ketidakpastian outlook dari harga minyak," katanya.

Tentunya di dalam melakukan proyeksi tersebut, Kemenkeu menggunakan data dari agency yang kredibel dan memiliki otoritas di bidang minyak.

"Seperti international energi agency, mereka akan proyeksikan seperti apa. Mungkin kita akan lihat Bloomberg konsensus juga," ujarnya.

Sementara di sisi lain, dia menyebut bahwa volatilitas harga minyak juga terjadi akibat tekanan geopolitik, termasuk penggunaan bahan bakar minyak sebagai salah satu instrumen perang.

Baca Juga:Perang Rusia dan Ukraina Buat Harga Minyak Makin Liar, APBN Bisa Terdampak

Sehingga kemungkinan harga minyak dunia akan turun apabila outlook dari negara-negara maju masuk ke dalam resesi yang menyebabkan permintaan terhadap minyak juga ikut menurun.

REKOMENDASI

BERITA TERKAIT

BISNIS

TERKINI