- Juanita Rany mendirikan brand herbal Glaranadi tahun 2020 karena masalah autoimun, fokus pada minuman kesehatan.
- Glaranadi sukses besar saat pandemi, kini menjual ribuan produk sebulan dan ekspor ke Singapura dan Malaysia.
- Produk Glaranadi melayani keluhan mayoritas perempuan muda, dengan rencana sertifikasi BPOM dan Halal ke depan.
Suara.com - Pandemi Covid-19 menjadi titik balik dalam hidup Junita Rany. Berangkat dari persoalan kesehatan pribadi yang ia alami sebagai pengidap autoimun, perempuan ini justru meracik tanaman herbal menjadi produk kesehatan bernilai ekonomi.
Juanita adalah pendiri Glaranadi, brand herbal yang kini dikenal luas di platform e-commerce. Nama Glaranadi sendiri memiliki makna filosofis yang dalam.
Usaha Glaranadi bermula pada 2020. Saat itu, Juanita awalnya tertarik membuat produk skincare alami seperti sabun dan tinktur herbal. Namun kondisi kesehatannya yang menurun memaksanya untuk lebih fokus mencari solusi bagi tubuhnya sendiri.
"Saya kemudian meracik minuman kesehatan setelah banyak membaca buku dan konsultasi. Bahannya sebenarnya sama dengan yang biasa dipakai untuk skincare," imbuhnya saat dikutip, Rabu (11/2/2026).
Hasilnya di luar dugaan. Racikan herbal tersebut membantu Juanita tidur lebih nyenyak, meredakan inflamasi, sekaligus menenangkan pikiran dan emosi. Ketika dicoba dijual, respons pasar justru jauh lebih besar dibandingkan produk skincare.

"Ternyata minuman kesehatannya yang lebih laku. Dari situ saya putuskan fokus ke herbal," katanya.
Di awal usaha, penjualan Glaranadi terbilang sangat kecil. Juanita mengaku hanya mampu menjual dua pak produk dalam seminggu. Semua ia kerjakan sendiri, mulai dari produksi hingga pengemasan.
Lonjakan terjadi ketika ia mulai memanfaatkan fitur iklan di Shopee. Di masa pandemi, kebutuhan masyarakat terhadap produk peningkat imunitas melonjak tajam.
"Sekarang sebulan bisa terjual sekitar 7.000 sampai 8.000 pieces. Omzet kotor sudah menyentuh ratusan juta rupiah," ungkapnya.
Baca Juga: Dari 45.000 Sumur Rakyat, Baru 1 UMKM yang Berhasil Produksi Minyak
Dari yang awalnya hanya memiliki 3-5 jenis produk, kini Glaranadi telah berkembang menjadi lebih dari 100 produk, mulai dari minuman herbal, teh celup, hingga makanan sehat seperti almond butter dan peanut butter.
Mayoritas konsumen Glaranadi adalah perempuan usia 17 hingga 35 tahun, dengan keluhan mulai dari jerawat hormonal, PCOS, gangguan tidur, hingga kecemasan. Menariknya, Juanita memilih terjun langsung melayani konsultasi konsumen melalui fitur chat.
"Saya banyak membalas chat sendiri. Dari situ saya tahu keluhan mereka dan itu jadi bahan untuk pengembangan produk baru," bebernya.
Bahan baku Glaranadi diperoleh langsung dari petani di Cirebon dan Jawa Tengah. Tantangan terbesar datang dari bahan musiman seperti rosella yang harganya bisa melonjak dua kali lipat di luar musim.
Meski begitu, jangkauan pasarnya terus meluas. Selain melayani pengiriman ke seluruh Indonesia, produk Glaranadi juga telah menembus pasar Singapura dan Malaysia melalui program ekspor Shopee.
"Kalau performa toko bagus, Shopee yang menawarkan program ekspor," jelas Juanita.
Ke depan, Juanita menargetkan sertifikasi Halal dan BPOM agar produknya bisa masuk ke jaringan ritel modern seperti Aeon dan Ranch Market. "Biaya BPOM memang tidak kecil, jadi kami mulai dari produk paling laku dulu," katanya.
Dari modal awal hanya Rp3–5 juta, Juanita membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkarya. Dengan memanfaatkan tanaman herbal dan teknologi digital, ia berhasil mengubah perjuangan melawan autoimun menjadi peluang usaha berkelanjutan.
"Kuncinya adalah memberi solusi nyata. Kalau produk kita bermanfaat, orang pasti kembali," pungkasnya.