Rini telah sepenuhnya mewujudkan komitmennya untuk membesarkan usaha Wedang Uwuh, dan mimpinya terpenuhi dengan pasti.
Produknya kini berhasil dijual di berbagai wilayah, mencakup Jakarta, Bandung, Madiun, Semarang, hingga ke ujung Papua. Prestasinya tak hanya terbatas di dalam negeri, karena Wedang Uwuh Djewery juga pernah mendapatkan pesanan dari Hong Kong, seakan membuktikan bahwa keberhasilannya telah melampaui batas-batas geografis.
Inovasi dari Pandemi
Pandemi COVID-19 dengan menyebar awal 2020 silam, menghantam para pelaku UMKM sejak terdeteksi pertama kali di Indonesia pada Maret 2020. Dampaknya terasa begitu besar, tidak terkecuali bagi Rini dan Suami, kisah kelam dimulai ketika mereka terpaksa dirumahkan dari pekerjaan yang menjadi sumber kehidupan keluarganya.
Saat itu, banyak UMKM seperti kapal-kapal kecil di lautan yang terombang-ambing, terancam gulung tikar dan hancur berkeping-keping. Namun, di tengah badai yang melanda, Wedang Uwuh Djewery muncul jadi solusi.
Pasar yang terlihat sepi kini dipenuhi oleh mereka yang mencari empon-empon, seolah-olah menjadikan Wedang Uwuh Djewery sebagai sumber kekuatan, seperti mantra penyegar di tengah badai yang melanda.
“Karena dirumahkan, kita sekeluarga jadi bisa fokus pada usaha wedang uwuh,” ungkapnya.
Usaha yang baru mulai merasakan untung di tengah masa sulit akibat pandemi itu kembali diuji. Rini mulai menerima banyak keluhan dari pembeli terkait penggunaan jahe basah.
"Jahe basah ini, jika dikirim ke lokasi yang jauh, saat tiba di tujuan, malah sudah tumbuh tunas. Hal ini seringkali menimbulkan keluhan, dianggap tidak tahan lama," ungkap Rini.
Dampaknya, usaha milik Rini mengalami kerugian karena harus mengirimkan jahe baru, yang membuat biaya pengeluaran meningkat dua kali lipat.
"Tentu saja, kita ingin memberikan yang terbaik agar pembeli merasa puas, sekaligus menunjukkan komitmen kami dalam menjaga kualitas dari Wedang Uwuh Djewery," tambah Rini.
Situasi ini mendorong Rini untuk mencari solusi dan inovasi agar produknya dapat lebih tahan lama. Akhirnya, ia menemukan metode pengeringan jahe yang membuat produk usahanya mampu bertahan lebih lama.
“Syukur alhamdulillah, kini kita sudah banyak dikenal dan diterima dengan baik oleh pasar. Pada saat pandemi COVID-19 melanda, di mana orang-orang enggan keluar rumah karena takut, justru kita tetap aktif melayani melalui metode COD,” ungkap Rini.
Pada tahun 2021, ketika kasus positif COVID-19 mengalami peningkatan drastis, pesanan wedang uwuh yang dimiliki oleh Rini justru melesat tinggi.
Rini mengakui bahwa Wabah Virus Corona telah menjadi momen yang mengerek omzet usaha Wedang Uwuh dari yang awalnya sekitar Rp400 ribu menjadi Rp10 juta dalam satu bulan, meningkat lebih dari 20 kali lipat.
Pada tahun ini, omzet Wedang Uwuh Djewei bahkan telah mencapai Rp17 juta dalam satu bulan. Kesuksesan ini tidak terlepas dari besarnya pasar wedang uwuh di dalam dan di luar wilayah DI Yogyakarta.
Produk unggulan dari Wedang Uwuh Djewery telah melewati seleksi ketat yang diadakan Pemerintah Kabupaten Sleman untuk dapat dipasarkan di toko ritel modern.
“Alhamdulillah, sekarang Wedang Uwuh Djewery sudah bisa ditemukan di 88 outlet Indomaret di wilayah Sleman Barat,” ujar Rini.
Tidak hanya di Indomaret, kelezatan Wedang Uwuh juga tersedia di 45 tempat oleh-oleh yang tersebar di seluruh destinasi pariwisata di Provinsi DI Yogyakarta.
Perkembangan pesat UMKM yang dimiliki oleh Rini memberikan dorongan kepada dirinya dan keluarganya untuk meningkatkan produksi dalam skala yang lebih besar.
Dalam awal berdirinya, dalam sehari, produksi Wedang Uwuh hanya mampu mencapai 30 kemasan. Namun, kini, usaha milik Rini mampu menghasilkan hingga 2.000 kemasan dalam sebulan.
“Bahkan, jika ada lonjakan permintaan, kami mampu menghasilkan hingga 3.000 kemasan dalam sebulan. Kadang sampai gak tidur,” ujar Rini sambil tertawa.
Meski kini pesanan tak sebesar ketika wabah Virus Corona mendera Indonesia, Rini tetap optimis menyambut prospek bisnis olahan empon-empon di masa depan.
Hal ini didukung pernyataan Sidi Rana Menggala, insinyur biosains di Ghent University, Belgia. Menurut dia, minat global terhadap rempah-rempah Indonesia terus mengalami peningkatan yang signifikan. S
elain kualitasnya yang sangat baik, rempah-rempah Indonesia semakin diminati oleh konsumen global yang kini lebih cenderung memilih produk alami.
"Reputasi rempah-rempah Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan dulu," kata dia, saat berbincang dengan Suara.com beberapa saat lalu.
Menurut Sidi, sejak era 2000-an, Indonesia kembali menjadi pusat perhatian sebagai 'raja' rempah-rempah dunia dengan berbagai komoditas andalan seperti kayu manis, pala, cengkeh, dan lainnya.
"Dengan perkembangan zaman, semakin banyak orang yang mencari rempah-rempah yang diolah dengan teknologi untuk mendukung gaya hidup sehat," kata dia.