Distribusi Tak Merata, Biang Keladi Anjloknya Harga Pangan di Tingkat Petani?

M Nurhadi

Kamis, 10 Oktober 2024 | 16:20 WIB
Distribusi Tak Merata, Biang Keladi Anjloknya Harga Pangan di Tingkat Petani?
Arsip-Petani di Desa Buae, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap, mengembangkan pisang cavendish dengan cara kreatif, melalui tumpang sari tanaman kacang [SuaraSulsel.id/Humas Pemprov Sulsel]

Suara.com - Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Abdul Aziz Ahmad mengatakan bahwa pemerintah perlu mengendalikan deflasi agar harga sejumlah komoditas, terutama pangan, tidak cenderung turun seperti yang terjadi dalam lima bulan terakhir.

"Selama ini, praktek yang sering dilakukan adalah bagaimana mengatasi kenaikan harga, bukan mengatasi penurunan harga. Ini yang belum menjadi concern pemerintah walau fenomena ini sudah terjadi dalam periode yang agak lama," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (10/10/2024).

Meskipun demikian, kata dia, konsep inflasi maupun deflasi itu kondisi umum karena hal itu rata-rata dari semua komoditas seluruh produk.

Menurut dia, inflasi merupakan perkembangan harga yang cenderung meningkat dan hal itu dibutuhkan dalam perekonomian karena akan mendorong kinerja produsen untuk meningkatkan produksi.

Sebaliknya, lanjut dia, deflasi justru melemahkan perekonomian karena menunjukkan melemahnya daya beli masyarakat karena produk-produk sudah dianggap tidak menarik oleh masyarakat.

"Pada periode deflasi lima bulan ini memang ada produk-produk yang harganya naik, lalu ada yang harganya turun. Itu kan ada sistem pembobotan dalam penghitungan inflasi maupun deflasi," katanya.

Dia mengatakan secara kebetulan menunjukkan indikator deflasi merupakan kelompok komoditas yang memang bobotnya cenderung tinggi.

Menurut dia, jika berlangsung terus-menerus, deflasi dapat menimbulkan efek berganda (multiplier effect) yang berdampak terhadap penurunan harga produk-produk yang lain.

"Itu jangka panjang sih, tapi kalau menurut kami, sebagai ekonom, ini masih baik-baik saja, belum terlalu berdampak serius karena toh komoditas yang lain masih banyak yang meningkat," katanya.

baca juga

Dia mengakui deflasi yang terjadi dalam lima bulan terakhir dipicu oleh penurunan harga beberapa komoditas pangan, salah satunya pasokan sayuran melimpah karena sedang panen.

Oleh karena itu, kata dia, perlu perhatian yang intensif kepada petani karena pihak yang terdampak deflasi adalah produsen, bukan sisi konsumen.

"Memang yang diharapkan adalah stabilitas harga, bukan harga yang stabil tinggi dan bukan harga yang cenderung turun. Kalau dari sisi fluktuasi harga, yang paling fluktuatif memang harga komoditas pangan dan kebetulan pangan ini dalam beberapa bulan ini cenderung turun," katanya.

Menurut dia, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan deflasi, salah satunya dibiarkan saja karena saat mendekati akhir tahun biasanya akan terjadi kenaikan harga beberapa komoditas pangan seperti daging dan telur.

Ia mengatakan kenaikan harga komoditas pangan yang biasa terjadi mulai November itu merupakan fluktuasi harga yang rutin karena bersifat musiman.

"Tapi, kalau memang ada upaya atau tindakan secara khusus, berarti pemerintah perlu memberikan dukungan bagaimana petani itu tidak terlalu banyak merugi. Ya, memang problemnya enggak kayak dulu, kalau dulu bisa diatasi oleh Bulog, sekarang ya susah," katanya, seperti yang dikutip dari Antara.

Ia mengatakan selama ini praktek yang sering dilakukan adalah bagaimana mengatasi kenaikan harga, bukan bagaimana mengatasi penurunan harga.

Oleh karena itu, kata dia, perlu dipikirkan cara untuk mengatasi harga komoditas pangan tidak cenderung turun.

"Mungkin problemnya sisi distribusi ya, karena memang tidak semua daerah menghasilkan sayuran, misalnya Purwokerto bukan daerah penghasil sayuran, sehingga harga sayuran di sini relatif cenderung stabil," katanya.

Akan tetapi di daerah-daerah penghasil sayuran, kata dia, harga komoditas tersebut justru cenderung turun.

Terkait dengan hal itu, dia mengatakan perlu dipikirkan bagaimana cara mengamankan distribusi komoditas pangan seperti sayuran agar harga tetap stabil pada posisi normal.

"Distribusinya harus diperbaiki, rantai penawaranannya perlu dioptimalkan agar memberikan manfaat kembali ke normal lagi," kata Abdul Aziz.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kebijakan Baru Soal Rokok Dinilai Bisa Pengaruhi Harga Tembakau

Kebijakan Baru Soal Rokok Dinilai Bisa Pengaruhi Harga Tembakau

Bisnis | Rabu, 09 Oktober 2024 | 13:58 WIB

Petani Tembakau Terancam, HKTI Tolak Kebijakan Kemasan Rokok Polos

Petani Tembakau Terancam, HKTI Tolak Kebijakan Kemasan Rokok Polos

Bisnis | Rabu, 09 Oktober 2024 | 10:58 WIB

Kebijakan Rokok Baru dari Pemerintah Dinilai Lemahkan Industri Tembakau

Kebijakan Rokok Baru dari Pemerintah Dinilai Lemahkan Industri Tembakau

Bisnis | Selasa, 08 Oktober 2024 | 15:06 WIB

Terkini

AC LG Kini Bisa Atur Suhu Sendiri, AI Bantu Hemat Listrik dan Jaga Kenyamanan

AC LG Kini Bisa Atur Suhu Sendiri, AI Bantu Hemat Listrik dan Jaga Kenyamanan

Tekno | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:58 WIB

Tembus Pasar Paman Sam: Motor Buatan Jakarta Ini Siap Diekspor ke Amerika Serikat

Tembus Pasar Paman Sam: Motor Buatan Jakarta Ini Siap Diekspor ke Amerika Serikat

Otomotif | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:52 WIB

Kerja Outdoor? 5 Face Wash Pria Bikin Muka Bersih dan Segar Seharian!

Kerja Outdoor? 5 Face Wash Pria Bikin Muka Bersih dan Segar Seharian!

Your Say | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:50 WIB

Petaka Aksi Standing Motor di Pringsewu: Honda Supra Hantam Pajero, 2 Pemuda Tewas Terpental

Petaka Aksi Standing Motor di Pringsewu: Honda Supra Hantam Pajero, 2 Pemuda Tewas Terpental

Lampung | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:49 WIB

Pria Ditemukan Tewas di Sungai Cipelang, Dokter Forensik Temukan Sejumlah Luka

Pria Ditemukan Tewas di Sungai Cipelang, Dokter Forensik Temukan Sejumlah Luka

Jabar | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:49 WIB

4 Rekomendasi Bedak Two Way Cake Terbaik untuk Kulit Berminyak Sesuai Review

4 Rekomendasi Bedak Two Way Cake Terbaik untuk Kulit Berminyak Sesuai Review

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:40 WIB

Urutan Zodiak dari yang Paling Royal dan Suka Berbagi sampai yang Paling Irit

Urutan Zodiak dari yang Paling Royal dan Suka Berbagi sampai yang Paling Irit

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:35 WIB

Chanyeol EXO Ungkap Kerinduan Mendalam di Lagu Jepang Terbaru, Song For You

Chanyeol EXO Ungkap Kerinduan Mendalam di Lagu Jepang Terbaru, Song For You

Your Say | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:20 WIB

Kuota Hangus Belum Tuntas, Komdigi Soroti Paket Telkomsel, Indosat, dan XL

Kuota Hangus Belum Tuntas, Komdigi Soroti Paket Telkomsel, Indosat, dan XL

Tekno | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:15 WIB

Saat IHSG Hancur 30 Persen, Investor Swedia Borong Saham RI Untuk Pertama Kalinya

Saat IHSG Hancur 30 Persen, Investor Swedia Borong Saham RI Untuk Pertama Kalinya

Bisnis | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:14 WIB

×