Petani Muda Masih Jarang, Tantangan Kesejahteraan Jadi Hambatan Utama

Mohammad Fadil Djailani

Selasa, 14 Januari 2025 | 14:34 WIB
Petani Muda Masih Jarang, Tantangan Kesejahteraan Jadi Hambatan Utama
Ilustrasi petani [Foto oleh Pixabay]

Suara.com - Sektor pertanian menjadi satu dari sektor prioritas pemerintah dalam mengatasi krisis global. Hal ini turut tergambar dalam rencana kerja Presiden Prabowo Subianto yang mendorong swasembada pangan hingga mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan.

Meski demikian, persoalan sektor pertanian di Indonesia masih terbilang pelik dan penuh tantangan. Stigmatisasi soal menjadi petani di usia kalangan produktif atau anak muda masih banyak yang kurang meminati. Salah satu faktornya karena sektor ini kerap dianggap tak menjamin kesejahteraan.

Di satu sisi, kaki Indonesia tengah bersiap menghadapi Indonesia emas 2045. Pada masa ini diproyeksikan sektor pertanian menjadi lumbung pangan dunia dan tidak lagi mengimpor pangan. Beriringan dengan hal tersebut pemerintah juga menginisiasi sejumlah langkah untuk mewujudkan tujuan ini baik dari hulu ke hilir.

Melihat tantangan hingga situasi yang berjalan, Al Fansuri seorang petani muda menuangkan pemikirannya dalam sebuah karya “Agrikultur Progresif: menopang Indonesia emas lewat jalur pertanian”. Karya ini dibuat atas dasar resah dalam memandang usaha pertanian yang sebenarnya adalah kekuatan bagi bangsa untuk berlari kencang menuju Indonesia Emas.

“Sektor pertanian itu vital bagi perekonomian Indonesia. Meskipun ya kontribusinya terhadap PDB negara terus menurun, tapi ini masih jadi sektor penghidupan bagi masyarakat, apalagi yang tinggal di pedesaan. Tapi, sekali lagi kita sama-sama ketahui kalau komoditas pertanian juga jadi penyumbang PDB terbesar bagi negara Indonesia, apalagi kalau anak mudanya lebih banyak berperan di sektor pertanian. Kek ibarat makin gacor lah kita.” Beber Al Fansuri dalam keterangannya dikutip Selasa (14/1/2025).

Sebagai anak muda yang bergelut di usaha pertanian ia tak menampik masih ada banyak kerikil tajam yang dihadapi petani, tak terkecuali dirinya dan para petani lainnya.

“Ketergantungan pada metode konvensional dan kurangnya penerapan teknologi modern menjadi penghalang utama dalam meningkatkan produktivitas,” ujarnya lagi.

Oleh karenanya, dalam buku yang ia tulis, dijabarkan solusi untuk sejalan dengan target pemerintah. Al Fansuri mengusulkan transformasi menuju agrikultur progresif. Adalah sebuah sistem pertanian yang mengintegrasikan teknologi canggih dan ramah lingkungan, serta berfokus pada efisiensi dan keberlanjutan. Penggunaan drone untuk pemantauan tanaman, sistem irigasi berbasis sensor otomatis, serta teknologi big data untuk meramalkan hasil panen, dipandangnya sebagai kunci untuk menghadapi tantangan produksi dan distribusi.

Al Fansuri percaya bahwa tanpa pendidikan dan pelatihan yang memadai, petani akan kesulitan beradaptasi dengan perubahan zaman. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas petani melalui pendidikan dan akses ke pembiayaan yang lebih mudah, menjadi bagian tak terpisahkan dari rencana transformasi ini. Ia sekaligus menekankan pentingnya penguatan infrastruktur pertanian—mulai dari sistem irigasi hingga jaringan distribusi yang lebih efisien.

baca juga

Tidak hanya soal teknologi dan infrastruktur, Al Fansuri juga mengajak pembaca dan pelaku usaha tani untuk berpikir lebih jauh tentang keberlanjutan pertanian.

“Dalam menghadapi dampak perubahan iklim, pertanian berkelanjutan-seperti teknik agroforestry dan pertanian organik-diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menghasilkan produk yang lebih sehat dan berkualitas.” lanjutnya.

Gambaran buku AL Fansuri diakhiri dengan gagasan tentang Agrikultur 4.0, yaitu era digitalisasi dalam sektor pertanian yang melibatkan penerapan kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan blockchain untuk meningkatkan efisiensi serta transparansi dalam rantai pasok pertanian.

Menurut Al Fansuri, penguasaan teknologi ini akan menjadikan sektor pertanian Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga bersaing di pasar global. Secara keseluruhan karya Agrikultur Progresif adalah buku yang sangat relevan dengan kondisi pertanian Indonesia saat ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Nasib Petani Tembakau dan Cengkeh di Ujung Tanduk, Ini Penyebabnya

Nasib Petani Tembakau dan Cengkeh di Ujung Tanduk, Ini Penyebabnya

Bisnis | Selasa, 14 Januari 2025 | 13:24 WIB

150 Ribu Hektar Sawah Alih Fungsi Jadi Perumahan Setiap Tahun

150 Ribu Hektar Sawah Alih Fungsi Jadi Perumahan Setiap Tahun

Foto | Minggu, 12 Januari 2025 | 21:36 WIB

Petani di Lombok Keluhkan Harga Pupuk Mahal, Begini Penjelasan Kios

Petani di Lombok Keluhkan Harga Pupuk Mahal, Begini Penjelasan Kios

Bisnis | Jum'at, 10 Januari 2025 | 11:19 WIB

Terkini

Dewa United Perkenalkan Eks Timnas, David Singleton jadi Pelatih Baru

Dewa United Perkenalkan Eks Timnas, David Singleton jadi Pelatih Baru

Sport | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 23:10 WIB

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 22:01 WIB

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:55 WIB

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:42 WIB

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:27 WIB

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:23 WIB

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:15 WIB

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:08 WIB

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:00 WIB

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 20:55 WIB

×