Target Produksi Gula 3 Juta Ton Dinilai Ambisius

Jum'at, 02 Januari 2026 | 16:44 WIB
Target Produksi Gula 3 Juta Ton Dinilai Ambisius
Pemerintah menargetkan produksi gula konsumsi mencapai 3 juta ton pada 2026. [Antara]
Baca 10 detik
  • Pemerintah menargetkan produksi gula konsumsi mencapai tiga juta ton pada tahun 2026, sebuah peningkatan ambisius dari tahun-tahun sebelumnya.
  • Jika tercapai, berpotensi membawa Indonesia mencapai swasembada gula lebih cepat dari target Perpres Nomor 40 Tahun 2023.
  • Untuk mencapai target ini, pemerintah mewajibkan perluasan dan optimalisasi lahan tebu seluas 100.000 hektare pada 2026.

Suara.com - Pemerintah menargetkan produksi gula konsumsi mencapai 3 juta ton pada 2026. Target tersebut dinilai ambisius karena melonjak cukup tajam dengan waktu yang sangat singkat.

Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menilai target tersebut memang berpotensi menjadi lompatan besar jika tercapai. Selama bertahun-tahun, produksi gula konsumsi nasional cenderung stagnan.

“Selama bertahun-tahun produksi gula konsumsi tak beranjak jauh dari 2,2-2,4 juta ton. Sementara kebutuhan konsumsi antara 2,8-3 juta ton,” ujar Khudori kepada wartawan, Jumat (2/1/2026).

Ia mencatat, pemerintah melalui Kementerian Pertanian menargetkan produksi gula konsumsi 3 juta ton pada 2026. Angka itu naik sekitar 330.000 ton atau 12,3 persen dari perkiraan produksi 2025 yang berada di level 2,67 juta ton.

Produksi gula konsumsi pada 2025 sendiri disebut mengalami kenaikan sekitar 201.000 ton atau 8,1 persen dibandingkan produksi 2024. Meski demikian, lonjakan menuju 3 juta ton tetap menjadi tantangan besar.

Merujuk Proyeksi Neraca Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 4 Desember 2025, kebutuhan gula konsumsi tahun ini tercatat sebesar 2.808.980 ton atau sekitar 234.082 ton per bulan.

Khudori menilai, dengan asumsi kebutuhan gula konsumsi pada 2026 tidak jauh berbeda, capaian produksi 3 juta ton akan membawa Indonesia pada posisi swasembada gula konsumsi.

“Jika ini benar tercapai, tentu prestasi ciamik,” ucapnya.

Ia menambahkan, capaian tersebut bahkan lebih cepat dua tahun dari target yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati, yang mematok target swasembada pada 2028.

Baca Juga: Sinergi Pemerintah dan Swasta Percepat Target Swasembada Gula

Namun, Khudori mengingatkan bahwa capaian ambisius tersebut tidak lepas dari berbagai prasyarat. Pemerintah menargetkan perluasan tanam dan panen serta optimalisasi lahan tebu hingga 100.000 hektare pada 2026.

Dari target nasional tersebut, sekitar 70.000 hektare atau 70 persen diharapkan berasal dari Jawa Timur. Untuk mempercepat eksekusi di lapangan, pemerintah mendorong sinergi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, BUMN, hingga dukungan aparat penegak hukum.

Menurut Khudori, jika target produksi benar-benar tercapai, Indonesia akan mencatatkan lompatan besar dalam sejarah pergulaan nasional. Namun, ia juga menekankan bahwa target tersebut tidak bisa dilepaskan dari berbagai risiko yang perlu diantisipasi secara serius.

Ia menilai, ambisi swasembada gula konsumsi perlu diiringi dengan kebijakan yang cermat dan perhitungan matang agar lonjakan target produksi tidak justru menimbulkan persoalan baru di sektor pangan.

“Jika target produksi 2026 tercapai, tentu ini lompatan produksi yang luar biasa,” pungkas Khudori.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI