- Harga emas, perak, platinum, dan paladium turun karena Dolar AS menguat setelah data ketenagakerjaan Januari melampaui ekspektasi.
- Penguatan Dolar membuat logam mulia lebih mahal secara global, menahan harapan investor untuk pemotongan suku bunga The Fed segera.
- Pasar menantikan rilis data inflasi dan klaim pengangguran mingguan untuk menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Suara.com - Harga emas dan perak dunia terpantau bergerak turun setelah mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan keperkasaannya.
Penguatan greenback ini dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan periode Januari yang melampaui ekspektasi pasar, sekaligus mendinginkan harapan investor akan pemangkasan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Berdasarkan data pasar terbaru, harga emas spot melemah 0,33% ke level US$ 5.068 per ons troi. Koreksi ini terjadi tepat sehari setelah sang logam kuning sempat menikmati lonjakan harga di atas 1%.
Di bursa berjangka AS, emas untuk kontrak pengiriman April juga terkikis 0,19% ke posisi US$ 5.087,89 per ons troi.
Nasib lebih kurang beruntung dialami oleh perak. Logam putih ini mencatatkan penurunan tajam hingga 1,1% ke level US$ 83,38 per ons troi, menghapus sebagian keuntungan besar setelah sebelumnya sempat terbang 4%.
Tak hanya emas dan perak, logam mulia lainnya seperti platinum dan paladium juga kompak memerah dengan penurunan masing-masing sebesar 0,16% dan 0,19%.
Mengutip laporan Reuters, reli indeks Dolar AS menjadi batu sandungan utama bagi komoditas logam mulia. Laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan bahwa ekonomi Negeri Paman Sam masih berada dalam kondisi yang tangguh.
Secara tak terduga, penyerapan lapangan kerja meningkat pada Januari, sementara tingkat pengangguran berhasil turun ke level 4,3%.
Stabilitas di pasar tenaga kerja ini memberikan alasan kuat bagi Bank Sentral AS (The Fed) untuk tidak terburu-buru menurunkan suku bunga.
Baca Juga: Harga Emas Naik Semua di Pegadaian, Galeri 24 dan UBS Kompak Menguat
Dolar yang menguat secara otomatis membuat emas dan perak menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain (seperti Rupiah), yang pada akhirnya menekan angka permintaan global.
Meski data Januari terlihat impresif, sejumlah pengamat ekonomi memberikan catatan kritis. Muncul dugaan bahwa data tersebut mungkin melebih-lebihkan kondisi riil di lapangan.
Fakta menunjukkan adanya revisi data tahun 2025 yang cukup drastis, di mana ekonomi AS sebenarnya hanya menambah 181.000 lapangan kerja, jauh dari perkiraan semula yang mencapai 584.000.
Analisis pasar memprediksi The Fed tetap akan menahan suku bunga tinggi hingga masa kepemimpinan Jerome Powell berakhir pada Mei mendatang.
Kebijakan pelonggaran atau pemangkasan bunga diproyeksikan baru akan dimulai pada Juni 2026. Namun, pelaku pasar juga mulai berspekulasi mengenai potensi kebijakan yang lebih longgar di bawah calon penggantinya, Kevin Warsh.
Saat ini, fokus dunia tertuju pada dua data krusial yang akan segera dirilis:
- Klaim Pengangguran Mingguan: Dijadwalkan rilis Kamis waktu setempat.
- Data Inflasi: Akan dirilis pada hari Jumat.
Kedua indikator ini akan menjadi kompas bagi arah kebijakan moneter AS selanjutnya, yang secara langsung akan menentukan apakah emas bisa kembali ke tren bullish atau justru melanjutkan koreksinya.
DISCLAIMER: Ulasan ini merupakan rangkap informasi mengenai pergerakan komoditas logam mulia berdasarkan data global per 12 Februari 2026.