- Minat investasi Jepang di Indonesia tetap tinggi dibuktikan penandatanganan kerja sama USD 23,1 miliar di Tokyo.
- Komitmen investasi Jepang menegaskan posisi mereka sebagai kontributor PMA terbesar kelima dengan realisasi USD 3,1 miliar (2025).
- Mayoritas nilai investasi berasal dari proyek gas Abadi Blok Masela antara Pertamina dan perusahaan migas Jepang, INPEX.
Suara.com - Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyebut minat investasi Jepang di Indonesia tetap tinggi meski dunia tengah menghadapi gejolak geopolitik dan geoekonomi global. Hal ini tercermin dari penandatanganan kerja sama ekonomi senilai USD 23,1 miliar dalam Indonesia–Japan Business Forum di Tokyo pada Senin (30/3).
Rosan mengatakan sejumlah komitmen investasi baru dari pemerintah dan pelaku usaha Jepang menunjukkan tingkat kepercayaan yang masih besar terhadap Indonesia.
"Terlepas dari ada geopolitik yang sedang berada di dunia ini, kepercayaan internasional terutama Jepang itu tetap besar dan mereka commit untuk menjalankan investasi yang ada di Indonesia ke depannya," jelas Rosan.
Ia menambahkan, komitmen tersebut juga menegaskan posisi Jepang sebagai salah satu dari lima negara dengan kontribusi terbesar terhadap realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi, realisasi PMA Jepang tercatat sebesar USD 3,1 miliar sepanjang 2025, menjadikannya sebagai kontributor PMA terbesar kelima di Indonesia sepanjang tahun lalu.
"Jadi ini membuktikan bahwa kepercayaan internasional dalam hal ini Jepang, baik oleh pemerintah Jepang maupun para pengusaha Jepang, terhadap Indonesia itu tetap besar," imbuh dia.
Lebih lanjut, Rosan merinci kerja sama ekonomi senilai USD 23,1 miliar tersebut.
Menurutnya, mayoritas nilai investasi, yakni USD 20,9 miliar, berasal dari kerja sama PT Pertamina (Persero) dengan perusahaan migas Jepang, INPEX, dalam pengembangan Lapangan Gas Abadi di Blok Masela.
Selain itu, terdapat sejumlah kesepakatan investasi lain, antara lain kerja sama antara SMBC Aviation Capital dan Danantara senilai sekitar USD 800 juta. Pegadaian juga memperoleh pendanaan dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation sebesar Rp5 triliun (sekitar USD 300 juta) untuk mendukung inklusi keuangan dan pengembangan ekosistem emas.
Rosan juga menyebut adanya kerja sama strategis di sektor kecantikan dan estetika antara perusahaan Jepang 2Way World dan mitra Indonesia senilai USD 500 juta. Selain itu, investasi juga mengalir ke sejumlah proyek panas bumi.
"Memang untuk energi baru terbarukan, Jepang memiliki appetite yang sangat-sangat besar," pungkasnya.