- Harga minyak dunia melemah pada Selasa karena pasar merespons positif potensi de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
- Presiden Amerika Serikat dan Iran memberikan sinyal kesediaan menghentikan operasi militer untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
- Harga minyak Brent dan WTI turun signifikan akibat berkurangnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan pasokan minyak global.
Suara.com - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa, seiring beralihnya minat pelaku pasar ke aset berisiko seperti saham di tengah meningkatnya harapan de-eskalasi konflik di Timur Tengah.
Mengutip Investing, sentimen pasar membaik setelah muncul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer terhadap Iran.
Selain itu, pernyataan dari Presiden Iran yang mengindikasikan negaranya siap mengakhiri perang jika diberikan jaminan keamanan turut menenangkan kekhawatiran pasar.
harga minyak Brent berjangka kontrak Juni sebagai acuan global turun 2,5 persen menjadi 104,75 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,6 persen ke level 102,27 dolar AS per barel.
![Kolase foto Ebrahim Zolfaghari-Donald Trump [Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/25/37100-ebrahim-zolfaghari-donald-trump.jpg)
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tajam setelah insiden kebakaran kapal tanker minyak Kuwait di pelabuhan Dubai. Pemilik kapal menyebut kebakaran tersebut dipicu oleh serangan Iran, sehingga sempat memicu kekhawatiran gangguan pasokan.
Namun, reli tersebut tidak bertahan lama. Laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa Trump memberi sinyal kepada para ajudannya mengenai kesediaan untuk menghentikan kampanye militer terhadap Iran tanpa membuka kembali Selat Hormuz.
Keputusan itu didasari pertimbangan bahwa upaya membuka jalur strategis tersebut membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan awal konflik yang hanya empat hingga enam minggu. Fokus utama AS disebut telah tercapai, yakni melemahkan kekuatan angkatan laut dan kemampuan rudal Iran.
Selanjutnya, Washington disebut akan menekan Teheran melalui jalur diplomasi untuk membuka kembali jalur pelayaran, bahkan mendorong sekutu di Eropa dan kawasan Teluk untuk mengambil peran lebih besar.
Harga minyak pun semakin tertekan di akhir sesi setelah televisi pemerintah Iran melaporkan kesiapan negara tersebut untuk mengakhiri perang, dengan syarat adanya jaminan terhadap serangan lanjutan. Pernyataan itu mengutip Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Meski demikian, risiko terhadap pasokan global masih membayangi. Penutupan Selat Hormuz dalam waktu lama berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia, mengingat sekitar 20 persen pasokan global melewati jalur tersebut.
Kondisi ini membuat pasar tetap waspada, meskipun harapan meredanya konflik mulai memberikan tekanan ke bawah pada harga minyak.