- Rupiah melemah signifikan pada Selasa sore (31/3/2026) ditutup Rp17.041 per dolar AS.
- Pelemahan mata uang ini dipicu kenaikan harga minyak global akibat eskalasi perang Timur Tengah.
- Analis memprediksi pelemahan rupiah akan berlanjut karena sentimen pasar belum menunjukkan pemulihan.
Suara.com - Pergerakan nilai tukar Rupiah berbalik melemah pada penutupan sore ini Selasa (31/3/2026), meski sempat menguat tipis pada pagi tadi.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.041 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Indonesia pun melemah 0,39 persen dibanding penutupan pada Senin (30/3/2026) yang berada di level Rp 17.002 per dolar AS.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.999 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah melemah masih dipengaruhi faktor perang di Timur Tengah yang membuat harga minyak dunia melonjak tinggi.
"Rupiah dan mata uang regional umumnya melemah oleh kekhawatiran eskalasi perang di Timur Tengah," katanya saat dihubungi Suara.com.
Sementara lebih rinci pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) hingga melebihi 57 persen pascapenutupan Selat Hormuz.
"Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global dan sejumlah besar kapal tanker gas alam cair, telah mendorong harga Brent berjangka naik 59 persen sejauh ini pada bulan Maret, kenaikan bulanan tertinggi yang pernah ada. Sementara WTI naik 58 persen bulan ini, yang tertinggi sejak Mei 2020," terang Ibrahim.
Lebih lanjut Lukman menerangkan pelemahan nilai tukar rupiah masih akan berlangsung lama.
"Sentimen masih belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan, rupiah diperkirakan masih akan sulit menguat," tutup Lukman.