Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.855.000
Beli Rp2.725.000
IHSG 7.195,229
LQ45 726,150
Srikehati 345,455
JII 489,856
USD/IDR 17.090

Sejarah Kelam Rp17.100 per Dolar AS: Bagaimana Konflik Timur Tengah Menguras Kas APBN Kita?

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Rabu, 08 April 2026 | 12:16 WIB
Sejarah Kelam Rp17.100 per Dolar AS: Bagaimana Konflik Timur Tengah Menguras Kas APBN Kita?
Mata uang Garuda mencatatkan sejarah kelam pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026) dengan menyentuh level Rp17.100 per dolar AS. Desain Gemini AI.
  • Rupiah capai rekor terlemah Rp17.100 per dolar AS akibat tensi geopolitik Timur Tengah.
  • Menkeu Purbaya tegaskan pelemahan kurs masih sesuai skenario makro dan serahkan ke BI.
  • BI prioritaskan stabilitas lewat intervensi pasar spot dan DNDF guna redam volatilitas.

Suara.com - Mata uang Garuda mencatatkan sejarah kelam pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026) dengan menyentuh level Rp17.100 per dolar AS, posisi terlemah sepanjang masa. Di tengah guncangan ini, pasar menanti sejauh mana sinkronisasi antara kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan kebijakan fiskal pemerintah.

Mengapa Ini Terjadi?

Pelemahan tajam ini bukan semata-mata fenomena domestik, melainkan hasil dari "badai sempurna" di kancah global. Eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu ketidakpastian yang sangat tinggi, mendorong investor menarik modal dari pasar negara berkembang (emerging markets) menuju aset aman (safe haven) seperti dolar AS.

Selain itu lonjakan harga minyak dunia akibat konflik global menjadi pukulan telak bagi fiskal Indonesia. Harga minyak yang telah melampaui asumsi APBN 2026 sebesar USD70 per barel, kini menembus sekitar USD113 per barel.

Kenaikan lebih dari 60% di atas asumsi APBN memicu tekanan signifikan terhadap anggaran negara melalui pembengkakan subsidi dan kompensasi energi.

Dengan ruang fiskal yang semakin terbatas, penyesuaian harga BBM dinilai bukan opsi ideal dalam jangka pendek karena daya beli masyarakat masih lemah. Pemerintah didorong untuk melakukan efisiensi belanja dan realokasi anggaran sebagai langkah realistis menjaga stabilitas fiskal di tengah lonjakan harga minyak global.

BI Siapkan Operasi Moneter Khusus

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa Bank Indonesia telah beralih ke mode "siaga penuh". Fokus utama saat ini bukan lagi mengejar pertumbuhan, melainkan menjaga stabilitas.

"Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia (BI)," kata dia.

Mata uang Garuda mencatatkan sejarah kelam pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026) dengan menyentuh level Rp17.100 per dolar AS, posisi terlemah sepanjang masa. Desain Gemini AI.
Mata uang Garuda mencatatkan sejarah kelam pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026) dengan menyentuh level Rp17.100 per dolar AS, posisi terlemah sepanjang masa. Desain Gemini AI.

Untuk itu, pihaknya akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Pada dasarnya, perang yang masih berlangsung menyebabkan kenaikan harga komoditas. Indonesia mendapatkan tekanan dari kenaikan harga minyak dunia.

Pada sisi lain, Indonesia mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga batu bara, nikel dan lainnya.

"Posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian kita, sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut," pungkasnya.

Purbaya Yakin APBN Kuat Hadapi Volatilitas

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memilih pendekatan yang tenang. Ia menyatakan bahwa level Rp17.000-an masih masuk dalam skenario simulasi makro pemerintah. Dengan kata lain, APBN dianggap masih memiliki daya tahan untuk menanggung volatilitas ini.

Purbaya secara eksplisit memberikan mandat penuh kepada BI sebagai "ahlinya" dalam urusan stabilisasi mata uang. Sikap ini menunjukkan adanya kepercayaan tinggi bahwa instrumen moneter yang dimiliki BI masih cukup kuat untuk meredam kejatuhan lebih dalam.

Pada hari ini Rabu (8/4/2026) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat tinggi. Penguatan itu didorong pelemahan dolar global usai kabar gencatan senjata Iran.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 9.06 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah hari ini melesat 110 poin (0,64%) ke level Rp 16.995 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat turun 0,96% ke level 98,9.

"Rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS menyusul langkah Trump menunda penyerangan terhadap Iran untuk selama 2 minggu menyebabkan penurunan tajam pada harga minyak dan pulihnya sentimen di pasar," kata Analis Doo Financial Futures Lukman Leong.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.999

Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.999

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 10:16 WIB

CELIOS Wanti-Wanti Mandatori B50 Bisa Bikin Rugi Negara

CELIOS Wanti-Wanti Mandatori B50 Bisa Bikin Rugi Negara

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 07:29 WIB

Pemerintah Belanja Ekspansif Sembari Jaga Disiplin Fiskal, Ekonomi Beri Sinyal Positif

Pemerintah Belanja Ekspansif Sembari Jaga Disiplin Fiskal, Ekonomi Beri Sinyal Positif

Bisnis | Selasa, 07 April 2026 | 19:36 WIB

Terkini

Kesepakatan AS-Iran: Gencatan Senjata Dimulai, Selat Hormuz Kembali Dibuka

Kesepakatan AS-Iran: Gencatan Senjata Dimulai, Selat Hormuz Kembali Dibuka

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 11:41 WIB

Emas Antam Naik Lagi, Hari Ini Dibanderol Rp 2,9 Juta/Gram

Emas Antam Naik Lagi, Hari Ini Dibanderol Rp 2,9 Juta/Gram

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 11:06 WIB

Harga Pangan Mulai Melandai, Tapi Cabai Masih Tinggi

Harga Pangan Mulai Melandai, Tapi Cabai Masih Tinggi

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 11:01 WIB

Pembatasan BBM Subsidi 50 Liter per Hari Berlaku sampai Mei 2026

Pembatasan BBM Subsidi 50 Liter per Hari Berlaku sampai Mei 2026

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 10:51 WIB

Kenapa Harga E-Katalog Lebih Mahal? Begini Penjelasan LKPP

Kenapa Harga E-Katalog Lebih Mahal? Begini Penjelasan LKPP

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 10:36 WIB

SeaBank Cetak Laba Bersih Rp 678,4 Miliar di 2025, Meroket 79%

SeaBank Cetak Laba Bersih Rp 678,4 Miliar di 2025, Meroket 79%

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 10:23 WIB

Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.999

Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.999

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 10:16 WIB

IHSG Gaspol, Melejit 2% di Awal Perdagangan Rabu

IHSG Gaspol, Melejit 2% di Awal Perdagangan Rabu

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 09:16 WIB

FTSE Pertahankan IHSG di 'Secondary Emerging Market', Ini Dampaknya

FTSE Pertahankan IHSG di 'Secondary Emerging Market', Ini Dampaknya

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 08:44 WIB

Meski Perang Berkobar Lagi, Wall Street Melenggang Naik

Meski Perang Berkobar Lagi, Wall Street Melenggang Naik

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 08:27 WIB