Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.570.000
Beli Rp2.450.000
IHSG 5.695,116
LQ45 556,746
Srikehati 275,044
JII 335,012
USD/IDR 0

Harga Emas Berpotensi Melemah saat Kurs Rupiah Anjlok, Ini Penyebabnya

M Nurhadi, Fakhri Fuadi Muflih

Senin, 18 Mei 2026 | 06:40 WIB
Harga Emas Berpotensi Melemah saat Kurs Rupiah Anjlok, Ini Penyebabnya
lustrasi - Petugas menata emas batangan di Setiabudi, Jakarta. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc)
baca 10 detik
  • Pengamat Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas domestik berpotensi turun pada awal pekan ini akibat pengaruh pasar global.
  • Penurunan harga emas terjadi karena meredanya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang mengurangi minat investor terhadap aset aman.
  • Harga logam mulia diprediksi terkoreksi hingga mencapai kisaran Rp2.749.000 atau Rp2.685.000 per gram tergantung dinamika pasar internasional.

Suara.com - Harga logam mulia di pasar domestik diperkirakan bakal menghadapi tren penurunan pada perdagangan awal pekan ini. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan adanya potensi koreksi pada harga emas dalam negeri yang dipicu oleh fluktuasi serta potensi melemahnya harga emas di pasar dunia akibat dinamika geopolitik dan arah kebijakan ekonomi global.

Berdasarkan perkembangan pasar terkini, pergerakan instrumen investasi ini terpantau sedang mengalami penyesuaian nilai yang cukup signifikan, mengikuti pergeseran minat investor terhadap aset aman (safe haven).

“Kemudian logam mulianya ditutup di Rp2.769.000 per gram,” kata Ibrahim kepada Suara.com, Minggu (17/5/2026) kemarin.

Apabila tekanan jual di pasar internasional terus mengalami peningkatan hingga mendorong harga emas dunia menembus batas bawah (support) barunya, maka grafik harga logam mulia di dalam negeri pun berisiko terseret turun lebih dalam.

Simulasi Dua Skenario Penurunan Harga

Ibrahim memetakan dua skenario teknikal mengenai potensi koreksi harga komoditas logam mulia ini berdasarkan pergerakan nilai emas di pasar global:

Skenario Pertama (Koreksi Ringan): Jika harga emas di pasar internasional melandai hingga menyentuh level support awal di angka US$4.444 per troy ons, maka harga logam mulia domestik diperkirakan akan mengalami pemangkasan sekitar Rp20.000 dari posisi penutupan saat ini.

“Kemudian untuk logam mulianya kemungkinan besar turun Rp20.000 di Rp2.749.000 per gram,” ujarnya.

Skenario Kedua (Koreksi Lebih Dalam): Tekanan yang jauh lebih berat berpotensi terjadi andai harga emas global terus tertekan hingga menembus batas bawah kedua di level US$4.307 per troy ons.

baca juga

Jika kondisi ini terjadi, nilai logam mulia lokal diproyeksikan merosot tajam.

“Kemudian logam mulianya di Rp2.685.000 per gram. Jadi ada kemungkinan untuk logam mulia di minggu besok kalau seandainya melemah, ya, itu di Rp2.685.000 per gram,” beber dia.

Faktor Geopolitik Selat Hormuz dan Redanya Tensi Global

Dinamika pergerakan nilai emas saat ini dinilai masih sangat sensitif terhadap isu-isu non-ekonomi, khususnya ketidakpastian geopolitik yang melibatkan wilayah Timur Tengah seperti Iran, Israel, serta keterlibatan Amerika Serikat di jalur perdagangan strategis Selat Hormuz.

Menurut analisis fundamental, emas kerap diburu sebagai pelindung nilai ketika tensi politik dunia memanas.

Sebaliknya, apabila eskalasi konflik di kawasan tersebut mulai mereda dan arus distribusi komoditas energi global kembali berjalan normal, daya tarik emas sebagai aset safe haven otomatis akan berkurang, memicu aksi ambil untung (profit taking) yang menurunkan harga.

“Jadi apakah benar nanti Iran akan membuat satu kesepakatan baru dengan Amerika atau tidak, nah, ini saya juga belum tahu,” ucap Ibrahim.
Ia menambahkan, apabila Amerika Serikat memutuskan untuk tidak terlibat secara konfrontatif dalam konflik tersebut dan jalur navigasi internasional seperti Selat Hormuz bisa dipastikan aman serta stabil, pelaku pasar diprediksi akan mengalihkan modal mereka ke instrumen investasi yang lebih berisiko, sehingga mengurangi permintaan terhadap emas secara masif.

Kendati demikian, proyeksi penurunan hingga menyentuh level Rp2.685.000 per gram ini sangat bergantung pada kepastian data fundamental global dalam beberapa hari ke depan.

Jika di lapangan yang terjadi adalah sebaliknya—di mana konflik justru meluas atau ketegangan kawasan kembali meningkat—maka harga emas berpeluang besar untuk berbalik arah dan menguat kembali.


Disclaimer: Proyeksi harga komoditas dan analisis pasar keuangan dalam artikel ini disajikan semata-mata sebagai informasi jurnalisme ekonomi. Setiap keputusan investasi, baik pembelian maupun penjualan logam mulia, sepenuhnya merupakan hak dan tanggung jawab mandiri pembaca.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengapa Komentar Presiden soal Rupiah dan Dolar Menyesatkan sekaligus Berbahaya?

Mengapa Komentar Presiden soal Rupiah dan Dolar Menyesatkan sekaligus Berbahaya?

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 06:05 WIB

Pernyataan Orang Desa Tak Pakai Dolar Menyesatkan, FKBI Ingatkan Prabowo RI Ketergantungan Impor

Pernyataan Orang Desa Tak Pakai Dolar Menyesatkan, FKBI Ingatkan Prabowo RI Ketergantungan Impor

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 19:15 WIB

Pernyataan Presiden soal Dolar Dinilai Bisa Jadi Sentimen Negatif bagi Rupiah

Pernyataan Presiden soal Dolar Dinilai Bisa Jadi Sentimen Negatif bagi Rupiah

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 14:10 WIB

Pengamat UMBY Soroti Pernyataan Prabowo, Harga Tempe Bisa Naik karena Dolar

Pengamat UMBY Soroti Pernyataan Prabowo, Harga Tempe Bisa Naik karena Dolar

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 13:18 WIB

Rupiah Bisa Tembus Rp17.900, Ini Alasan Mata Uang RI Diproyeksi Makin Anjlok!

Rupiah Bisa Tembus Rp17.900, Ini Alasan Mata Uang RI Diproyeksi Makin Anjlok!

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 13:17 WIB

3 Pilihan Aset Aman untuk Investasi saat Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dolar AS

3 Pilihan Aset Aman untuk Investasi saat Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dolar AS

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 11:15 WIB

Terkini

DPR Siap Cecar Tiktok yang Dituding Tahan Duit UMKM hingga Triliunan Rupiah

DPR Siap Cecar Tiktok yang Dituding Tahan Duit UMKM hingga Triliunan Rupiah

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 21:08 WIB

Potongan Aplikasi Ojol 8 Persen Tak Untungkan Mitra Pengemudi

Potongan Aplikasi Ojol 8 Persen Tak Untungkan Mitra Pengemudi

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 20:42 WIB

Minyak Dunia Anjok, Mengapa Harga Pertamax Tak Ikut Turun?

Minyak Dunia Anjok, Mengapa Harga Pertamax Tak Ikut Turun?

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 20:27 WIB

Kapal Tanker Pertamina Berhasil Lolos dari Selat Hormuz, Sisanya Menunggu Aman

Kapal Tanker Pertamina Berhasil Lolos dari Selat Hormuz, Sisanya Menunggu Aman

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 20:16 WIB

Rupiah Menuju Rp18.000 per Dolar AS Lagi, Akan Menguat Jika Investor Asing Kembali ke Indonesia

Rupiah Menuju Rp18.000 per Dolar AS Lagi, Akan Menguat Jika Investor Asing Kembali ke Indonesia

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 20:10 WIB

Bukan Pemain, Manchester United Mau Beli Kredit Karbon Indonesia

Bukan Pemain, Manchester United Mau Beli Kredit Karbon Indonesia

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 20:05 WIB

Antrean BBM Surabaya-Gresik Mulai Terurai, BPH Migas dan Pertamina Perkuat Distribusi

Antrean BBM Surabaya-Gresik Mulai Terurai, BPH Migas dan Pertamina Perkuat Distribusi

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 20:05 WIB

Stok Batu Bara Normal, Bos PLN Janji Tak Ada Mati Lampu

Stok Batu Bara Normal, Bos PLN Janji Tak Ada Mati Lampu

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 19:48 WIB

RI Mulai Dagang Karbon Kehutanan, Potensinya Rp5 Triliun

RI Mulai Dagang Karbon Kehutanan, Potensinya Rp5 Triliun

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 19:35 WIB

Pemerintah Resmi Luncurkan SRUK 9 Juli, Era Baru Perdagangan Karbon Dimulai

Pemerintah Resmi Luncurkan SRUK 9 Juli, Era Baru Perdagangan Karbon Dimulai

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 19:35 WIB

×