Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.501,585
LQ45 638,736
Srikehati 310,420
JII 390,270
USD/IDR 17.774

Biaya Logistik RI Membengkak, Kapal Antre Berhari-hari di Pelabuhan

Achmad Fauzi

Kamis, 21 Mei 2026 | 08:21 WIB
Biaya Logistik RI Membengkak, Kapal Antre Berhari-hari di Pelabuhan
Biaya logistik RI semakin mahal. [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61 persen pada kuartal pertama 2026 terhambat kemacetan kapal di pelabuhan utama Tanjung Perak dan Tanjung Emas.
  • Lonjakan permintaan bongkar muat yang melampaui kapasitas menyebabkan pembengkakan biaya logistik, kerugian operasional, serta keterlambatan jadwal pengiriman barang.
  • PT Pelindo melakukan percepatan operasional dengan menambah alat bongkar muat dan memperbaiki sistem jadwal sandar untuk mengurai antrean kapal.

Suara.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal pertama 2026 ternyata belum sepenuhnya dirasakan sektor riil.

Di balik angka pertumbuhan ekonomi itu, dunia logistik nasional justru menghadapi tekanan berat akibat antrean kapal yang semakin parah di sejumlah pelabuhan utama.

Kemacetan pelabuhan kini mulai berdampak langsung pada biaya logistik nasional. Kapal yang tertahan berhari-hari di area anchorage membuat konsumsi bahan bakar membengkak, jadwal pengiriman berantakan, hingga memicu kerugian berlapis bagi pelaku usaha.

Di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya misalnya, waktu tunggu kapal untuk sandar di Terminal Peti Kemas (TPK) Berlian rata-rata mencapai 30 jam. Kondisi itu terjadi karena lonjakan permintaan layanan belum mampu diimbangi kapasitas bongkar muat.

Aktivitas bongkar muat barang ekspor dan impor di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan. BPS mencatat ekspor Sulsel pada Januari-Maret 2026 anjlok [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Aktivitas bongkar muat barang ekspor dan impor di Pelabuhan Makassar. [SuaraSulsel.id/Istimewa]

Sementara di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, situasinya bahkan sempat lebih parah. Menjelang dan setelah Lebaran 2026, antrean kapal di anchorage mencapai sembilan unit sekaligus dengan waktu tunggu hingga 4-6 hari. Yard Occupancy Ratio (YOR) terminal juga melonjak hingga 90 persen, jauh di atas batas aman 65 persen.

Wakil Direktur Operasi PT Pelayaran Tresnamuda Sejati, H. Sunarno HS, mengungkapkan dampak antrean kapal tersebut sangat besar bagi pelaku usaha pelayaran maupun pemilik barang.

"Biayanya tidak kehitung. Kapal tujuan Jakarta, Surabaya, Semarang, kalau harus menunggu, jadwal seluruh rute berantakan. Shipping cost itu hitungannya dolar. Kita juga banyak dikomplain sama pemilik barang. Bahan baku ditunggu di pabrik. Ruginya double-double, dapat rugi, dapat komplain," ujar Sunarno di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Menurut dia, kerugian bukan hanya berasal dari pemborosan bahan bakar kapal selama menunggu sandar. Efek domino juga merembet ke distribusi logistik darat dan rantai pasok industri.

Akibat kepadatan di Semarang, sejumlah pengusaha di Kawasan Industri Kendal bahkan memilih mengalihkan ekspor melalui Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta atau Tanjung Perak Surabaya. Namun solusi tersebut justru memunculkan biaya tambahan yang tidak kecil.

baca juga

Ketua DPW ALFI Jawa Tengah, Teguh Arif Handoko, menyebut ongkos distribusi darat menjadi jauh lebih mahal karena pengalihan rute tersebut.

"Ngapain kita kirim ke Surabaya, ngapain ke Jakarta, kalau ongkos truknya saja sudah plus-minus Rp 8 juta? Ini menambah cost logistik mereka," kata Teguh.

Ia mengingatkan kapasitas pelabuhan harus segera diperluas karena pertumbuhan volume peti kemas diperkirakan terus meningkat tahun ini.

"Tahun ini minimal naik 10% lagi, bisa 1,1–1,2 juta TEUs. Kawasan industri Jawa Tengah baru berproduksi 30 persen dari kapasitas penuh. Kalau sudah penuh semua, volume akan jauh lebih besar lagi," ujar Teguh.

Senior Manager Hukum dan Humas PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 3, Wahyu Jatmiko, mengakui kapasitas TPK Berlian Surabaya saat ini memang belum mampu mengimbangi lonjakan permintaan.

"Masih terdapat waktu tunggu kapal untuk bertambat di TPK Berlian dengan waktu rata-rata 30 jam. Kapasitas terminal saat ini hanya sanggup melayani 53 call kapal per minggu, sementara permintaan telah melonjak hingga 70 call per minggu,” kata Wahyu.

Untuk mengatasi persoalan itu, Pelindo tengah menyiapkan sejumlah langkah percepatan operasional. Salah satunya dengan menambah dua unit Quay Container Crane (QCC) yang ditargetkan mulai beroperasi penuh pada akhir Juni 2026.

Selain itu, pengelola terminal juga menyiapkan sistem berthing window dan booking priority untuk meningkatkan kepastian jadwal sandar kapal serta mempercepat arus bongkar muat peti kemas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Belanja Negara Melonjak Rp 1.082 T April 2026, Purbaya Bantah Ekonomi Tumbuh karena Dana Pemerintah

Belanja Negara Melonjak Rp 1.082 T April 2026, Purbaya Bantah Ekonomi Tumbuh karena Dana Pemerintah

Bisnis | Rabu, 20 Mei 2026 | 16:19 WIB

Prabowo Tanya ke Bos Parpol Hingga Ormas, Kenapa Penduduk Miskin RI Bertambah?

Prabowo Tanya ke Bos Parpol Hingga Ormas, Kenapa Penduduk Miskin RI Bertambah?

Bisnis | Rabu, 20 Mei 2026 | 13:31 WIB

Prabowo Merasa Yakin Ekonomi RI Tumbuh Hingga 6,5% di 2027

Prabowo Merasa Yakin Ekonomi RI Tumbuh Hingga 6,5% di 2027

Bisnis | Rabu, 20 Mei 2026 | 11:36 WIB

Terkini

QLola by BRI Hadirkan Pengalaman Baru untuk Perkuat Layanan Digital Bisnis

QLola by BRI Hadirkan Pengalaman Baru untuk Perkuat Layanan Digital Bisnis

Bisnis | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 21:06 WIB

Musim Kemarau Ekstrem, Kilang Plaju Salurkan Bantuan Logistik untuk Petugas BPBD Sumsel

Musim Kemarau Ekstrem, Kilang Plaju Salurkan Bantuan Logistik untuk Petugas BPBD Sumsel

Sumsel | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 21:03 WIB

Dokter Gigi Ini Ubah Konsep Klinik untuk Bikin Pasien Lebih Nyaman

Dokter Gigi Ini Ubah Konsep Klinik untuk Bikin Pasien Lebih Nyaman

Lifestyle | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 21:03 WIB

Cerita Mencekam di Balik Tawuran Manggarai: Warga Saling Serang Pakai Petasan hingga Sajam

Cerita Mencekam di Balik Tawuran Manggarai: Warga Saling Serang Pakai Petasan hingga Sajam

News | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 21:02 WIB

Sempat Damai, Tawuran Bukit Duri Pecah Lagi: Lurah Sebut Ada Provokasi Warga Luar

Sempat Damai, Tawuran Bukit Duri Pecah Lagi: Lurah Sebut Ada Provokasi Warga Luar

News | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 21:00 WIB

Bukan Sekadar Tempat Belanja, Wajah Baru Mal Ini Siap Jadi Destinasi Gaya Hidup yang Lebih Berwarna

Bukan Sekadar Tempat Belanja, Wajah Baru Mal Ini Siap Jadi Destinasi Gaya Hidup yang Lebih Berwarna

Lifestyle | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 20:56 WIB

Satyalancana untuk Dekan Unsoed Dipertanyakan di Tengah Polemik Integritas Akademik

Satyalancana untuk Dekan Unsoed Dipertanyakan di Tengah Polemik Integritas Akademik

News | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 20:48 WIB

Jejak Tebangan Kayu Hangus Terbakar Ditemukan di Lokasi Karhutla Jambi

Jejak Tebangan Kayu Hangus Terbakar Ditemukan di Lokasi Karhutla Jambi

Foto | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 20:38 WIB

Satu Minggu Jelang Muktamar, 4 Nama Kandidat Ketum PBNU Mengerucut, Siapa Terkuat?

Satu Minggu Jelang Muktamar, 4 Nama Kandidat Ketum PBNU Mengerucut, Siapa Terkuat?

News | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 20:36 WIB

Guru PPPK Jadi Pegawai Pusat, Pengamat UGM Soroti Ancaman Sentralisasi dan Beban APBN

Guru PPPK Jadi Pegawai Pusat, Pengamat UGM Soroti Ancaman Sentralisasi dan Beban APBN

News | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 20:30 WIB

×