- Rupiah melemah 37 poin ke Rp17.762 per dolar AS pada penutupan perdagangan.
- Investor wait and see jelang keputusan suku bunga The Fed dan BI.
- BI Rate berpotensi jadi penentu rupiah bertahan di bawah Rp18.000.
Suara.com - Pergerakan rupiah kembali kehilangan tenaga pada penutupan perdagangan Rabu (17/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang menanti keputusan suku bunga bank sentral AS dan Indonesia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.762 per dolar AS atau melemah 37 poin (0,21 persen) dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di Rp17.708 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen eksternal. Setelah mencatat penguatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, pasar mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking) yang menekan nilai tukar domestik.
“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS oleh aksi profit taking setelah penguatan besar belakangan ini,” kata Lukman.
Menurutnya, investor saat ini memilih menahan diri dan mencermati hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar malam ini. Selain itu, pasar juga menunggu keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait arah suku bunga acuan (BI Rate).
Lukman memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih relatif terkendali. Bahkan, peluang rupiah bertahan di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS tetap terbuka apabila Bank Indonesia mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga.
“Rupiah diperkirakan masih akan bertahan di bawah Rp18.000 apabila sesuai perkiraan BI menaikkan suku bunga besok,” ujarnya.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang berlangsung bervariasi. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun 0,26 persen terhadap dolar AS. Tekanan juga dialami peso Filipina yang terkoreksi 0,13 persen dan baht Thailand yang melemah 0,06 persen.
Sementara itu, dolar Taiwan turun 0,02 persen, yuan China terdepresiasi 0,01 persen, sedangkan dolar Hong Kong melemah tipis sebesar 0,006 persen.
Di sisi lain, rupee India tampil sebagai mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,25 persen. Yen Jepang menguat 0,16 persen, disusul ringgit Malaysia yang naik 0,10 persen. Dolar Singapura juga mencatat penguatan tipis sebesar 0,02 persen terhadap dolar AS.
Pelaku pasar kini menunggu dua agenda penting yang berpotensi menentukan arah rupiah dalam jangka pendek, yakni keputusan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia. Hasil dari kedua pertemuan tersebut akan menjadi penentu apakah rupiah mampu menjaga jarak dari level Rp18.000 per dolar AS atau justru kembali tertekan dalam beberapa hari ke depan.