Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.699.000
Beli Rp2.575.000
IHSG 6.172,340
LQ45 616,921
Srikehati 300,840
JII 375,650
USD/IDR 17.821

Kejar Pembiayaan Hijau, JAPFA Jadi Pelopor Integrasi LCA dalam Strategi Bisnis

Mohammad Fadil Djailani, Fakhri Fuadi Muflih

Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:39 WIB
Kejar Pembiayaan Hijau, JAPFA Jadi Pelopor Integrasi LCA dalam Strategi Bisnis
Persaingan mendapatkan pendanaan berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (Environmental, Social, and Governance/ESG) semakin sengit. Foto ist.
baca 10 detik
  • JAPFA gunakan data ilmiah untuk menarik pendanaan ESG global.
  • Raup dana hijau US$500 juta lewat obligasi dan pinjaman berkelanjutan.
  • Investor kini menuntut bukti ESG terukur, bukan sekadar komitmen.

Suara.com - Persaingan mendapatkan pendanaan berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (Environmental, Social, and Governance/ESG) semakin sengit. Di tengah derasnya arus investasi global menuju ekonomi berkelanjutan, perusahaan tak lagi cukup mengandalkan janji dan komitmen keberlanjutan di atas kertas.

Kini, investor menuntut bukti yang terukur. Data ilmiah menjadi senjata baru untuk meyakinkan pasar bahwa praktik keberlanjutan benar-benar dijalankan dan memberikan dampak nyata.

Tren tersebut juga mulai merambah sektor peternakan dan agribisnis. Salah satunya dilakukan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) yang mengandalkan pendekatan berbasis sains guna memperkuat akses terhadap pembiayaan berkelanjutan global.

Langkah tersebut diungkapkan dalam Konferensi Social Life Cycle Assessment (S-LCA) di Bogor, Kamis (18/6/2026). Dalam forum itu, JAPFA menyatakan menjadi perusahaan perunggasan terintegrasi pertama di Indonesia yang secara formal mengintegrasikan kajian ilmiah ke dalam strategi pembiayaan perusahaan.

Pendekatan yang digunakan adalah Life Cycle Assessment (LCA) atau analisis siklus hidup, sebuah metode yang mengukur dampak lingkungan dari seluruh rantai produksi perusahaan. Hasil kajian tersebut kemudian dijadikan dasar dalam menyusun target keberlanjutan sekaligus mendukung akses terhadap berbagai instrumen pembiayaan hijau.

Director and Chief Financial Officer Japfa Ltd, Kevin Monteiro, mengatakan keberlanjutan harus menjadi bagian inti dari model bisnis perusahaan apabila ingin memperoleh kepercayaan investor ESG.

"Membangun kredibilitas di mata investor ESG harus dimulai dengan menjadikan keberlanjutan sebagai bagian inti dari bisnis, bukan sekadar inisiatif terpisah. Salah satu cara paling kredibel untuk melakukannya adalah melalui pendekatan LCA berbasis sains," ujar Kevin.

Menurutnya, strategi tersebut telah membantu perusahaan memperoleh sejumlah pendanaan berkelanjutan bernilai jumbo. Pada 2021, JAPFA meraih Sustainability-Linked Bond (SLB) senilai US$350 juta yang diklaim sebagai instrumen pertama di dunia untuk sektor agrifood. Kemudian pada 2025, perusahaan kembali memperoleh Sustainability-Linked Loan (SLL) sebesar US$150 juta.

Menariknya, skema pinjaman terbaru itu tidak hanya memasukkan indikator lingkungan, tetapi juga aspek sosial. Salah satu target yang diukur adalah peningkatan status gizi dan kesejahteraan anak-anak pedesaan melalui program JAPFA for Kids.

baca juga

Untuk memperkuat transparansi kepada investor, perusahaan juga mengembangkan Japfa Sustainability Reporting System (JSRS). Sistem tersebut mengelola lebih dari 5.000 titik data ESG setiap bulan yang berasal dari berbagai unit operasional perusahaan di sejumlah negara.

Tak hanya fokus pada internal perusahaan, JAPFA juga terlibat dalam pengembangan standar keberlanjutan global. Perusahaan berkolaborasi dengan United Nations Environment Programme (UNEP) dalam studi terkait mata pencaharian peternak plasma yang kemudian menjadi salah satu referensi penyusunan pedoman Social Life Cycle Assessment bagi industri perunggasan dunia.

Berbagai upaya tersebut turut mengantarkan JAPFA masuk dalam daftar "World's Best Companies 2025" versi TIME dan Statista. Pada 2026, perusahaan juga meraih penghargaan "Best Sustainability-Linked Loan – Agriculture".

Meningkatnya minat investor terhadap instrumen hijau terlihat dari perkembangan pasar keuangan berkelanjutan di Indonesia. Hingga akhir 2025, nilai penerbitan kumulatif obligasi dan sukuk berkelanjutan telah mencapai Rp74,14 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa perusahaan yang mampu membuktikan kinerja keberlanjutannya secara ilmiah memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan persaingan memperebutkan dana ESG global.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menkes Minta RS dan Klinik Jujur Isi Sensus Ekonomi: Jangan Takut Data Dipakai untuk Pajak

Menkes Minta RS dan Klinik Jujur Isi Sensus Ekonomi: Jangan Takut Data Dipakai untuk Pajak

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 13:35 WIB

Bijak Berbagi Data, Cara Sederhana Melindungi Diri di Era Digital

Bijak Berbagi Data, Cara Sederhana Melindungi Diri di Era Digital

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 09:35 WIB

Digital Edge Kucurkan Investasi Rp73 Triliun, Bangun Kampus Data Center AI Terbesar

Digital Edge Kucurkan Investasi Rp73 Triliun, Bangun Kampus Data Center AI Terbesar

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 07:14 WIB

Terkini

Gapembi Klarifikasi Sikap soal SE MBG, Soroti Tata Kelola Kebijakan

Gapembi Klarifikasi Sikap soal SE MBG, Soroti Tata Kelola Kebijakan

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 20:23 WIB

Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond

Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 18:42 WIB

Pekerja PIPS Tolak Permenaker 7/2026, Khawatir Upah Mandek hingga Ancam Keandalan Listrik

Pekerja PIPS Tolak Permenaker 7/2026, Khawatir Upah Mandek hingga Ancam Keandalan Listrik

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 18:37 WIB

Hadapi Industri yang Makin Kompleks, SIG Andalkan Kualitas SDM

Hadapi Industri yang Makin Kompleks, SIG Andalkan Kualitas SDM

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:53 WIB

Indonesia Gandeng Kuwait Perkuat Kerja Sama Sektor Energi

Indonesia Gandeng Kuwait Perkuat Kerja Sama Sektor Energi

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:48 WIB

Tanggapi MSCI, Ini 8 Strategi Pemerintah Perkuat Pasar Saham RI

Tanggapi MSCI, Ini 8 Strategi Pemerintah Perkuat Pasar Saham RI

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:37 WIB

Rupiah Menguat dan IHSG Rebound, Pelaku Usaha Nilai Kepercayaan Pasar ke RI Mulai Pulih

Rupiah Menguat dan IHSG Rebound, Pelaku Usaha Nilai Kepercayaan Pasar ke RI Mulai Pulih

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:26 WIB

Minat PIP Naik Saat Ancaman PHK Membayangi, Ekonom Minta Pemerintah Fokus Selamatkan Lapangan Kerja

Minat PIP Naik Saat Ancaman PHK Membayangi, Ekonom Minta Pemerintah Fokus Selamatkan Lapangan Kerja

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:17 WIB

Purbaya Kantongi Restu dari Bank Sentral China, Panda Bond Segera Terbit

Purbaya Kantongi Restu dari Bank Sentral China, Panda Bond Segera Terbit

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 16:24 WIB

Oleh-oleh Purbaya dari China: Asian Infrastructure Investment Bank Segera Buka Kantor di RI

Oleh-oleh Purbaya dari China: Asian Infrastructure Investment Bank Segera Buka Kantor di RI

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 16:08 WIB