- Bank Mandiri Taspen dan PNM menyelenggarakan pelatihan vokasi operator jahit sepatu bagi 30 penyandang disabilitas di Brebes, Jawa Tengah.
- Pelatihan selama sepekan ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan teknis agar siap bekerja di industri alas kaki nasional.
- Program ini menjembatani kebutuhan tenaga kerja industri sekaligus memperluas akses lapangan pekerjaan formal bagi para penyandang disabilitas Indonesia.
Suara.com - Industri alas kaki nasional masih membutuhkan tenaga kerja terampil. Sehingga, hal ini bisa menjadi kesempatan bagi para pekerja, khusunya para penyandang disabilitas.
Dalam hal ini, PT Bank Mandiri Taspen menggelar program vokasi bagi penyandang disabilitas di Brebes, Jawa Tengah, guna menyiapkan operator jahit sepatu yang siap diserap dunia usaha.
Program yang digelar bersama PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Tegal itu diikuti 30 peserta dari komunitas difabel di Kabupaten Brebes dan sekitarnya. Selama sepekan, peserta mendapatkan pelatihan keterampilan menjahit dengan skema Operator Jahit Sepatu yang difasilitasi Ruang Amal Indonesia.
Pelatihan tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan industri, sekaligus membuka akses kerja yang lebih luas bagi penyandang disabilitas. Selain mendapatkan keterampilan teknis, peserta juga akan mengikuti proses penempatan kerja di perusahaan industri sepatu yang beroperasi di wilayah Brebes setelah pelatihan selesai.

Kepala Cabang Bank Mandiri Taspen Cabang Pekalongan, Agus Suyana mengatakan, skema pelatihan operator jahit dipilih karena industri alas kaki, khususnya di Jawa Barat dan Banten, masih membutuhkan tenaga kerja yang dapat dilatih dalam waktu relatif singkat.
"Menjahit sepatu adalah skill teknis spesifik yang minim risiko dengan ruang gerak terbatas sehingga cocok untuk penyandang disabilitas baik fisik maupun motorik. Kami berharap, sekali terampil langsung dapat diserap UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) dan industri," ujarnya seperti dikutip, Jumat (26/6/2026).
Ia menjelaskan, program tersebut tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga menjadi jembatan antara kebutuhan tenaga kerja industri dengan penyandang disabilitas yang telah memiliki kompetensi.
Dari sisi pasokan tenaga kerja (supply), peserta dibekali keterampilan hingga tersertifikasi. Sementara dari sisi permintaan (demand), mereka dihubungkan dengan perusahaan garmen maupun industri alas kaki yang membutuhkan operator.
Program ini juga sejalan dengan fungsi Unit Layanan Disabilitas (ULD) Kementerian Ketenagakerjaan sebagai perantara penempatan kerja serta mendukung pengembangan ekosistem pendidikan yang inklusif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat partisipasi kerja penyandang disabilitas di Indonesia masih tergolong rendah. Sementara itu, data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan hanya 702 penyandang disabilitas yang berhasil mendapatkan penempatan kerja melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD) sepanjang 2023.
Selain itu, hingga kini baru terdapat ULD di 28 provinsi atau sekitar 73,7 persen dari total 38 provinsi. Di tingkat kabupaten dan kota, jumlahnya baru mencapai 179 ULD atau 34,82 persen dari total 514 daerah. Kondisi tersebut membuat banyak penyandang disabilitas masih kesulitan memperoleh akses pelatihan maupun pekerjaan formal.
Melalui program ini, Bank Mandiri Taspen berupaya memperluas akses pelatihan vokasi bagi penyandang disabilitas agar memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja dan mandiri secara ekonomi.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja industri sekaligus mendorong terciptanya pemberdayaan yang lebih inklusif.