- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana menerbitkan obligasi Panda Bond di pasar China senilai Rp17,9 triliun tahun ini.
- Tujuannya untuk melakukan diversifikasi sumber pendanaan serta mengurangi ketergantungan pemerintah Indonesia terhadap mata uang Dolar AS.
- Pemerintah memanfaatkan sistem pemeringkatan lokal dan perjanjian transaksi mata uang lokal China untuk mendukung efektivitas penerbitan obligasi.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan sejumlah alasan kenapa Pemerintah akhirnya mencari utang ke China lewat obligasi Panda Bond.
Bagi yang belum tahu, Panda Bond adalah surat utang atau obligasi yang diterbitkan oleh entitas asing, dalam hal ini Pemerintah Indonesia. Surat utang ini diterbitkan di pasar domestik China dengan denominasi mata uang Yuan atau Renminbi (RMB).
Menkeu Purbaya beralasan kalau Pemerintah Indonesia perlu melakukan diversifikasi untuk mengurangi ketergantungan terhadap Dolar AS. Lebih lagi para investor China tidak terlalu terpengaruh dengan lembaga pemeringkat asing seperti S&P Global Ratings, Moody's, dan lainnya.
"Karena investor di China, tidak terlalu dipengaruhi oleh rating atau peringkat dari SNP, Moody's, dan lain-lain. Mereka akan melihat pemeringkat dari China seperti apa," katanya dalam media briefing yang digelar di Kantor Kemenkeu, Jakarta, dikutip Senin (29/6/2026).
Nantinya Panda Bond juga akan dinilai oleh lembaga pemeringkat China. Ia pun yakin kalau hasil penilaian amat baik.
"Panda Bond diperingkat oleh lembaga pemeringkat dari China. Nanti akan di-publish beberapa hari sebelum Panda Bond-nya dijual. Hasilnya sih, kita sudah tahu kira-kira amat baik," lanjutnya.
Purbaya sendiri sempat bertemu dengan perwakilan S&P beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan itu, ia mengklaim lembaga pemeringkat menganggap kondisi ekonomi RI masih positif.
Hanya saja ia masih jengkel dengan indikator penilaian yang dilakukan lembaga asing tersebut. Purbaya berjanji bakal mempelajari lebih lanjut soal apa yang dikeluhkan lembaga pemeringkat global.
"Mereka melihat apakah kita mampu bayar utang, fisikalnya seperti apa. Sudah fisikannya bagus, dia bilang apa, 'Ya tapi kan ada uncertainty di market'. Ya gue juga tahu itu. Lu kebalik. Harusnya kan dilihat fondasi seperti apa. Itu yang saya agak-agak masih kurang mengerti, tapi saya akan membetulkan nanti," jelasnya.
Target cari utang Rp 17,9 T dari Panda Bond
Diketahui Purbaya menargetkan penerbitan Panda Bond senilai 1 miliar Dolar AS atau sekitar Rp 17,9 triliun (kurs Rp 17.937 per Dolar AS). Bahkan dana pinjaman itu bisa lebih apabila kondisi lebih memungkinkan.
"Pertama sih kita targetnya mungkin 1 miliar dolar AS, tapi kita lihat market-nya seperti apa, kalau market-nya bisa lebih besar, kita akan perbesar, tergantung dengan kondisi market-nya," kata Purbaya, dikutip dari Antara, Jumat (19/6/2026).
Untuk menerbitkan Panda Bond, pemerintah, lembaga multilateral, atau perusahaan asing harus memenuhi ketentuan otoritas keuangan China yaitu China People’s Bank of China (PBOC) dan National Association of Financial Market Institutional Investors (NAFMII).
"Waktu pertemuan dengan PBOC, kami diminta melakukan percepatan pengeluaran izinnya tapi memang dari pihak underwriter-nya belum dimasukkan dan pihak PBOC meminta agar segera dimasukkan izinnya sehingga mereka dapat segera memproses. Jadi dukungan mereka ke rencana ini amat baik," papar dia.
Berkat dukungan dari PBOC, Purbaya optimistis Panda Bond dapat diterbitkan tahun ini. Pemerintah masih mempersiapkan book building atau masa penawaran awal, di mana peminjam dan penjamin mengumpulkan minat dan pesanan dari investor dalam rentang harga tertentu.
"Ini minggu depan sudah mulai book building harusnya begitu izinnya keluar ya. Jadi dua minggu lagi sudah putus mungkin," ungkap Purbaya.
Purbaya menyebut, alasan Pemerintah menerbitkan Panda Bond yakni ingin diversifikasi sumber pendanaan pembangunan. Ia tak ingin bergantung pada satu sumber mata uang negara tertentu.
Lebih lagi Indonesia dan China sudah memiliki perjanjian bilateral (local currency transaction) yang mempermudah transaksi antara masyarakat kedua negara.
"Transaksi dengan yuan bisa langsung dikonversi ke rupiah, karena perjanjian antara bank sentral Indonesia dengan bank sentral China. Jadi saya akan coba juga, bisa tidak memakai untuk memanfaatkan langsung bilateral swap agreement tadi sehingga langsung ke rupiah dan akan mengurangi tekanan terhadap Rupiah juga nantinya," tegas Purbaya.