- Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyoroti anomali pasar modal Indonesia di Jakarta pada Selasa (30/6/2026).
- Indikator fundamental ekonomi Indonesia dinilai sangat kuat namun belum mampu mendorong penguatan indeks harga saham gabungan.
- Pelemahan pasar modal disebabkan oleh guncangan sentimen negatif investor, bukan akibat adanya masalah struktural dalam perekonomian nasional.
Suara.com - Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyoroti anomali yang terjadi di pasar modal Indonesia. Menurut dia, berbagai indikator fundamental ekonomi menunjukkan kondisi yang kuat, namun belum mampu mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) maupun mengembalikan kepercayaan investor.
Ia menilai kondisi makroekonomi Indonesia seharusnya menjadi modal besar untuk menarik investasi.
"Situasi makro ekonomi yang bagus ini, fundamental yang bagus ini belum memberikan respons yang memadai oleh pasar," ujarnya Misbakhun di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
![Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). [ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/bar]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/03/85322-ihsg-indeks-harga-saham-gabungan-saham-ihsg-melemah-ihsg-anjlok.jpg)
Ia memaparkan sejumlah indikator ekonomi yang dinilai positif, mulai dari pertumbuhan ekonomi kuartal I yang mencapai 5,61 persen, inflasi yang tetap terkendali, neraca pembayaran yang mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut, hingga cadangan devisa yang dinilai cukup kuat untuk membiayai impor sekitar enam bulan.
Menurutnya, Indonesia juga menjadi salah satu negara anggota G20 yang mampu menjaga pertumbuhan ekonomi secara konsisten di kisaran 5 persen.
Namun, di tengah kondisi tersebut, pasar keuangan justru menghadapi tekanan. Misbakhun menyebut pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan IHSG menunjukkan adanya pertarungan antara fundamental ekonomi dengan sentimen pasar.
"Kita bertemu dengan fundamental yang kuat dilawan oleh persepsi. Ada realitas bahwa ekonomi kita sangat kuat, kemudian diberikan sentimen yang negatif," imbuhnya.
Ia menilai tekanan terhadap pasar modal bukan dipicu persoalan struktural dalam perekonomian nasional, melainkan lebih disebabkan faktor sentimen yang memengaruhi persepsi investor.
"Yang terjadi adalah guncangan sentimen. Tidak ada guncangan struktural di dalam ekonomi. Tidak ada guncangan struktural di dalam ekonomi kita," ucapnya.
Misbakhun mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena penurunan IHSG telah berlangsung cukup lama tanpa diikuti momentum pemulihan seperti yang pernah terjadi pada periode-periode koreksi sebelumnya.
Ia juga mempertanyakan penyebab tekanan yang terus membayangi pasar saham, padahal menurutnya kinerja sebagian besar emiten masih relatif stabil dibandingkan tahun lalu.
"Bayangkan, kalau Bapak, Ibu sekalian perhatikan, kinerja para emiten yang mengalami tekanan itu pada saat ini adalah emiten-emiten yang kinerja korporasinya tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan tahun 2025. Q to Q-nya juga masih berjalan dan tidak ada perubahan. Tetapi kemudian kenapa harga sahamnya begitu menghadapi tekanan?" pungkasnya.