- Perusahaan global seperti Google dan Microsoft berminat membeli kredit karbon Indonesia setelah pertemuan di London Climate Action Week.
- Pemerintah Indonesia akan meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon pada 9 Juli 2026 untuk memfasilitasi transaksi perdagangan karbon nasional.
- Sistem tersebut mendapatkan apresiasi internasional karena menjadi langkah penting pemenuhan komitmen Indonesia sejak Perjanjian Paris tahun 2015.
Suara.com - Sejumlah perusahaan global disebut berminat membeli kredit karbon Indonesia. Nama-nama seperti Amazon, Google, Microsoft, Lufthansa hingga Manchester United masuk dalam daftar calon pembeli yang menunjukkan antusiasme terhadap pengembangan pasar karbon nasional.
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua MPR RI sekaligus delegasi Indonesia untuk London Climate Action Week (LCAW), Eddy Soeparno. Eddy mengaku telah menjalin komunikasi dengan berbagai perusahaan besar tersebut saat menghadiri forum perubahan iklim di London beberapa waktu lalu.
"Kami baru kembali dari London Climate Action Week. Kami bertemu dengan begitu banyak pengembang proyek karbon, dan mereka antusias sekali. Begitu banyak pembeli, calon pembeli karbon di Indonesia, dari Amazon.com, Google, Microsoft, Lufthansa, Manchester United, banyak sekali," kata Eddy dalam konferensi pers Komite Pengarah Nilai Ekonomi Karbon di Jakarta, Rabu (2/7/2026).

Menurut Eddy, tingginya minat perusahaan internasional tersebut menjadi sinyal positif bagi pengembangan perdagangan karbon Indonesia.
Karena itu, pemerintah akan meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) pada 9 Juli 2026 sebagai fondasi transaksi karbon nasional.
"SRUK ini merupakan pintu yang membuka kesempatan kita untuk lepas landas kegiatan karbon, perdagangan karbon kita. Dan ini diharapkan oleh banyak pihak, dan insyaallah tanggal 9 ini merupakan tonggak untuk pembukaan dari SRUK itu," ujarnya.
Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hidup Hashim Djojohadikusumo mengatakan peluncuran SRUK menjadi capaian penting karena sistem tersebut telah dinantikan masyarakat internasional sejak disepakatinya Perjanjian Paris pada COP21 tahun 2015.
"Ini adalah suatu prestasi yang amat luar biasa karena sudah ditunggu oleh masyarakat internasional sejak COP21 di Paris tahun 2015. Dan alhamdulillah sudah, sistem sudah siap untuk launching," kata Hashim.
Ia menambahkan, kesiapan Indonesia membangun ekosistem perdagangan karbon juga mendapat apresiasi dari berbagai negara dan lembaga internasional.
"Saya mau sampaikan saja bahwa sudah dapat pujian-pujian yang banyak, yang luar biasa dari cukup banyak perwakilan asing, ya duta besar, juga perwakilan dari lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia, seperti masyarakat Eropa, European Union, dan sebagainya," pungkasnya.