- Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pertumbuhan lapangan kerja periode Juni melambat dan berada di bawah ekspektasi pasar.
- Data ketenagakerjaan yang melandai meredam kekhawatiran investor terhadap kebijakan suku bunga agresif dari bank sentral Federal Reserve.
- Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga memberikan dampak positif bagi stabilitas pasar saham serta sektor teknologi secara global.
Suara.com - Rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (Non-Farm Payrolls) periode Juni yang cenderung melandai memberikan kelegaan bagi pasar ekuitas Wall Street.
Data ini meredam kecemasan para investor yang sebelumnya khawatir bahwa kokohnya pasar tenaga kerja akan memaksa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), bertindak lebih agresif (hawkish) dalam melawan inflasi.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pertumbuhan lapangan kerja pada bulan Juni melambat di luar perkiraan pasar. Selain itu, data penciptaan lapangan kerja untuk dua bulan sebelumnya juga direvisi menjadi lebih rendah.
Rangkaian data ini mengindikasikan bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS mulai mendingin namun tetap berada dalam level yang stabil. Kondisi ini langsung mendorong pasar finansial global untuk menurunkan ekspektasi terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed dalam waktu dekat.
Melandainya data sektor tenaga kerja dinilai memberikan ruang bernapas dan waktu tambahan bagi pasar saham.
Momentum ini krusial mengingat lonjakan valuasi saham, volatilitas tinggi pada emiten berkapitalisasi triliunan dolar, serta koreksi tajam berkala sempat memicu kekhawatiran adanya gelembung (bubble) di sektor tertentu.
Merespons laporan tersebut, bursa saham AS sempat bergerak menguat sebelum akhirnya kembali melandai, sementara mata uang dolar AS terpantau melemah seiring para pelaku pasar yang memangkas proyeksi kenaikan suku bunga pada September mendatang.
"Laporan ketenagakerjaan ini membuat siapa pun yang mengkhawatirkan kenaikan suku bunga segera oleh The Fed bisa bernapas lega," kata Adam Sarhan, Chief Executive 50 Park Investments di New York. "Ini bukan berarti ketakutan akan inflasi telah berakhir. Langkah ini hanya meredakan tekanan bagi The Fed untuk mengerek suku bunga dalam jangka pendek," tambahnya.
Mengurangi Tekanan pada Saham Sektor Teknologi
Sebelumnya pada bulan lalu, para investor sempat merasakan bagaimana reli pasar saham sebesar 10% sepanjang tahun ini dapat berbalik arah dengan cepat.
Hal itu terjadi setelah The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juni, namun memproyeksikan adanya kenaikan biaya pinjaman di akhir tahun ini akibat kekhawatiran terhadap lonjakan harga.
Proyeksi hawkish tersebut sempat memicu kecemasan investor terkait tingginya belanja korporasi berbasis utang untuk sektor kecerdasan buatan (AI).
Dampaknya, harga saham-saham sektor teknologi raksasa yang selama ini mendominasi pasar sempat mengalami koreksi.
Oleh karena itu, laporan ketenagakerjaan terbaru ini dinilai dapat meyakinkan para pembuat kebijakan di The Fed bahwa pasar tenaga kerja saat ini tidak lagi memanaskan mesin inflasi.
Berdasarkan data LSEG, kontrak berjangka Fed funds menunjukkan peluang berimbang (50:50) bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September nanti.
Meskipun banyak analis mengingatkan untuk tidak terlalu terpaku pada satu laporan berkala saja—mengingat tingginya volatilitas data dalam beberapa bulan terakhir—mereka sepakat bahwa perlambatan ini memberikan fleksibilitas waktu bagi The Fed sekaligus menjadi sentimen positif (tailwind) bagi pasar saham dalam jangka pendek.
"Pola konsisten dari moderasi kondisi pasar tenaga kerja dan meredanya inflasi akan memperkuat argumen bagi kebijakan The Fed yang lebih akomodatif serta mendukung prospek pasar saat ini," ujar Anshul Sharma, Chief Investment Officer di Savvy Wealth, dilansir dari Reuters.
Sharma menambahkan bahwa prospek suku bunga yang lebih rendah secara umum akan menyokong valuasi ekuitas, khususnya pada sektor-sektor yang berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang seperti teknologi.
Peluang Penyesuaian Harga dan Fokus pada Laba Emiten
Kendati ada sedikit penurunan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga tahun ini, masih terdapat perbedaan pandangan antara pelaku pasar dengan mayoritas ekonom yang meyakini bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga sama sekali pada tahun 2026.
Celah perbedaan ini mengindikasikan masih adanya ruang untuk penyesuaian harga di pasar (re-pricing).
Di sisi lain, momentum pasar dan ekspektasi kinerja keuangan emiten dinilai masih menjadi penggerak utama pasar saham dibandingkan sekadar data ekonomi makro.
Setelah mencatatkan musim laporan keuangan kuartal pertama yang kuat pada jajaran perusahaan S&P 500, para investor kini menantikan apakah hasil kinerja kuartal kedua dalam beberapa minggu ke depan mampu menjustifikasi tingginya valuasi saham saat ini.
Meski demikian, para ahli strategi pasar menilai jika ekspektasi kenaikan suku bunga terus memudar, hal tersebut akan menjadi katalis positif tambahan bagi pasar modal.
"Situasi ini tentu akan menggeser arah pasar menuju postur yang lebih berani mengambil risiko (risk-on)," pungkas Mark Hackett, Chief Market Strategist di Nationwide.