- BRI Danareksa Sekuritas memangkas target harga saham BBCA menjadi Rp8.600 pada Kamis, 30 Juli 2026, karena kenaikan suku bunga bebas risiko.
- BBCA membukukan laba bersih sebesar Rp30,3 triliun pada semester I 2026, yang tumbuh 2 persen secara tahunan.
- Analis tetap mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA karena fundamental yang solid serta potensi kenaikan harga sekitar 38,2 persen.
Suara.com - BRI Danareksa Sekuritas memangkas target harga emiten perbankan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi Rp8.600 per saham dari sebelumnya Rp10.900.
Meski demikian, perusahaan sekuritas tersebut tetap mempertahankan rekomendasi Buy karena menilai prospek fundamental BBCA masih solid.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano menjelaskan, penurunan target harga dilakukan akibat penyesuaian asumsi biaya modal (cost of equity/CoE) yang mencerminkan kenaikan tingkat suku bunga bebas risiko (risk-free rate), bukan karena memburuknya kinerja perseroan.
Dengan harga saham BBCA di level Rp6.225, target harga baru tersebut masih memberikan potensi kenaikan (upside) sekitar 38,2 persen.
Victor Stefano mengatakan pihaknya tetap mempertahankan proyeksi kinerja dan rekomendasi beli terhadap saham BBCA meski target harga disesuaikan.\

"Kami tetap mempertahankan proyeksi kinerja dan rekomendasi beli (Buy) untuk BBCA, namun menurunkan target harga menjadi Rp8.600 karena menyesuaikan asumsi cost of equity yang lebih tinggi seiring kenaikan tingkat suku bunga bebas risiko," ujar Victor dalam risetnya yang dikutip, Kamis (30/7/2026).
Ia menambahkan, secara taktis untuk tiga bulan ke depan, saham BBCA masih layak berada pada posisi overweight (OW).
"Meskipun masih terdapat tekanan dari meningkatnya risiko negara dan arus keluar dana asing yang berlanjut, kami melihat ruang penurunan valuasi BBCA sudah terbatas karena saat ini valuasinya telah mendekati level terendah secara historis berdasarkan cost of equity maupun price to book value (PBV)," ujar Victor Stefano.
Dari sisi kinerja, BBCA membukukan laba bersih sebesar Rp14,9 triliun pada kuartal II 2026, relatif stabil dibandingkan kuartal sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.
Sepanjang semester I 2026, laba bersih mencapai Rp30,3 triliun, tumbuh 2 persen secara tahunan dan telah memenuhi sekitar 49 persen dari estimasi laba bersih sepanjang tahun 2026.
Menurut Victor Stefano, tekanan terhadap margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) masih terjadi pada semester pertama. Namun, biaya pencadangan (cost of credit/CoC) yang tetap rendah mampu menopang kinerja laba perusahaan.
Ke depan, BRI Danareksa memperkirakan NIM BBCA akan membaik pada semester II 2026 seiring meningkatnya imbal hasil kredit korporasi setelah penyesuaian suku bunga pinjaman.
Manajemen juga tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit sebesar 8-10 persen, dengan proyeksi NIM di kisaran 5,4-5,6 persen, cost of credit 0,4-0,5 persen, dan rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) 31-33 persen.
BRI Danareksa menilai prospek BBCA tetap menarik, meski investor masih perlu mencermati risiko yang berasal dari potensi penurunan kualitas aset apabila kondisi makroekonomi memburuk.
Disclaimer: Artikel ini merupakan informasi pasar dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.