Investor Mulai Cemas, Mengapa Kekosongan Gubernur BI Picu Kekhawatiran Independensi?

Mohammad Fadil Djailani, Rina Anggraeni

Jum'at, 31 Juli 2026 | 10:42 WIB
Investor Mulai Cemas, Mengapa Kekosongan Gubernur BI Picu Kekhawatiran Independensi?
Kekosongan kursi Gubernur Bank Indonesia (BI) setelah pengunduran diri Perry Warjiyo mulai memunculkan alarm di kalangan pelaku pasar. Desain Suara.com/AI
baca 10 detik
  • Kekosongan Gubernur BI picu kekhawatiran independensi bank sentral.
  • Investor asing berpotensi keluar jika kredibilitas BI dipertanyakan.
  • Destry pastikan kebijakan BI tetap sama meski kursi gubernur kosong.

Suara.com - Kekosongan kursi Gubernur Bank Indonesia (BI) setelah pengunduran diri Perry Warjiyo mulai memunculkan alarm di kalangan pelaku pasar. Bukan sekadar soal siapa penggantinya, investor kini lebih mencemaskan apakah bank sentral masih mampu menjaga independensinya di tengah dinamika politik dan ekonomi.

Kekhawatiran tersebut muncul karena independensi BI selama ini dipandang sebagai fondasi utama dalam menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, hingga mempertahankan kepercayaan investor. Ketika posisi orang nomor satu di BI belum terisi secara definitif, pasar mulai mempertanyakan arah kebijakan moneter ke depan.

Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana mengatakan perhatian investor saat ini bukan hanya tertuju pada figur pengganti Perry Warjiyo, melainkan pada jaminan bahwa BI tetap berdiri sebagai lembaga yang independen.

"Yang paling utama itu terkait independensi BI. Ada kekhawatiran apabila pengunduran diri Pak Perry dikaitkan dengan dorongan dari pemerintah atau pihak lain. Selama ini BI merupakan lembaga yang independen, sehingga ketika terjadi pengunduran diri tentu muncul kekhawatiran tersebut," ujar Fikri kepada Suara.com.

Menurutnya, ketidakpastian akan semakin besar apabila posisi Gubernur BI dibiarkan kosong terlalu lama atau diisi oleh sosok yang dinilai memiliki kedekatan politik. Kondisi tersebut berpotensi memicu perubahan persepsi risiko terhadap Indonesia.

"Kalau posisi itu kosong terlalu lama atau digantikan sosok yang kurang independen, tentu bisa menjadi perhatian pasar. Namun saat ini kita masih menunggu siapa penggantinya karena belum ada kepastian," katanya.

Ancaman Dana Asing Keluar

Kekhawatiran terhadap independensi BI dinilai tidak berhenti pada aspek psikologis pasar. Jika kepercayaan investor mulai terkikis, dampaknya dapat menjalar ke berbagai instrumen keuangan.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai keraguan terhadap independensi maupun konsistensi kebijakan BI dapat memicu lonjakan volatilitas di pasar saham, obligasi, maupun nilai tukar rupiah.

baca juga

"Jika independensi atau konsistensi kebijakan dipertanyakan, volatilitas pada IHSG, rupiah, maupun Surat Berharga Negara (SBN) berpotensi meningkat karena investor akan meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi," ujarnya.

Artinya, investor asing berpotensi menahan ekspansi bahkan mengurangi eksposur di Indonesia apabila melihat risiko kebijakan meningkat. Kondisi tersebut dapat menambah tekanan terhadap rupiah dan mendorong kenaikan imbal hasil surat utang negara.

Pandangan serupa disampaikan Senior Economist DBS Bank Radhika Rao. Menurutnya, perubahan kepemimpinan di bank sentral merupakan salah satu indikator penting yang selalu dipantau investor global karena berkaitan langsung dengan kredibilitas kebijakan moneter.

"Ke mana arahnya dan bagaimana arah kebijakan secara umum? Saya pikir perubahan kelembagaan merupakan sesuatu yang juga diperhatikan dengan saksama oleh investor asing," katanya.

Emiten Berutang Dolar Paling Rentan

Efek domino dari hilangnya kepercayaan terhadap BI juga berpotensi dirasakan dunia usaha.

Nafan menjelaskan sektor yang sensitif terhadap perubahan suku bunga dan arus modal asing akan menjadi kelompok pertama yang merasakan tekanan. Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat memperbesar beban emiten yang memiliki pinjaman dalam mata uang asing.

"Rupiah yang melemah juga dapat meningkatkan beban bagi emiten dengan kewajiban dalam mata uang asing," ujarnya.

Situasi tersebut berpotensi menekan kinerja sejumlah perusahaan, terutama yang memiliki eksposur utang dolar dalam jumlah besar.

Investor Disarankan Hindari Agresivitas

Di tengah ketidakpastian tersebut, Fikri menyarankan investor ritel untuk lebih berhati-hati. Strategi investasi jangka panjang dinilai belum ideal hingga kepastian mengenai Gubernur BI definitif diperoleh.

"Strateginya mungkin lebih ke hit and run atau transaksi jangka pendek. Investor perlu lebih intens mencermati pergerakan pasar. Untuk investasi jangka panjang, sebaiknya jangan terlalu agresif terlebih dahulu sampai situasinya lebih jelas," katanya.

Ia juga menilai pasar akan lebih nyaman apabila pemerintah memilih figur yang berasal dari internal BI. Rekam jejak sebagai bankir sentral dianggap lebih mampu menjaga kepercayaan investor dibanding figur yang memiliki kedekatan dengan politik.

"Kuncinya adalah independensi dan rekam jejak. Kalau sosok yang dipilih mampu menunjukkan bahwa dia benar-benar independen, pasar akan lebih percaya. Sebaliknya, jika tidak, dampaknya bisa meluas terhadap seluruh aset keuangan Indonesia," ujar Fikri.

Destry Pastikan Kebijakan BI Tak Berubah

Di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar, Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti memastikan arah kebijakan bank sentral tetap berjalan seperti sebelumnya.

Destry menegaskan dirinya menjalankan tugas sebagai Pj Gubernur BI sesuai amanat Undang-Undang Bank Indonesia hingga gubernur definitif ditetapkan. Menurutnya, pergantian kepemimpinan tidak mengubah sikap kebijakan BI.

Ia memastikan BI tetap memprioritaskan stabilitas rupiah, pengendalian inflasi, serta menjaga sektor eksternal melalui intervensi di pasar valuta asing, termasuk pasar spot, DNDF, dan NDF.

Selain itu, BI tetap memperkuat koordinasi dengan pemerintah, OJK, dan LPS melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), serta melanjutkan kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pembiayaan UMKM, ekonomi syariah, dan ekonomi hijau.

Meski demikian, penegasan tersebut belum sepenuhnya menghapus perhatian pasar. Selama kursi Gubernur BI belum terisi secara definitif, pelaku pasar diperkirakan masih akan terus mencermati proses pemilihan pemimpin baru bank sentral sebagai penentu arah kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Destry Singgung Independensi BI Usai Perry Warjiyo Mundur

Destry Singgung Independensi BI Usai Perry Warjiyo Mundur

Bisnis | Jum'at, 31 Juli 2026 | 09:38 WIB

Kriteria Khusus Calon Gubernur BI Pilihan Prabowo Wajib 'Merah Putih', Destry Masuk Pertimbangan?

Kriteria Khusus Calon Gubernur BI Pilihan Prabowo Wajib 'Merah Putih', Destry Masuk Pertimbangan?

News | Kamis, 30 Juli 2026 | 19:11 WIB

Usai Perry Warjiyo Mundur, Prabowo: Kita Harus Jadi Satu Tim yang Mendukung!

Usai Perry Warjiyo Mundur, Prabowo: Kita Harus Jadi Satu Tim yang Mendukung!

Bisnis | Kamis, 30 Juli 2026 | 18:29 WIB

Terkini

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:01 WIB

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Jabar | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:50 WIB

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

Jakarta | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:47 WIB

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Bogor | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:43 WIB

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:31 WIB

Bahlil Curiga LNG Indonesia ke Singapura Dijual Lagi, Ada Apa?

Bahlil Curiga LNG Indonesia ke Singapura Dijual Lagi, Ada Apa?

Video | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:15 WIB

Pendapatan Barito Pacific Melonjak 56%, Laba Bersih Tembus US$616 Juta

Pendapatan Barito Pacific Melonjak 56%, Laba Bersih Tembus US$616 Juta

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:09 WIB

Floral, Fruity, atau Woody? Kenali Karakter Aroma Sebelum Memilih Parfum

Floral, Fruity, atau Woody? Kenali Karakter Aroma Sebelum Memilih Parfum

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:08 WIB

Cegah Balap Liar! JLNT Antasari Ditutup Tiap Akhir Pekan Mulai 14 November

Cegah Balap Liar! JLNT Antasari Ditutup Tiap Akhir Pekan Mulai 14 November

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:59 WIB

×