- Sejumlah riset menemukan toksikan produk alternatif lebih rendah dari rokok.
- Studi Bern dan JAMA menunjukkan vape berpotensi bantu perokok dewasa berhenti.
- BRIN menemukan toksikan produk tembakau dipanaskan turun hingga 80-90%.
Suara.com - Perdebatan mengenai produk tembakau alternatif terus berkembang seiring bertambahnya penelitian ilmiah di berbagai negara. Sejumlah kajian menunjukkan rokok elektronik atau vape, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin memiliki paparan sejumlah zat berbahaya yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.
Temuan tersebut mendorong berkembangnya pendekatan tobacco harm reduction atau pengurangan risiko bagi perokok dewasa yang masih kesulitan menghentikan kebiasaan merokok.
Berbagai penelitian umumnya menyoroti dua aspek utama, yakni perbedaan paparan toksikan dibandingkan rokok serta potensi produk tersebut sebagai alternatif bagi perokok dewasa yang ingin berhenti atau beralih dari rokok.
Berikut empat temuan penelitian yang menjadi sorotan.
1. Kajian Inggris Sebut Risiko Lebih Rendah 90-95 Persen
Salah satu kajian yang banyak menjadi rujukan adalah Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products yang diterbitkan otoritas kesehatan Inggris pada 2018.
Kajian tersebut menyimpulkan bahwa rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan memiliki profil risiko yang diperkirakan sekitar 90-95 persen lebih rendah dibandingkan rokok.
Perbedaan tersebut terutama dikaitkan dengan tidak adanya proses pembakaran tembakau seperti pada rokok konvensional. Pembakaran menghasilkan asap yang mengandung TAR serta berbagai senyawa berbahaya.
Meski demikian, produk alternatif tetap mengandung nikotin dan bukan produk yang bebas risiko.
2. Riset Universitas Bern: Berpotensi Membantu Perokok Beralih
Bukti lainnya datang dari penelitian klinis Electronic Nicotine-Delivery Systems for Smoking Cessation yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine pada Februari 2024.
Penelitian yang melibatkan peneliti dari Institute of Primary Health Care Universitas Bern, Swiss, tersebut membandingkan efektivitas penggunaan produk penghantar nikotin elektronik dengan pendekatan konseling berhenti merokok.
Pemimpin penelitian, Reto Auer, mengatakan penelitian tersebut dilakukan untuk melihat efektivitas, keamanan, dan toksikologi produk tersebut dalam membantu perokok dewasa berhenti merokok.
"Studi itu untuk membandingkan efektivitas, keamanan, dan toksikologi produk tembakau alternatif sebagai solusi berhenti dari kebiasaan merokok dibandingkan dengan metode lainnya," kata Auer, seperti dikutip Jumat (7/8/2026).
Hasil penelitian menunjukkan penggunaan produk penghantar nikotin elektronik dapat meningkatkan peluang perokok untuk berhenti merokok sepenuhnya dibandingkan konseling tanpa penggunaan produk tersebut.
3. Studi JAMA: Vape Jadi Alat Berhenti Merokok yang Banyak Digunakan
Penelitian lain yang diterbitkan JAMA Network pada Januari 2025 turut menunjukkan perubahan pola perokok dewasa di Inggris.
Dalam penelitian berjudul Prevalence of Popular Smoking Cessation Aids in England and Associations With Quit Success, rokok elektronik menjadi metode yang paling banyak digunakan dalam upaya berhenti merokok selama periode 2023-2024.
Sebanyak 40,2 persen upaya berhenti merokok dilakukan dengan bantuan rokok elektronik.
Studi tersebut juga menemukan upaya berhenti merokok yang dibantu rokok elektronik memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan terapi pengganti nikotin atau nicotine replacement therapy (NRT).
"Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan beralih dari kebiasaan merokok dapat meningkat dengan mendorong penggunaan metode yang lebih efektif," tulis penelitian tersebut.
Temuan ini memperlihatkan bahwa rokok elektronik telah menjadi salah satu alat yang digunakan sebagian perokok dewasa dalam proses transisi dari rokok konvensional.
4. Penelitian BRIN: Toksikan Lebih Rendah karena Tanpa Pembakaran
Indonesia juga memiliki penelitian terkait profil toksikan produk tembakau alternatif.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui penelitian Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO's Nine Toxicants pada 2025 menemukan kadar sejumlah toksikan pada rokok elektronik lebih rendah dibandingkan rokok berdasarkan pengujian terhadap sembilan toksikan utama yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
BRIN juga melakukan penelitian terhadap produk tembakau yang dipanaskan. Hasilnya menunjukkan adanya potensi penurunan paparan zat berbahaya dibandingkan rokok konvensional.
Peneliti BRIN Prof. Bambang Prasetya mengatakan hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan paparan berbagai toksikan pada produk tembakau yang dipanaskan.
"Studi pada produk tembakau yang dipanaskan menunjukkan secara konsisten penurunan zat toksikan berisiko terhadap kesehatan hingga 80-90 persen dibandingkan rokok," jelas Bambang.
Bukan Tanpa Risiko
Rangkaian penelitian tersebut menunjukkan pola yang relatif konsisten: produk tembakau alternatif tidak menghasilkan asap dari pembakaran tembakau seperti rokok konvensional sehingga paparan sejumlah toksikan dapat lebih rendah.
Namun, temuan tersebut tidak berarti produk tembakau alternatif sepenuhnya aman.
Produk yang mengandung nikotin tetap memiliki risiko dan bukan pilihan bagi nonperokok, terutama anak-anak dan remaja. Karena itu, pendekatan pengurangan risiko ditujukan pada perokok dewasa yang sudah merokok dan kesulitan berhenti.
Dengan semakin banyaknya penelitian dari berbagai negara, perdebatan mengenai produk tembakau alternatif kini tidak hanya berkutat pada apakah produk tersebut aman atau tidak, tetapi juga bagaimana profil risikonya dibandingkan rokok dan apakah produk tersebut dapat membantu perokok dewasa beralih.