- Wall Street tertekan aksi jual saham teknologi dan kenaikan yield obligasi.
- Bursa Asia ikut melemah di tengah ketegangan AS-Iran dan kenaikan harga minyak.
- IHSG berpotensi koreksi terbatas, enam saham masuk radar trading BNI Sekuritas.
Suara.com - Bursa saham global kembali berada di bawah tekanan. Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (18/8), terseret aksi jual saham teknologi dan kenaikan yield obligasi Amerika Serikat (AS) yang memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi serta meningkatnya biaya pinjaman.
Berdasarkan riset BNI Sekuritas, indeks S&P 500 turun 53,30 poin, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 1,33%. Dow Jones Industrial Average juga melemah 0,22%.
Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, terutama saham semikonduktor. Saham Nvidia turun 2,3%, sementara Micron Technology anjlok 7%. Indeks Semikonduktor Philadelphia SE bahkan merosot 5%.
Aksi jual juga menghantam saham perusahaan penyimpanan data. Sandisk dan Western Digital masing-masing turun 9% dan 7,4%. ETF Roundhill Memory turut merosot 8,8% setelah sebelumnya menguat selama lima sesi berturut-turut.
Investor mulai mengurangi eksposur terhadap saham teknologi yang sebelumnya mengalami reli besar berkat lonjakan permintaan terkait kecerdasan buatan (AI). Kenaikan yield obligasi membuat valuasi saham berbasis ekspektasi pertumbuhan tinggi menjadi kurang menarik.
Tekanan pasar semakin besar setelah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah mendorong harga minyak naik lebih dari 2%. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi sehingga investor meminta imbal hasil lebih tinggi pada obligasi pemerintah AS.
Yield Treasury AS tenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, yield tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025.
Kondisi Wall Street tersebut turut menekan bursa Asia. Pada perdagangan Selasa (18/8), mayoritas indeks saham Asia bergerak melemah.
KOSPI Korea Selatan turun 1,55%, sedangkan KOSDAQ anjlok 3,5%. Nikkei 225 Jepang juga merosot 2,5%. S&P/ASX 200 Australia turun tipis 0,03% dan Taiex Taiwan melemah 1,2%.
Sementara itu, Hang Seng Hong Kong masih mampu menguat tipis 0,07%.
Pergerakan pasar juga dipengaruhi ketegangan AS dan Iran. Ketidakpastian mengenai kelanjutan gencatan senjata dan kebuntuan negosiasi membuat investor meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko geopolitik dan dampaknya terhadap harga energi.
IHSG Berpotensi Koreksi Terbatas
Di tengah tekanan bursa global, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sebelumnya justru ditutup menguat 0,76%. Namun, penguatan tersebut dibarengi dengan aksi jual bersih investor asing sekitar Rp689 miliar.
Sejumlah saham yang paling banyak dilepas investor asing antara lain ISAT, BBRI, DSSA, TPIA dan ASII.
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman mengatakan IHSG masih berpotensi mengalami koreksi terbatas pada perdagangan hari ini.
"IHSG berpotensi koreksi terbatas hari ini," kata Fanny.
Secara teknikal, level support IHSG berada di kisaran 6.330-6.400. Sementara itu, area resistance berada pada level 6.500-6.550.
Enam Saham Jadi Pilihan Trading
Di tengah potensi koreksi IHSG, BNI Sekuritas menyiapkan sejumlah saham yang dapat menjadi perhatian investor untuk strategi trading.
BBCA menjadi salah satu pilihan dengan strategi speculative buy pada area Rp6.200-Rp6.300. Batas cut loss berada di bawah Rp6.200, dengan target Rp6.375-Rp6.575.
PADA direkomendasikan dengan strategi buy on weakness di area Rp230-Rp240. Cut loss di bawah Rp230 dan target terdekat Rp254-Rp268.
Sementara TPIA menjadi pilihan speculative buy di sekitar Rp1.965 dengan cut loss di bawah Rp1.950. Target berada pada Rp2.010-Rp2.060.
Untuk CUAN, area speculative buy berada di Rp820-Rp840 dengan cut loss di bawah Rp820. Target terdekat Rp855-Rp875.
ANTM juga masuk daftar pilihan dengan area speculative buy sekitar Rp3.100. Cut loss ditetapkan di bawah Rp3.080, sedangkan target berada di Rp3.130-Rp3.160.
Adapun PANI direkomendasikan dengan area speculative buy Rp6.000-Rp6.075. Investor dapat mempertimbangkan cut loss di bawah Rp5.925 dengan target Rp6.125-Rp6.200.