- Dana Norwegia US$2,4 triliun terancam koreksi saham AI.
- Stress test menunjukkan kerugian bisa mencapai 18% atau Rp8.100 triliun.
- Ledakan investasi AI menjadi risiko baru bagi kekayaan Norwegia.
Suara.com - Demam investasi kecerdasan buatan (AI) yang mendorong lonjakan saham teknologi mulai memunculkan kekhawatiran serius. Peringatan bahkan datang dari pengelola dana kekayaan negara terbesar di dunia, Government Pension Fund Global (GPFG) Norwegia.
CEO GPFG Nicolai Tangen memperingatkan bahwa koreksi tajam di pasar saham yang dipicu oleh valuasi perusahaan AI dapat menimbulkan kerugian besar bagi portofolio dana tersebut.
Melansir DW.com, Rabu (19/8/2026), Tangen menyebut skenario ekstrem berupa keruntuhan pasar bukan sesuatu yang sepenuhnya mustahil. GPFG saat ini memiliki aset sekitar US$2,4 triliun atau sekitar Rp42,9 kuadriliun.
"Kerugian besar terhadap portofolio kami bukan sesuatu yang sepenuhnya mustahil," kata Tangen.
GPFG dibentuk untuk menginvestasikan pendapatan minyak dan gas Norwegia ke berbagai aset global. Kinerja dana tersebut mencatat hasil luar biasa pada paruh pertama 2026 dengan keuntungan mencapai 1.753 miliar kroner Norwegia atau sekitar Rp3,3 kuadriliun.
Namun, di balik keuntungan tersebut terdapat risiko yang semakin besar. Lonjakan saham perusahaan chip dan teknologi yang berkaitan dengan AI telah ikut mengerek nilai investasi GPFG ke level tinggi.
Tangen menilai koreksi besar pada saham-saham AI berpotensi menghapus sebagian kekayaan yang telah dibangun Norwegia selama tiga dekade.
Kekhawatiran tersebut muncul ketika perusahaan teknologi raksasa dunia berlomba menggelontorkan dana dalam jumlah fantastis untuk membangun ekosistem AI. Investasi global untuk chip, pusat data, jaringan, hingga infrastruktur energi diperkirakan menembus lebih dari US$1 triliun atau sekitar Rp17,9 kuadriliun.
Profesor keuangan University of Oklahoma Bill Megginson mengatakan kekhawatiran terhadap valuasi saham memang semakin besar. Namun, banyak pengelola dana tetap mempertahankan investasinya karena belum terlihat tanda-tanda kuat bahwa investasi besar-besaran pada AI mulai rapuh.
"Tidak banyak pengelola dana yang bersedia mengambil keuntungan sekarang, ketika pembangunan teknologi yang begitu fundamental, didorong oleh tingkat belanja modal yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya, sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda kerapuhan," ujar Megginson kepada DW.
Menurutnya, para investor berada dalam posisi sulit. Keluar terlalu cepat dari pasar dapat membuat mereka kehilangan potensi keuntungan apabila revolusi AI terus berlanjut.
Bank for International Settlements (BIS) sebelumnya telah memperingatkan bahwa euforia terhadap AI dapat berubah menjadi kejatuhan pasar apabila hasil investasi tidak mampu memenuhi ekspektasi investor.
Risiko tersebut semakin kompleks karena China juga terus mengembangkan model AI dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat.
Bagi GPFG, persoalan pengelolaan risiko menjadi semakin rumit karena strategi investasinya sangat mengikuti indeks global. Berbeda dengan sejumlah sovereign wealth fund di Arab Saudi dan Singapura yang agresif masuk ke private equity, infrastruktur, dan real estat, Norwegia lebih banyak berinvestasi melalui saham dan obligasi yang mengikuti benchmark global.
Ketua riset keuangan Norwegian School of Economics Karin Thorburn mengatakan strategi tersebut memang memberikan keuntungan berupa diversifikasi yang luas. Namun, konsekuensinya adalah ruang bagi pengelola dana untuk keluar dari tren pasar menjadi terbatas.