RI Sayangkan Negara Maju Kurang Serius Benahi Emisi Global

Mohammad Fadil Djailani

Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:49 WIB
RI Sayangkan Negara Maju Kurang Serius Benahi Emisi Global
Ilustrasi emisi karbon. (Freepik/freepik)
baca 10 detik
  • Indonesia sentil negara maju yang dinilai mundur dari tanggung jawab emisi global.
  • RI tegaskan adaptasi iklim sebagai pilar pembangunan dan kemakmuran nasional.
  • Indonesia dorong kearifan lokal sebagai solusi menghadapi perubahan iklim.

Suara.com - Indonesia menyoroti sikap sejumlah negara maju yang dinilai mulai menghindari tanggung jawab kolektif dalam menangani polusi dan perubahan iklim, meski kekuatan ekonomi mereka masih menyumbang porsi besar terhadap emisi global.

Sorotan tersebut disampaikan Menteri Lingkungan Hidup RI Moh Jumhur Hidayat dalam Pertemuan Menteri Lingkungan negara-negara anggota BRICS di New Delhi, India, Selasa (18/8/2026). Pertemuan tersebut diikuti 10 dari 11 negara anggota BRICS.

Dalam paparannya, Jumhur mengaku prihatin terhadap adanya negara maju dengan kekuatan ekonomi besar yang memilih mundur dari tanggung jawab bersama untuk mengatasi polusi dan perubahan iklim.

"Menurut Jumhur, cara kita mengelola sumber daya alam, membentuk lanskap, mencegah degradasi lingkungan, dan membangun ketahanan pada akhirnya akan membentuk keberlanjutan pembangunan kita."

Indonesia juga menekankan pentingnya perlindungan keanekaragaman hayati darat dan laut sebagai fondasi ekosistem yang sehat, ketahanan iklim, serta pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dalam jangka panjang.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan biodiversitas terbesar di dunia. Negara ini menjadi rumah bagi lebih dari 300 ribu spesies yang telah diketahui, termasuk 9,7% tumbuhan berbunga dunia, 14% mamalia, dan 18,6% burung.

Di sektor kelautan, Indonesia yang berada di jantung Segitiga Karang memiliki sekitar 23% hutan mangrove dunia, 16% spesies ikan laut global dan 10% spesies karang dunia. Kekayaan tersebut menjadi penopang penting bagi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sekaligus jutaan mata pencaharian masyarakat.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17 ribu pulau, Indonesia juga berada di garis depan dampak perubahan iklim. Lebih dari 60% penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir sehingga kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan bencana terkait iklim berpotensi langsung mengganggu kehidupan masyarakat.

Jumhur menegaskan perubahan iklim bukan lagi ancaman yang berada jauh dari kehidupan masyarakat. Dampaknya dapat menggerus hasil pembangunan, mengganggu mata pencaharian, hingga membuat kelompok rentan kembali terjebak dalam kemiskinan.

baca juga

"Oleh karena itu, bagi Indonesia, adaptasi iklim bukanlah agenda pinggiran. Ini adalah pilar utama pembangunan berkelanjutan dan pengaman bagi kemakmuran nasional kita," ujar Jumhur.

Indonesia, lanjutnya, telah memberlakukan Rencana Adaptasi Nasional 2026–2030 sebagai peta jalan untuk membangun ketahanan terhadap perubahan iklim sekaligus mendukung pencapaian Visi Indonesia Emas 2045.

Jumhur juga menilai solusi menghadapi perubahan iklim tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Pengetahuan tradisional masyarakat dinilai memiliki peran penting dalam membangun ketahanan lingkungan.

"Masyarakat adalah pihak pertama yang merasakan dampak perubahan iklim dan memiliki wawasan yang tak ternilai tentang pola cuaca lokal dan pengelolaan sumber daya alam," katanya.

Menteri Lingkungan Hidup RI Moh Jumhur Hidayat dalam Pertemuan Menteri Lingkungan negara-negara anggota BRICS di New Delhi, India, Selasa (18/8/2026).Foto ist
Menteri Lingkungan Hidup RI Moh Jumhur Hidayat dalam Pertemuan Menteri Lingkungan negara-negara anggota BRICS di New Delhi, India, Selasa (18/8/2026).Foto ist

Dalam forum BRICS tersebut, Jumhur memperkenalkan tiga praktik tradisional Indonesia yang dinilai berhasil mendukung keberlanjutan lingkungan, yakni sistem irigasi Subak di Bali, Sasi Lompa di Maluku, dan Awig-Awig di Bali.

Subak mengintegrasikan pengelolaan air, kerja sama masyarakat, dan praktik spiritual. Sementara Sasi Lompa merupakan sistem tradisional pengelolaan perikanan berkelanjutan. Adapun Awig-Awig merupakan sistem hukum adat yang digerakkan masyarakat di Bali.

"Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa hidup selaras dengan alam bukan hanya warisan budaya, tetapi juga alat yang ampuh untuk adaptasi dan ketahanan iklim," ujar Jumhur.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mulai 2027, Perusahaan Tak Bisa Lagi Sembunyikan Jejak Emisi Karbon

Mulai 2027, Perusahaan Tak Bisa Lagi Sembunyikan Jejak Emisi Karbon

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:45 WIB

Sering Tak Disadari, Seberapa Besar Jejak Karbon di Balik Kebiasaan Scrolling TikTok?

Sering Tak Disadari, Seberapa Besar Jejak Karbon di Balik Kebiasaan Scrolling TikTok?

Lifestyle | Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:51 WIB

Mengapa Kemenhut Dorong Perdagangan Karbon Berintegritas?

Mengapa Kemenhut Dorong Perdagangan Karbon Berintegritas?

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:55 WIB

Terkini

Rutan Depok Laporkan Dugaan Keterlibatan Petugas ke Polisi, 22 Warga Binaan Turut Diperiksa

Rutan Depok Laporkan Dugaan Keterlibatan Petugas ke Polisi, 22 Warga Binaan Turut Diperiksa

Jabar | Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:36 WIB

Geger Video Diduga Pesta Narkoba di Rutan Depok, Barang Terlarang Lolos Masuk Sel

Geger Video Diduga Pesta Narkoba di Rutan Depok, Barang Terlarang Lolos Masuk Sel

Jabar | Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:27 WIB

Polisi Masih Selidiki Kematian Siswa SD di Pemalang, Autopsi Telah Dilakukan

Polisi Masih Selidiki Kematian Siswa SD di Pemalang, Autopsi Telah Dilakukan

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:10 WIB

Warga OKI Ditemukan Meninggal di Tengah Karhutla, Diduga Terjebak Asap dan Api

Warga OKI Ditemukan Meninggal di Tengah Karhutla, Diduga Terjebak Asap dan Api

Sumsel | Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:06 WIB

Palmex Medan 2026 Kembali Digelar, 250 Perusahaan Akan Pamerkan Inovasi dan Teknologi Terkini

Palmex Medan 2026 Kembali Digelar, 250 Perusahaan Akan Pamerkan Inovasi dan Teknologi Terkini

Sumut | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:52 WIB

Densus 88 Tangkap 11 Tersangka Teroris di Enam Provinsi, Termasuk Riau

Densus 88 Tangkap 11 Tersangka Teroris di Enam Provinsi, Termasuk Riau

Riau | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:49 WIB

Aaliyah Massaid Punya Kebiasaan Bersihkan Wajah Sebelum Bertemu Anak

Aaliyah Massaid Punya Kebiasaan Bersihkan Wajah Sebelum Bertemu Anak

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:44 WIB

Leonardo DiCaprio Soroti Karhutla, 800 Ribu Hektar Hutan Terbakar: Ke Mana Orangutan Pergi?

Leonardo DiCaprio Soroti Karhutla, 800 Ribu Hektar Hutan Terbakar: Ke Mana Orangutan Pergi?

Kalbar | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:24 WIB

63 Jenazah Korban Virgo Teridentifikasi, Jawa Timur Terbanyak dengan 28 Orang

63 Jenazah Korban Virgo Teridentifikasi, Jawa Timur Terbanyak dengan 28 Orang

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:13 WIB

Sensasi Berburu Jajanan Viral ala Chatuchak Bangkok Kini Bisa Dirasakan di Kelapa Gading

Sensasi Berburu Jajanan Viral ala Chatuchak Bangkok Kini Bisa Dirasakan di Kelapa Gading

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:07 WIB

×