- Kementerian ESDM mengonversi PLTD tua di daerah 3T menjadi PLTS berbasis baterai untuk mengurangi impor bahan bakar solar.
- Program PLTS 100 GWp berinvestasi Rp1.120 triliun untuk menciptakan 5,52 juta lapangan kerja dan menurunkan emisi karbon.
- Konversi energi ini mengalihkan konsumsi diesel empat juta kiloliter per tahun serta menghemat Biaya Pokok Penyediaan listrik.
Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprioritaskan konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) tua dan tidak efisien menjadi PLTS berbasis baterai (storage). Program yang menyasar daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) ini merupakan bagian dari pengembangan PLTS 100 Gigawatt-peak (GWp).
Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis, Jisman P Hutajulu, menyatakan bahwa konversi ini difokuskan pada daerah dengan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik yang tinggi, wilayah yang sulit memobilisasi bahan bakar solar, serta sistem off-grid.
"Jadi ada daerah dengan biaya pokok penyediaan yang tinggi, terutama yang di 3T, kemudian ada daerah yang sulit mobilisasi bahan bakar diesel. PLTD yang bukan backup system dan off-grid ini yang kita sasar," ujar Jisman dalam paparannya pada Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta pada Kamis (3/9/2026).

Melalui program konversi tersebut, potensi konsumsi bahan bakar diesel yang dapat dialihkan mencapai 4 juta kiloliter per tahun.
Pengalihan dari diesel ke energi surya ini diproyeksikan memberikan penghematan BPP listrik. "Jadi ada penghematan Rp400 per KWH," kata Jisman.
Selain menekan biaya operasional pembangkit, penyediaan PLTS dan storage di kawasan 3T juga diarahkan untuk menunjang aktivitas ekonomi lokal, seperti mendukung keandalan listrik bagi pendingin hasil tangkapan nelayan serta operasional Koperasi Desa/Kelurahan setempat.
Sebelumnya, Pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 GWp dalam waktu sekitar tiga tahun. Program ambisius tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.
Target tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam peluncuran dan groundbreaking Program PLTS 100 GWp yang turut dihadiri Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia serta jajaran terkait.
Prabowo mengatakan Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar, termasuk tenaga surya dan panas bumi, yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan percepatan pembangunan PLTS 100 GW dalam tiga tahun merupakan bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional.
Tak hanya mengejar tambahan kapasitas pembangkit energi bersih, program tersebut juga diarahkan untuk mendorong penggunaan energi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).
"Hari ini kita mempercepat implementasi program PLTS 100 GW. Total investasinya sekitar 73 miliar dolar AS atau Rp1.120 triliun, yang berpotensi menciptakan sekitar 5,52 juta lapangan kerja dan menurunkan emisi hingga 120 juta ton CO per tahun. Program ini akan kita laksanakan secara masif dalam tiga tahun, sekaligus mendorong penggunaan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM," kata Bahlil