Pasar Saham AS Rontok! Wall Street Berdarah Akibat Rekor Terburuk Sejak 2007

M Nurhadi

Kamis, 24 September 2026 | 06:04 WIB
Pasar Saham AS Rontok! Wall Street Berdarah Akibat Rekor Terburuk Sejak 2007
Ilustrasi: Para pialang sedang bekerja memperhatikan layar monitor pergerakan saham di Bursa Efek New York, Wall Street, Amerika Serikat. REUTERS/Brendan McDermid/aa.
baca 10 detik
  • Pasar saham AS terkoreksi pada Rabu akibat lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun.
  • Aktivitas bisnis AS yang melesat pada September mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed.
  • Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran serta rencana pertemuan tingkat tinggi turut membebani sentimen pasar global.

Suara.com - Pasar saham Amerika Serikat (AS) mengalami koreksi pada perdagangan Rabu, seiring dengan melonjaknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level tertinggi sejak 2007.

Pergerakan pasar ini dipicu oleh rilis data aktivitas bisnis AS yang secara mengejutkan melesat ke titik tertinggi dalam lebih dari lima tahun terakhir pada bulan September.

Berdasarkan laporan S&P Global, Indeks Output PMI Komposit AS—yang melacak sektor manufaktur dan jasa—naik ke angka 58,4 pada bulan ini. Pencapaian ini merupakan level tertinggi sejak Juli 2021, yang didorong oleh lonjakan pesanan baru.

Pakar strategi makro dari FHN Financial, Will Compernolle, menilai bahwa data tersebut tidak sekadar menunjukkan ekonomi yang tangguh, melainkan perekonomian yang sedang overheating (terlalu panas). Menurutnya, pertumbuhan yang terlalu kuat ini tidak lagi seimbang dan justru berpotensi memperburuk tekanan inflasi.

Prospek ekonomi yang memanas ini mendorong ekspektasi pelaku pasar bahwa bank sentral AS (The Fed) masih perlu menaikkan suku bunga guna menekan inflasi yang terpantau kaku di atas target 2 persen. Imbasnya, imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun yang sensitif terhadap suku bunga naik menjadi 4,891 persen.

Sementara itu, imbal hasil patokan tenor 10 tahun melesat 13,89 basis poin menjadi 5,106 persen, mencetak rekor tertinggi sejak 2007 sekaligus lompatan harian terbesar sejak April 2025.

Sejalan dengan hal tersebut, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Oktober kini diperkirakan mencapai 66 persen oleh para trader, naik dari estimasi sebelumnya di level 53 persen.

Sentimen hawkish juga diperkuat oleh Gubernur The Fed, Michael Barr, yang mengisyaratkan bahwa bank sentral mungkin masih perlu menyesuaikan kembali biaya pinjaman jangka pendek untuk menjinakkan inflasi.

Di tengah lonjakan imbal hasil ini, minat investor terhadap surat utang juga terlihat lesu. Lelang surat utang pemerintah AS bertenor 5 tahun senilai USD 70 miliar mencatatkan permintaan yang lemah, dengan yield penjualan lelang mencapai titik tertinggi sejak 2007.

baca juga

Kenaikan imbal hasil obligasi ini memberikan pukulan langsung pada pasar ekuitas karena biaya pembiayaan perusahaan menjadi lebih mahal dan investor mulai beralih kembali ke pasar obligasi. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,68 persen, S&P 500 susut 0,75 persen, dan Nasdaq Composite anjlok 1,13 persen berbalik arah setelah sempat mencetak rekor tertinggi sehari sebelumnya. Tren negatif ini juga menjalar ke pasar global, terlihat dari pelemahan indeks STOXX 600 Eropa sebesar 0,44 persen dan indeks saham global MSCI yang terkoreksi 0,73 persen.

Faktor Geopolitik dan Komoditas

Dari sisi geopolitik, sentimen pasar turut dibebani oleh eskalasi retorika antara AS dan Iran di Sidang Majelis Umum PBB. Pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump menunjukkan bahwa kedua belah pihak masih jauh dari kesepakatan damai.

Ketidakpastian geopolitik tersebut langsung berimbas pada pasar energi. Harga minyak mentah AS terkerek 2,3 persen menjadi USD 92,60 per barel, sementara minyak brent melonjak 4,28 persen ke level USD 103,50 per barel.

Ke depan, perhatian pasar juga akan tertuju pada rencana pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington yang diprediksi akan membahas isu perdagangan, teknologi, dan hubungan dengan Teheran.

Di pasar valuta asing, ekspektasi kenaikan suku bunga AS berhasil menguatkan posisi dolar terhadap sejumlah mata uang utama. Euro melemah 0,55 persen menjadi USD 1,1384, titik terendahnya sejak akhir Juli.

Dolar AS juga menguat 0,61 persen terhadap yen Jepang ke posisi 158,33, membuat pelaku pasar mewaspadai potensi intervensi dari otoritas Jepang. Sementara itu, harga emas di pasar spot ikut tertekan, turun 1,64 persen menjadi USD 4.283,40 per ons.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Laba Operasional BABY Meledak 271%, Integrasi MTI-EGI Baru 56%

Laba Operasional BABY Meledak 271%, Integrasi MTI-EGI Baru 56%

Bisnis | Rabu, 23 September 2026 | 21:05 WIB

IHSG Tiba-tiba Menghijau ke Level 6.300, Ini Pendorongnya

IHSG Tiba-tiba Menghijau ke Level 6.300, Ini Pendorongnya

Bisnis | Rabu, 23 September 2026 | 17:05 WIB

Morgan Stanley Borong 400 Juta Saham GOTO, Harga Diskon 46 Persen

Morgan Stanley Borong 400 Juta Saham GOTO, Harga Diskon 46 Persen

Bisnis | Rabu, 23 September 2026 | 16:09 WIB

Terkini

Sulap Sampah Plastik Menjadi Kostum Jutaan Rupiah, Kisah Gotong Royong Kampung Pancasila Gunungsari

Sulap Sampah Plastik Menjadi Kostum Jutaan Rupiah, Kisah Gotong Royong Kampung Pancasila Gunungsari

Jatim | Sabtu, 07 November 2026 | 19:02 WIB

Kemiskinan Struktural Punya Dampak ke Anak dan Pendapatan Keluarga

Kemiskinan Struktural Punya Dampak ke Anak dan Pendapatan Keluarga

Your Say | Sabtu, 07 November 2026 | 19:00 WIB

Kenapa Polo Indonesia Murah? Ini 5 Hal yang Membedakan dari Ralph Lauren

Kenapa Polo Indonesia Murah? Ini 5 Hal yang Membedakan dari Ralph Lauren

Lifestyle | Sabtu, 07 November 2026 | 18:59 WIB

Rosiade Padel Tournament 2026 Sabet Dua Rekor MURI, Erick Thohir: Menpora Saja Susah Dapat

Rosiade Padel Tournament 2026 Sabet Dua Rekor MURI, Erick Thohir: Menpora Saja Susah Dapat

Sport | Sabtu, 07 November 2026 | 18:59 WIB

Rosiade Padel Tournament Seri 3, Tetap Gratis Demi Lahirkan Atlet Berprestasi

Rosiade Padel Tournament Seri 3, Tetap Gratis Demi Lahirkan Atlet Berprestasi

Sport | Sabtu, 07 November 2026 | 18:54 WIB

Hyundai Siapkan Lebih Banyak Model Hybrid Manfaatkan Insentif Pemerintah

Hyundai Siapkan Lebih Banyak Model Hybrid Manfaatkan Insentif Pemerintah

Otomotif | Sabtu, 07 November 2026 | 18:50 WIB

Peran Satwa Surili Jawa pada Ekologis Lingkungan dari Ancaman Deforestasi

Peran Satwa Surili Jawa pada Ekologis Lingkungan dari Ancaman Deforestasi

Your Say | Sabtu, 07 November 2026 | 18:45 WIB

Menakar Peluang AHY Gantikan Gibran Jadi Wapres: Peta Koalisi dan Tantangan Politiknya

Menakar Peluang AHY Gantikan Gibran Jadi Wapres: Peta Koalisi dan Tantangan Politiknya

Video | Sabtu, 07 November 2026 | 18:40 WIB

Bulog Raih CNN Indonesia Awards 2026, Bukti Keberhasilan Stabilisasi dan Distribusi Pangan Nasional

Bulog Raih CNN Indonesia Awards 2026, Bukti Keberhasilan Stabilisasi dan Distribusi Pangan Nasional

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 18:39 WIB

Ancaman Cuaca Ekstrem Mengintai, Polres Malang Siagakan 800 Personel Kepung 4 Zona Rawan Bencana

Ancaman Cuaca Ekstrem Mengintai, Polres Malang Siagakan 800 Personel Kepung 4 Zona Rawan Bencana

Malang | Sabtu, 07 November 2026 | 18:37 WIB

×