- Komisi independen menyatakan Manchester City terbukti melakukan 114 pelanggaran regulasi keuangan Premier League.
- Pejabat tinggi UEA memperingatkan bahwa sanksi terhadap klub berpotensi merusak hubungan diplomatik dan ekonomi Inggris.
- Kementerian Luar Negeri Inggris menolak membuka dokumen diplomatik demi menjaga stabilitas hubungan bilateral kedua negara.
Suara.com - Putusan komisi independen yang menyatakan Manchester City terbukti bersalah atas 114 dari 115 dakwaan pelanggaran regulasi keuangan Premier League tidak lagi sekadar menjadi krisis internal kompetisi sepak bola. Kasus ini telah meluas menjadi isu geopolitik sensitif yang mengancam hubungan diplomatik serta kemitraan ekonomi antara Pemerintah Inggris dan Uni Emirat Arab (UEA).
Laporan investigasi dari Bloomberg dan The Telegraph mengungkapkan bahwa para pejabat tinggi UEA sebelumnya telah melayangkan peringatan terselubung kepada pemerintah Inggris.
Pihak UEA menegaskan bahwa sanksi berat atau vonis negatif terhadap Manchester City berpotensi merusak hubungan diplomatik dan mengganggu komitmen investasi ekonomi yang tengah dibangun kedua negara.
Bagi Abu Dhabi, Manchester City bukan sekadar aset olahraga, melainkan trophy asset paling strategis yang memproyeksikan kekuatan pengaruh halus (soft power) UEA di panggung global.
Selain investasi langsung dalam pembaruan kawasan Manchester, UEA memegang portofolio perdagangan bilateral dengan Inggris senilai £25 miliar (sekitar Rp500 triliun). Kekhawatiran akan penarikan atau penundaan modal investasi inilah yang sempat memicu kecemasan di internal pemerintahan Inggris.
Tingginya sensitivitas politik kasus ini terbukti dari langkah Kementerian Luar Negeri Inggris (Foreign, Commonwealth & Development Office/FCDO) yang menolak membuka dokumen korespondensi diplomatik Kedutaan Besar Inggris di Abu Dhabi terkait kasus Man City.
FCDO menolak permintaan akses publik tersebut dengan alasan eksplisit bahwa pengungkapan dokumen dapat merusak hubungan bilateral Inggris-UEA.
Meski membayangi dinamika diplomasi di balik layar, Pemerintah Inggris menyatakan tetap memegang teguh prinsip non-intervensi terhadap hukum olahraga.
"Investasi asing sangat diterima, namun intervensi yang tidak semestinya terhadap integritas sepak bola Inggris tidak akan ditoleransi," tegas Menteri Kebudayaan dan Olahraga Inggris, Lisa Nandy.
Profil Kekayaan dan Gurita Bisnis Sheikh Mansour
Di pusat lingkaran krisis geopolitik ini berdiri pemilik mayoritas Manchester City, Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan. Sebagai bagian dari dinasti Kerajaan Abu Dhabi (Al Nahyan)—keluarga kerajaan terkaya di dunia dengan estimasi total kekayaan mencapai US$300 miliar—Sheikh Mansour menggabungkan pengaruh politik tingkat tinggi dengan kekuatan modal tanpa batas.
Selain menjabat sebagai Wakil Presiden Uni Emirat Arab sejak Maret 2023, ia memegang deretan posisi kunci dalam struktur pemerintahan dan tata kelola finansial strategis UEA, di antaranya:
- Ketua Mubadala Investment Company: Mengelola dana abadi (sovereign wealth fund) milik negara dengan total aset kelolaan global mencapai US$330 miliar (sekitar Rp5.500 triliun).
- Ketua Bank Sentral UEA (CBUAE): Penentu arah kebijakan moneter dan stabilitas perbankan nasional UEA.
- Pemimpin Lembaga Strategis: Menjabat sebagai Ketua Departemen Peradilan Abu Dhabi (ADJD), Ketua Dana Pembangunan Abu Dhabi (ADFD), serta anggota Dewan Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC).
Imperium City Football Group dan Ancaman Sanksi
Keterlibatan Sheikh Mansour di dunia olahraga dimulai saat mengakulasi saham mayoritas Manchester City pada September 2008 senilai £200 juta. Sejak saat itu, ia membangun gurita bisnis olahraga global di bawah naungan City Football Group (CFG).
Portofolio kepemilikan klub di bawah bendera CFG kini membentang di lima benua, mencakup:
- Eropa: Manchester City (Inggris), Girona FC (Spanyol), Lommel SK (Belgia), ESTAC Troyes (Prancis), Palermo FC (Italia).
Amerika & Australia: New York City FC (AS), Montevideo City Torque (Uruguay), Bahia (Brasil), Melbourne City (Australia). - Asia: Yokohama F. Marinos (Jepang), Shenzhen Peng City (Tiongkok), Mumbai City (India), serta kemitraan dengan Club Bolivar (Bolivia).
Kini, prestasi yang dibangun selama 15 tahun terakhir—termasuk raihan 8 trofi Premier League dan 1 gelar Liga Champions—terancam oleh sanksi 114 pelanggaran finansial.
Jika vonis hukuman berupa pengurangan poin masif hingga pencoretan (eksklusi) dari kompetisi benar-benar dijatuhkan, dampaknya dipastikan tidak hanya meruntuhkan skuat bertabur bintang seperti Erling Haaland, melainkan juga menguji ketahanan diplomasi antara London dan Abu Dhabi.