- Hilirisasi nikel mengubah Kawasi menjadi kawasan ekonomi baru atau boomtown.
- Luas permukiman Kawasi lebih dari dua kali lipat pada 2016-2024.
- Pendidikan jadi kunci agar warga lokal ikut menikmati masa depan ekonomi Kawasi.
Suara.com - Matahari pagi di Desa Kawasi lumayan menyengat mata sekaligus menghangatkan tubuh. Tanah di sudut Maluku Utara yang kaya mineral ini semakin sibuk oleh deru mesin tambang dan hiruk pikuk para pekerja dengan helm dan baju seragam lapangannya.
Kegiatan proyek hilirisasi nikel di Pulau Obi menjadi bagian keseharian masyarakat desa itu. Namun, pagi itu, deru mesin industri seolah menjadi latar suara tawa anak-anak SD yang setengah berlari menuju sekolah mereka.
Di rumahnya yang hangat, Imer Natalia Lumamuly memulai pagi dengan doa bersama keluarga. "Di keluarga kami, pagi selalu diawali dengan doa. Baru setelah itu masing-masing beraktivitas," ujar Ibu Imer lembut.
Rumah pun ramai. Sambil Ibu Imer memasak, sang suami dan putrinya yang duduk di kelas 4 SD bergotong-royong mengisi toren dan menyiram halaman.
Ibu Imer mengajar di SD Negeri 217 Kawasi. Berada di wilayah lingkar tambang membuatnya lebih disiplin. Setiap pagi ia berangkat bersama rombongan guru dan siswa lewat bus jemputan yang sudah disediakan.
"Jadi guru butuh kesabaran dan kerja keras," katanya.
Tapi lelah itu lunas saat melihat senyum anak-anak di kelas. Setiap pagi dimulai dengan nyanyian bersama. Di depan papan tulis, ia bukan hanya guru, tapi juga wali kelas yang mendampingi anak dengan kecepatan belajar berbeda.
"Saya bahagia bisa bersama keluarga besar di Kawasi. Orang-orangnya ramah. Bagi saya, mengajar adalah panggilan jiwa. Ada tanggung jawab di pundak saya untuk mencerdaskan anak bangsa," tegasnya.
Bel sekolah usai, langkah Ibu Imer belum berhenti. Ia melanjutkan ke "Taman Ceria", ruang belajar kreatif untuk anak-anak di luar jam sekolah.
Berbeda dari kelas formal, di sini belajar terasa bebas dan menyenangkan. Anak-anak dibimbing membaca, menulis, berhitung, sampai menggambar dengan santai tapi serius.
"Di Taman Ceria semua dirangkul," kata Ibu Imer. "Bagi yang belum lancar baca-tulis-hitung kami dampingi, yang punya potensi khusus juga kami kembangkan."
Bagi Ibu Imer, mengajar bukan hanya pekerjaan. Di tengah hiruk tambang, ia melihat anak-anak Kawasi sebagai masa depan daerah ini.
"Menjadi guru adalah panggilan jiwa. Ada tanggung jawab untuk mencerdaskan anak bangsa. Kalau bukan saya, siapa lagi?" tegasnya.
Komitmen guru seperti Ibu Imer inilah yang jadi pondasi, agar anak-anak Kawasi tak hanya jadi penonton di tanahnya sendiri.
Fenomena boomtown dan wajah baru Kawasi
Langkah riang anak-anak yang berlarian keluar kelas terjadi di tengah sebuah perubahan besar: hilirisasi nikel. Fenomena ini telah mengubah wajah Pulau Obi.
Pertumbuhan Pulau Obi beberapa tahun terakhir menarik perhatian akademisi. Agung Satriyo Nugroho dari Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta menyebut Kawasi tengah mengalami boomtown.
Boomtown adalah ledakan pertumbuhan ekonomi, permukiman, dan jumlah penduduk yang terjadi sangat cepat karena hadirnya industri besar.
"Dari kajian kami, luas kawasan terbangun dan permukiman di Kawasi naik lebih dari dua kali lipat antara 2016 sampai 2024," jelas doktor geografi lulusan UGM ini.
Aktivitas tambang dan smelter yang masif juga memicu migrasi pekerja, mengubah struktur sosial, dan menaikkan kebutuhan infrastruktur.
Perubahan itu dirasakan langsung Eymal Bahsar Demmallino, guru besar dari Universitas Hasanuddin di Makassar, Sulawesi Selatan. Dia terkejut saat kembali ke Kawasi, pada 2024 – setelah 17 tahun berlalu.
"Saya kira salah tempat. Kawasi seperti disulap," kenangnya.
Kini Kawasi Baru lebih tertata. Ada jalan memadai, rumah ibadah, gedung serbaguna, air bersih, dan pasokan listrik gratis untuk warga.
Prof. Eymal menekankan pentingnya penghijauan di tengah pesatnya pembangunan. Soal debu, ia menyebut penanganan lewat penyiraman rutin sudah dilakukan dan sesuai aturan lingkungan.
Di sisi kesehatan, kemajuan paling terasa. Kehadiran Pustu dan layanan medis lengkap, termasuk USG untuk ibu hamil dan dokter, menekan angka kesakitan warga.
"Transformasi kesehatan di Kawasi luar biasa. Kualitas hidup masyarakat benar-benar berubah," kata Eymal.
Pembangunan boleh mengubah wajah desa, tapi yang utama adalah anak-anaknya.
Sore menjelang, bus sekolah melintas mengantar mereka pulang. Di antara jalan yang bersih dan aktivitas industri, keceriaan anak-anak dengan buku di tangan jadi pemandangan paling indah.
"Menggali Mahitala" mengajarkan kita: kekayaan di perut bumi ada habisnya. Tapi ilmu tidak. Di tangan guru seperti Ibu Imer, anak-anak Pulau Obi disiapkan tumbuh kuat, mandiri, dan membanggakan kampung halamannya.