- IHSG naik ke level 6.144 pada Rabu, 30 September 2026, setelah sempat dibuka melemah di awal perdagangan.
- HSBC memperkirakan IHSG berada di level 6.200 pada akhir 2026 karena adanya minat diversifikasi investor.
- Pasar saham terkait AI memiliki daya tarik lebih tinggi akibat pertumbuhan laba perusahaan yang melonjak signifikan.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai berbalik menguat pada awal perdagangan, Rabu, 30 September 2026. meskipun IHSG dibuka melemah ke level 6.118.
Berdasarkan data Stockbit, hingga pukul 09.06 WIB, IHSG berbalik melompat ke level 6.144 atau naik 0,37 persen.
Pada perdagangan waktu itu sebanyak 3,35 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nila transaksi mencapai Rp762,85 miliar serta frekuensi sebesar 126.250 kali.
Di waktu itu, terdapat 398 saham menghijau, sedangkan, 183 saham merosot. Sisanya, 382 saham masih belum bergerak alias stagnan.
![IHSG ditutup melemah 94,42 poin atau 1,21 persen ke posisi 7.736,07 pada penutupan perdagangan Senin (1/9/2025). [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/09/01/53454-ihsg-ditutup-melemah-9442-poin.jpg)
Adapun, berikut beberpa saham yang Top Gainer dan Loser di waktu itu:
Top Gainer
- SAFE
- BSWD
- REAL
- ASGR
- STRK
Top Loser
- SOSS
- FORU
- DADA
- GOTO
- ALDO
Proyeksi IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramal akan bergerak terbatas pada akhir tahun. IHSG akan melalui sejumlah tantangan sebelum berpotensi bergerak lebih tinggi.
Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC, Herald van der Linde, mengatakan IHSG diperkirakan akan berada di level 6.200 pada akhir 2026.
Menurutnya, posisi IHSG saat ini berada di sekitar level 6.118. Dengan target tersebut, potensi kenaikan IHSG hingga akhir tahun relatif tidak terlalu besar.
"Target indeks IHSG berada di level sekitar 6.200 pada akhir tahun ini. Saat ini, kalau tidak salah, IHSG berada di sekitar 6.120,” kata Herald dalam media briefing HSBC, di Jakarta, Selasa (29/10/2026).
Ia melanjutkan, investor mulai kembali memperhatikan pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut membuka peluang masuknya kembali aliran modal ke pasar domestik.
Apalagi, bilang Herald, Indonesia juga dapat menjadi salah satu alternatif bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi dari pasar saham yang tengah mendapat dorongan besar dari tren kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
"Anda mulai melihat investor kembali memperhatikan Indonesia, salah satunya sebagai semacam strategi investasi yang berlawanan dengan tren AI," bebernya.
Herald menamabhakan pasar saham Indonesia masih berada di kelompok tengah apabila dibandingkan dengan sejumlah pasar saham di kawasan Asia. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah pertumbuhan laba perusahaan.
Pasar yang mendapat dorongan dari perkembangan AI dinilai memiliki daya tarik lebih besar karena mencatat pertumbuhan laba perusahaan yang jauh lebih tinggi.
"Jika melihat parameter lain di kawasan, seperti pertumbuhan laba dan valuasi, pasar yang berkaitan dengan AI terlihat sangat menarik karena laba perusahaan-perusahaan tersebut benar-benar melonjak," tukasnya.