- Rupiah Rp18.000 bikin pembeli HP makin hitung kebutuhan dan uang.
- Konsumen mulai lirik merek murah dan menunggu harga turun.
- HP lama dipertahankan selama masih bisa dipakai untuk kebutuhan dasar.
Suara.com - Pelemahan rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS mulai terasa di pasar ponsel. Bukan hanya soal harga, konsumen di kawasan Klender, Jakarta Timur, kini mulai mengubah cara mereka berbelanja dan lebih banyak membandingkan harga, memilih merek yang lebih murah, hingga menunda pembelian.
Di toko ponsel Lucky Cell, keputusan membeli ponsel tak lagi semata ditentukan oleh spesifikasi atau merek. Kondisi keuangan menjadi pertimbangan utama.
Heru, salah satu calon pembeli, mengaku kini lebih banyak melihat-lihat sebelum memutuskan membeli ponsel.
"Iya, kita pertimbangkan, tergantung kebutuhan. Tapi lihat juga keuangannya," ujar Heru saat ditemui Suara.com, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, ponsel baru belum menjadi kebutuhan mendesak selama perangkat yang digunakan masih dapat menunjang aktivitas dasar seperti menerima telepon dan berkirim pesan melalui WhatsApp.
"Buat apa ganti yang baru kalau nggak ada penghasilan," katanya.
Heru juga mengaku lebih memperhatikan harga ketimbang merek. Ponsel dari merek besar seperti Samsung dan Oppo dinilainya relatif mahal. Namun, seiring waktu, model baru dengan fungsi yang mirip biasanya hadir dengan harga lebih terjangkau.
"Banyak orang nyari yang lebih murah, muatannya banyak, untuk macam-macam bisa," ujarnya.
Promo dan potongan harga pun belum otomatis membuatnya membuka dompet. Heru justru memilih mengamati pergerakan harga karena menurutnya harga ponsel bisa turun beberapa bulan setelah peluncuran.
"Wah, HP yang harganya tinggi, Samsung atau Oppo, kok turun harganya? Kadang kita cuma ngeliat aja," tuturnya.
Di tengah tekanan ekonomi, keputusan membeli ponsel akhirnya bergeser dari soal keinginan menjadi soal prioritas. Heru memilih memastikan kebutuhan sehari-hari terpenuhi sebelum mengganti perangkat.
"Untuk beli sih agak susah juga karena kondisi keuangan. Stabilkan dulu keuangan kita," katanya.
Ia bahkan menilai ponsel lama masih cukup digunakan selama fungsi utamanya berjalan.
"Kalau sehari-hari makan aja susah, buat apa beli HP," ujarnya.
Reporter: Fika Nur Rizki