- Rupiah dibuka melemah ke level Rp17.906 per dolar AS pada perdagangan hari Kamis, 1 Oktober 2026.
- Sentimen global akibat penguatan data ekonomi Amerika Serikat menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar.
- Investor domestik turut mewaspadai rilis data inflasi dan perdagangan Indonesia yang berpotensi menembus Rp18.000.
Suara.com - Nilai tukar rupiah berbalik tertekan pada awal perdagangan, Kamis, 1 Oktober 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka ke level Rp17.906 per dolar AS, melemah 0,12 poin atau turun 0,17 persen
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan rupiah terkena sentimen data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menguat, yang berimbas pada penguatan dolar AS.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat setelah revisi data PDB AS yang lebih kuat dari perkiraan," katanya saat dihubungi Suara.com.
![Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (29/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/29/35454-nilai-tukar-rupiah-ilustrasi-dolar-ilustrasi-dollar-ilustrasi-rupiah.jpg)
Lukman menambahkan, selain dari global, domestik juga ikut menekan rupiah. Sehingga, mata uang Garuda diramal bisa kembali lagi tembus Rp18.000.
"Dari domestik, investor juga mewaspadai rilis data inflasi dan perdagangan Indonesia siang ini. Range rupiah Rp17.840 - Rp 18.000," jelasnya.
Sementara itu, Jepang menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,47 persen terhadap the greenback. Selanjutnya ada won Korea Selatan dan baht Thailand yang sama-sama tertekan 0,26 persen.
Disusul, dolar Singapura yang terkoreksi 0,16 persen. Berikutnya, peso Filipina yang terdepresiasi 0,13 persen serta ringgit Malaysia turun 0,1 persen. Diikuti, dolar Hong Kong yang melemah tipis 0,001 persen.