- 26,6% warga RI masih kesulitan membiayai layanan kesehatan.
- Biaya kesehatan Rp175 triliun, 12,8 juta orang terancam miskin.
- Biaya perawatan penyakit pernapasan naik 106,3% dalam dua tahun.
Suara.com - Biaya kesehatan menjadi salah satu tekanan yang berpotensi menggerus keuangan masyarakat Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 26,6% masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan dalam membiayai layanan kesehatan pada 2025.
Pengeluaran kesehatan yang dibayar langsung masyarakat atau out-of-pocket diperkirakan mencapai Rp175 triliun. Beban tersebut bahkan membuat sekitar 12,8 juta penduduk Indonesia berisiko jatuh miskin akibat biaya kesehatan.
Persoalan biaya juga dapat mendorong masyarakat menunda pemeriksaan. Studi Prudential plc bersama Economist Impact bertajuk "Suara Pasien Indonesia" menunjukkan 9 dari 10 responden mengaku pernah menunda perawatan, sementara hampir separuhnya melakukannya berulang kali.
Penundaan tidak selalu disebabkan masyarakat mengabaikan kesehatan. Studi tersebut mencatat sejumlah hambatan, mulai dari minimnya informasi hingga kebutuhan keluarga yang dianggap lebih mendesak. Biaya menjadi salah satu pertimbangan yang turut memengaruhi keputusan tersebut.
Risikonya semakin besar ketika penyakit baru terdeteksi pada kondisi yang lebih serius. Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 80% pasien kanker baru terdiagnosis pada stadium tiga atau empat. Pada kasus tuberkulosis (TBC), keterlambatan diagnosis juga dapat memperpanjang risiko penularan.
Tekanan biaya semakin terasa seiring meningkatnya biaya perawatan. Berdasarkan data industri asuransi Indonesia, rata-rata biaya perawatan penyakit pernapasan meningkat 106,3%, dari Rp49,9 juta pada 2023 menjadi Rp103 juta pada 2025.
Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth mengatakan kondisi tersebut menunjukkan perlunya masyarakat memandang perlindungan kesehatan sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
"Di tengah tingginya biaya pengobatan dan perawatan rumah sakit di Indonesia, memilih produk asuransi kesehatan dari perusahaan yang mampu memberikan perlindungan kesehatan sekaligus mendampingi Nasabah dalam tiap tahapan, menjadi bagian penting dari perencanaan keuangan keluarga," kata Yosie.
Ia menilai perlindungan kesehatan diperlukan agar biaya pengobatan tidak mengorbankan tabungan maupun tujuan keuangan keluarga ketika risiko medis muncul secara tidak terduga.
Prudential Indonesia mencatat sebanyak 4.570 nasabah, tenaga pemasar, dan karyawan mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis melalui mini medical check-up pada Januari-Agustus 2026. Perusahaan juga menyebut program PRUActive telah mengajak lebih dari 60.000 masyarakat berolahraga bersama sejak 2023.
Salah satu nasabah, Doni Kurniawan, mengatakan pernah menggunakan fasilitas mini medical check-up dan mengajukan klaim ketika menjalani operasi pada akhir 2025. Menurutnya, biaya operasi sekitar Rp35 juta hingga perawatan pascaoperasi ditanggung oleh Prudential.
Di tengah biaya medis yang terus meningkat, persoalan kesehatan akhirnya tidak hanya berkaitan dengan risiko penyakit, tetapi juga kemampuan rumah tangga menjaga kondisi keuangannya ketika harus membayar perawatan.