- PT PLN EPI meluncurkan inovasi Biomassa dari Desa di Cilacap guna memasok kebutuhan PLTU.
- Program ini melibatkan petani dan BUMDes untuk memanfaatkan lahan marjinal serta meningkatkan pendapatan warga.
- PLN EPI menargetkan pasokan 15.000 ton biomassa per tahun melalui ekspansi ke berbagai wilayah Indonesia.
Suara.com - Limbah pertanian, perkebunan, dan kehutanan berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat desa. Melalui inovasi Biomassa dari Desa (Biodes), PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendorong desa masuk ke dalam rantai pasok energi, mulai dari produksi bahan baku hingga pengiriman biomassa ke pembangkit listrik.
Program ini tidak hanya ditujukan untuk mendukung pasokan biomassa bagi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menerapkan cofiring, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi petani, pemasok, dan badan usaha milik desa (BUMDes).
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, mengatakan Biodes dikembangkan untuk mengintegrasikan potensi biomassa desa, pertanian terpadu, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan rantai pasok.
“Inovasi Biodes merupakan wujud komitmen PLN EPI dalam membangun ekosistem biomassa yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan energi, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Mamit dilansir dari laman Antara, Sabtu (3/10/2026).
Targetkan Pasokan 15.000 Ton Biomassa per Tahun
PLN EPI menargetkan Biodes dapat dikembangkan hingga 100 desa secara bertahap. Program ini diharapkan memperkuat ketersediaan biomassa untuk kebutuhan pembangkit sekaligus menciptakan peluang usaha di tingkat lokal.
Dalam proyeksi awalnya, Biodes berpotensi menghasilkan tambahan pasokan biomassa hingga 15.000 ton per tahun, melibatkan 330 petani, memanfaatkan 106 hektare lahan marjinal, serta membuka 25 lapangan kerja baru.
Program tersebut juga diproyeksikan menambah pendapatan petani kecil hingga Rp100.000 per hari per pekerja. Namun, angka-angka tersebut merupakan proyeksi program, bukan jaminan pendapatan yang diterima setiap petani.
Untuk mencapai target tersebut, PLN EPI tidak hanya mengandalkan limbah yang sudah tersedia. Perusahaan juga mendorong penanaman tanaman energi melalui pola tumpang sari dengan tanaman pangan agar produksi biomassa dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas pertanian.
Officer Strategi dan Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI, Khalda Az Zahra, mengatakan pendekatan tersebut dirancang agar keberlanjutan pasokan energi tidak mengabaikan manfaat ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat.
“Tidak hanya mengandalkan limbah yang sudah tersedia, Biodes juga mendorong penanaman tanaman energi secara tumpang sari dengan tanaman pangan, sehingga aspek keberlanjutan pasokan biomassa dapat berjalan beriringan dengan manfaat ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat desa,” ujarnya.
Berawal dari 106 Hektare Lahan di Cilacap
Implementasi awal Biodes dimulai di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sejak 2023 dengan memanfaatkan lahan seluas 106 hektare.
Program ini dijalankan melalui sejumlah tahapan, mulai dari survei dan sosialisasi, penerapan pertanian terpadu, panen dan pengumpulan hasil di tingkat subhub, hingga produksi biomassa melalui BUMDes. Biomassa yang dihasilkan kemudian dikirim ke PLTU Adipala di Cilacap.
Model tersebut menempatkan masyarakat desa sebagai bagian dari proses produksi, bukan sekadar penyedia bahan mentah. Petani dapat terlibat dalam budidaya tanaman energi, sementara BUMDes dan pemasok berperan dalam pengumpulan serta pengolahan hasil sebelum dikirim ke pembangkit.
PLN EPI juga mengembangkan sistem rantai pasok berbasis spoke-hub. Melalui model ini, biomassa dari berbagai sumber di desa dikumpulkan dan dikonsolidasikan di titik pengumpulan sebelum disalurkan ke pembangkit.
![Biodes dari PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI). [Antara/HO-PT PLN EPI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/03/37961-biodes-dari-pt-pln-energi-primer-indonesia-pln-epi.jpg)
Pengelolaan tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi logistik sekaligus menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pasokan. Digitalisasi melalui platform marketplace juga menjadi bagian dari pendekatan yang dikembangkan untuk mengintegrasikan rantai pasok biomassa.
Pasokan Biomassa Masih Menghadapi Kesenjangan
Pengembangan Biodes juga berkaitan dengan kebutuhan biomassa untuk mendukung program cofiring di pembangkit listrik.
Mengacu pada data Kementerian ESDM tahun 2022 yang digunakan dalam pengembangan program, potensi biomassa berbasis limbah siap pakai diperkirakan mencapai titik jenuh sekitar 2,4 juta ton. Sementara itu, masih terdapat kesenjangan pasokan sekitar 7,6 juta ton untuk memenuhi target cofiring dalam RUPTL 2025–2034.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan PLN EPI mengembangkan sumber biomassa tambahan, termasuk melalui budidaya tanaman energi di lahan kering atau marjinal.
Perusahaan menyiapkan enam pendekatan utama dalam Biodes, yaitu optimalisasi potensi biomassa desa, penanaman tanaman energi dengan pola tumpang sari, pengembangan rantai pasok spoke-hub, peningkatan kualitas dan kuantitas biomassa, digitalisasi berbasis marketplace, serta integrasi desa dengan industri.
Dari sisi lingkungan, program ini diproyeksikan berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca sekitar 6.750 ton CO2e.
Ekspansi ke Jawa hingga Luar Pulau Jawa
Setelah implementasi awal di Cilacap, PLN EPI berencana memperluas Biodes ke sejumlah desa di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Pengembangan berikutnya akan dilakukan bersama mitra pemasok di luar Pulau Jawa serta diperluas ke berbagai lokasi PLTU yang menerapkan cofiring.
Ekspansi tersebut akan menentukan sejauh mana model yang diterapkan di Cilacap dapat direplikasi di wilayah lain dengan kondisi lahan, sumber biomassa, dan rantai distribusi yang berbeda.

Bagi PLN EPI, pengembangan biomassa berbasis desa tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan energi. Program ini juga diarahkan untuk membuka peluang bisnis baru melalui pemanfaatan sumber daya lokal.