- Ekspor minyak Timur Tengah per akhir September 2026 mencapai 22,5 juta barel per hari, melampaui level sebelum konflik.
- Harga minyak mentah Brent pada 5 Oktober 2026 masih bertahan di atas 101 dolar per barel akibat berbagai faktor.
- Tingginya harga minyak disebabkan oleh kekhawatiran pasar, lonjakan biaya transit, penipisan cadangan, krisis BBM, dan inflasi.
Suara.com - Kucuran minyak mentah dari Timur Tengah sudah melewati level normal, lebih banyak dari sebelum Amerika Serikat menyerang Iran pada Februari lalu dan memicu konflik di Timur Tengah hingga saat ini.
Langkah Iran menutup Selat Hormuz, jalur yang dilewati 20 persen minyak dunia, sejak awal konflik memicu naiknya harga minyak sepanjang tahun ini. Tapi dengan mulai normalnya aliran minyak di Hormuz, mengapa harga minyak masih tinggi?
Per Senin (5/10/20206) harga minyak mentah Brent masih di atas 101 dolar per barel - sekitar 40 persen lebih mahal ketimbang harga sebelum konflik.
Tingginya harga minyak ini memberikan tekanan terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia yang di ABPB 2026 diasumsikan hanya 76 dolar.
Bagaimana situasinya sekarang?
Menurut data firma intelijen perkapalan Kpler, yang dilansir dari Reuters, Senin (5/10/2026), ekspor minyak dari Timur Tengah pada 24 September sudah mencapai 19,5 juta barel per hari dan tembus 22,5 juta barel per hari di periode 27 - 29 September kemarin.
Jumlah ini sudah melampaui ekspor minyak di periode sebelum perang, yang rata-rata 18 juta barel per hari.
Aliran minyak ini melewati tidak hanya Selat Hormuz, tapi juga via Laut Merah.
Lalu mengapa harga minyak masih mahal?
Menurut para analis, seperti yang dirangkum dari Bloomberg dan The Economist ada setidaknya lima alasan mengapa harga minyak masih mahal saat ekspor minyak dari Timur Tengah sudah kembali normal.
- Pasar masih ketakutan
Pasar minyak dunia masih khawatir bahwa perang antara AS dan Iran akan kembali berkobar. Apa lagi AS sedang mengirim satu kapal induk lagi ke Timur Tengah, untuk membantu dua kapal induk yang sejak awal perang sudah bercokol di sekitar Iran.
Di saat aliran minyak negara-negara Arab kembali mengalir di Selat Hormuz, Iran di sisi lain tak bisa mengekspor minyak dan membuat kondisi ekonominya semakin memburuk. Situasi ini dikhawatirkan akan membuat Teheran mengamuk dan kembali menyerang negara-negara tetanggannya untuk meningkatkan posisi tawarnya dalam negosiasi damai dengan AS. - Biaya transit
Kedua adalah biaya transit. Saat ini, kapal-kapal minyak negara-negara Arab mengekspor muatan mereka menggunakan metode ship-to-ship (STS) transfer dan via rute alternatif.
STS kini menjadi cara utama negara seperti Arab Saudi, Irak dan Uni Emirat Arab untuk mengekspor minyak. Saudi misalnya mengerahkan kapal-kapal perusahaan pemerintah untuk membawa minyak melewati Selat Hormuz di bawah kawalan militer AS dan memindahkannya ke kapal-kapal tanker lain yang menunggu di luar Selat Hormuz.
Cara ini meskipun aman, tapi lebih mahal karena tingginya risko yang kemudian mengerek biaya asuransi. Menurut Bloomberg, biaya untuk mengangkut minyak dari Selat Hormuz ke China kini mencapai 1,2 juta miliar dolar AS per hari, naik dari sekitar 80.000 dolar AS per hari pada tahun lalu. - Cadangan menipis
Cadangan minyak dunia saat ini juga sudah menipis. Simpanan minyak dunia kini tinggal sekitar 4,3 miliar barel, turun 400 juta barel sejak Maret lalu.
Di sisi lain permintaan terus naik. Kebutuhan minyak dunia kini mencapai 104,8 juta barel per hari, naik 6,5 juta barel dibandingkan pada Mei lalu, momen di mana permintaan minyak dunia mencapai titik terendah selama periode perang di Timur Tengah. - Krisis BBM
Meskipun aliran minyak mentah dari Timur Tengah meningkat, tapi yang dialami dunia saat ini adalah juga krisis BBM atau produk bahan bakar hasil olahan minyak mentah. Bebeberap negara di dunia, termasuk AS, kini mengalami krisis solar.
Pemicunya adalah berkurangnya produksi dari Timur Tengah dan Rusia, yang kilang-kilang minyaknya menjadi sasaran drone-drone Ukraina. - Inflasi
Para investor kini melirik pasar minyak dunia sebagai peranti lindung nilai inflasi. Dinamika ini terjadi di tengah tren naiknya imbal hasil (yield) obligasi. Ini memang tidak secara langsung meningkatkan permintaan terhadap minyak, tetapi tetap saja mendorong naik harga minyak.
Kabar baik dari Saudi
Di tengah kabar yang bikin ciut, masih ada kabar baik dari Arab Saudi. Riyadh pada pekan ini mengumumkan akan memberikan diskon sebesar 5 dolar AS per barel untuk pasar Asia mulai November, tapi di sisi lain menaikkan harga untuk pasar Eropa dan Mediterania.
Diskon ini adalah yang terbesar yang pernah diberikan Saudi sejak Juni 2020 lalu. Sejumlah sumber Reuters mengatakan diskon itu diberikan sebagai kompensasi atas melonjaknya biaya sewa kapal tanker.