- Harga minyak dunia pada Kamis (8/10) pagi menguat karena kekhawatiran gangguan pasokan dan konflik.
- Badai di pesisir Teluk Amerika Serikat dan konflik Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak tersebut.
- Kenaikan harga tertahan rencana IEA melepas cadangan darurat, meski Brent dan WTI tetap naik 0,9 persen.
Suara.com - Harga minyak dunia bergerak menguat pada perdagangan Kamis (8/10) pagi, terdorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan akibat cuaca ekstrrem di pesisir Teluk Amerika Serikat (AS) serta eskalasi konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah.
Kendati demikian, kenaikan harga minyak mentah sempat tertahan oleh rencana Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) untuk melepas cadangan minyak darurat ke pasar.
Mengutip dari Investing.com, kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Desember naik 0,9 persen menjadi 101,10 dolar AS per barel.
Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November juga mencatatkan kenaikan 0,9 persen ke level 89,08 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak ini terutama ditopang oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan produksi akibat badai di pesisir Teluk AS.
Layanan Cuaca Nasional AS memperkirakan Badai Tropis Isaias akan dengan cepat meningkat menjadi angin topan berbahaya dan menghantam pantai utara Teluk pada akhir pekan ini.
![Ilustrasi harga minyak dunia. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/05/54068-ilustrasi-harga-minyak-dunia.jpg)
Badai tersebut diproyeksikan membawa curah hujan tinggi serta angin kencang di kawasan Teluk Meksiko. Sejumlah perusahaan minyak dan gas besar, termasuk BP, Chevron, dan Shell, dilaporkan telah mengevakuasi personel non-esensial dari fasilitas lepas pantai mereka di wilayah tersebut.
Laporan yang dikutip dari Reuters memperkirakan potensi hilangnya produksi minyak hingga mencapai 11,2 juta barel di kawasan Teluk selama badai berlangsung.
Di sisi lain, data yang dirilis pada Rabu (7/10) menunjukkan cadangan minyak mentah AS turun 3,2 juta barel pada pekan yang berakhir 2 October, berlawanan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan adanya kenaikan.
Laju penguatan harga minyak sempat tertahan setelah IEA menyatakan komitmennya untuk segera merampungkan pelepasan 400 juta barel cadangan minyak yang sebelumnya telah diumumkan, di mana sekitar 100 juta barel di antaranya akan segera diserap oleh pasar.
Namun, kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah tetap menjaga tren positif harga minyak mentah.
Data terbaru dari Operasi Perdagangan Maritim Inggris (United Kingdom Maritime Trade Operations) mencatat peningkatan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Selain itu, konflik yang terus berlangsung antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran turut membuat pasar siaga terhadap risiko pasokan, menyusul insiden serangan terhadap sebuah kilang minyak di Riyadh awal pekan ini.
Meskipun demikian, pasokan dari Timur Tengah terpantau sempat meningkat pada September, dengan arus pengiriman melalui Selat Hormuz sempat melampaui level sebelum perang.