- Harga minyak mentah dunia menembus 105 dolar AS per barel akibat konflik di Timur Tengah.
- Badai Tropis Isaias memaksa produsen menutup fasilitas produksi minyak lepas pantai di Teluk Meksiko.
- Lonjakan harga energi memicu koreksi di bursa saham global serta melemahkan indeks S&P 500.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan hingga menembus level di atas 105 dolar AS per barel, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Berdasarkan laporan New York Time yang dikutip pada Jumat (9/10/2026), patokan global minyak mentah Brent sempat melompat naik sekitar 4 persen pada perdagangan hari Kamis (8/10/2026).
Sebelum akhirnya sedikit mereda setelah Presiden Amerika Serikat menyatakan tidak akan mengambil tindakan militer terhadap Iran dalam waktu dekat.
Kenaikan harga energi ini turut berdampak pada pasar keuangan global, di mana indeks S&P 500 ditutup melemah sekitar 0,5 persen, sementara bursa saham di Eropa dan Asia turut mengalami koreksi.
Lonjakan harga minyak tersebut dipicu oleh memanasnya situasi keamanan di jalur perdagangan energi utama.
Ibu kota Arab Saudi dilaporkan sempat dikejutkan oleh serangan rudal balistis yang diluncurkan oleh milisi Houthi yang didukung Iran ke arah bandara Riyadh.

Situasi ini memperparah risiko pengapalan minyak melalui Laut Merah, yang selama ini menjadi jalur alternatif pengiriman di tengah ketatnya pengawasan di kawasan Teluk.
Di saat bersamaan, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menghadapi ancaman serius setelah setidaknya delapan kapal tanker dilaporkan menjadi sasaran serangan dalam sepekan terakhir.
Insiden tersebut mencakup serangan drone terhadap kapal tanker di perairan utara Qatar serta hantaman proyektil misterius di dekat pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab, yang memicu kekhawatiran potensi tumpahan minyak.
Senior Vice President, Jorge Leon, di firma konsultan Rystad Energy, menilai bahwa pasar minyak merespons negatif eskalasi konflik di kawasan Laut Merah dan ancaman geopolitik yang terus berlanjut.
"Situasi di Laut Merah memanas dengan buruk, dan pasar memiliki ekspektasi bahwa serangan terhadap infrastruktur pengapalan akan terus meningkat," ujarnya.
Selain faktor geopolitik Timur Tengah, pasar energi juga tertekan oleh gangguan produksi di kawasan Teluk Meksiko akibat Badai Tropis Isaias yang bergerak menuju pesisir Amerika Serikat.
Badai tersebut memaksa sejumlah produsen minyak dan gas menutup sebagian besar fasilitas produksi lepas pantai yang menyumbang sekitar 15 persen dari total pasokan minyak mentah AS.
Gejolak di pasar energi ini turut meningkatkan tekanan di pasar keuangan global, mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat melonjak hingga 5,34 persen pada hari Kamis sebelum akhirnya kembali melandai.
Kenaikan biaya pinjaman ini terjadi di tengah langkah bank sentral global yang bersiap menempuh pengetatan kebijakan moneter lanjutan guna meredam laju inflasi.