- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan penurunan harga minyak dunia membutuhkan waktu dua minggu untuk berdampak pada harga BBM domestik.
- Harga minyak dunia merosot pada Senin (12/10/2026) akibat ekspektasi peningkatan pasokan diesel dari Rusia yang disampaikan Presiden AS Donald Trump.
- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa BBM bersubsidi hanya diperuntukkan bagi masyarakat tidak mampu, bukan untuk golongan orang kaya.
Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut harga BBM tak langsung turun, meski harga minyak dunia terus merosot.
Menurutnya, butuh waktu penyesuaian selama dua minggu rembesan penurunan harga minyak dunia ke harga BBM di dalam negeri. Skema ini berlaku juga ketika harga minyak alami kenaikan.
'Kenapa harga belum turun? Saya bilang, BBM itu kalau dia (minyak) turun hari ini, kan 2 minggu baru dapat penyesuaiannya. Begitupun naiknya, kalau dia naik hari ini belum turun hari ini juga. Dua minggu berlaku penyesuaian," ujarnya saat ditemui di Djakarta Theater, Senin (12/10/2026).
![Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. [Suara.com/Achmad Fauzi].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/12/49568-bahlil-lahadalia-esdm.jpg)
Di sisi lain, Bahlil mengingatkan, para orang kaya untuk tidak menikmati BBM subsidi. Ia menegaskan, BBM subsidi hanya diperuntukan orang yang tidak mampu.
Bahlil pun melihat, orang kaya dengan gaya perlentenya akan malu jika menikmati BBM subisidi seperti Pertalite.
"Tapi untuk BBM yang orang kaya, ya harus pakai harga pasar. Nggak mungkin pakai BBM subsidi. Kan, kantong bagus. Masa kantong bagus mau pakai barang subsidi? Sory ya," ucapnya.
Mengutip Reuters, Harga minyak dunia turun pada perdagangan Senin (12/10/2026), seiring ekspektasi peningkatan pasokan dari Rusia. Pergerakan harga ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Rusia akan memasok diesel ke pasar AS dan global, serta Ukraina dan Rusia telah menyepakati penghentian serangan terhadap fasilitas energi masing-masing.
Harga minyak mentah Brent berjangka turun 22 sen atau 0,2 persen menjadi 104,50 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 40 sen atau 0,4 persen menjadi 91,45 dolar AS per barel.
Kedua patokan minyak tersebut bahkan sempat turun lebih dari 1 persen pada awal perdagangan.
Selain harga minyak mentah, kontrak berjangka gasoil ICE juga melemah 4,6 persen menjadi 1.415 dolar AS per metrik ton. Penurunan ini terjadi setelah Trump pada Jumat (9/10/2026) mengatakan Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 metrik ton diesel atau setara 2,25 juta barel ke pasar AS dan global, dengan tambahan pasokan menyusul.
Namun, dampak langsung dari tambahan pasokan tersebut masih dipertanyakan oleh pelaku pasar.
Analis PVM, Tamas Varga, menilai kapasitas penyulingan minyak Rusia telah mengalami penurunan signifikan sehingga kemampuan negara tersebut untuk meningkatkan pasokan diesel masih menjadi perhatian.
"Dampak langsung dari kesepakatan ini masih diragukan, karena kapasitas penyulingan Rusia telah berkurang drastis," kata Varga.
Meski demikian, Moskow telah mencabut sebagian pembatasan ekspor diesel. Kebijakan tersebut memungkinkan sekitar 500.000 ton diesel atau setara 3,7 juta barel dipasarkan ke pasar internasional.
Menurut Varga, volume tersebut setara dengan konsumsi diesel AS selama sekitar satu hari dan sekitar 13 persen dari permintaan global.